Allah Ta’ala telah mengutamakan sebagian waktu (zaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (jaman) maupun tempat”[1].
Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah Ta’ala utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam.
Sungguh Allah Ta’ala memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya[2].
Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Bulan Ramadhan?
Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka[3].
Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan ingin meraih ridha-Nya.
Dan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini[4].
Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)”[5].
Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”[6].
Dulunya, para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah Ta’ala. Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”[7].
Maka hendaknya seorang muslim mengambil teladan dari para ulama salaf dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhaan dari Allah Ta’ala, agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah Ta’ala dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”[8].
Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Ta’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya.
Tapi persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[9].
Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”[10].
Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja”[11].
Meraih Takwa dan Kesucian Jiwa dengan Puasa Ramadhan
Hikmah dan tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai takwa kepada Allah Ta’ala[12], yang hakikatnya adalah kesucian jiwa dan kebersihan hati[13]. Maka bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi seorang muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).
Imam Ibnu Katsir berkata, “Dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”[14].
Lebih lanjut, Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:
- Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).
- Orang yang berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Ta’ala), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.
- Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah[15], maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.
- Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah Ta’ala), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.
- Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa[16].
Bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri memiliki sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat ini sangat agung kedudukannya dalam Islam, bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau, “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”[17].
Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran)[18]. Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas[19], sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya”[20].
Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
{إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).
Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau,“Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”[21].
Penutup
Demikianlah nasehat ringkas tentang keutamaan bulan Ramadhan, semoga bermanfaat bagi semua orang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala dan mengharapkan ridha-Nya, serta memberi motivasi bagi mereka untuk bersemangat menyambut bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan mempersiapkan diri dalam perlombaan untuk meraih pengampunan dan kemuliaan dari-Nya, dengan bersungguh-sungguh mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah-ibadah agung yang disyariatkan-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada setiap malam (di bulan Ramadhan) ada penyeru (malaikat) yang menyerukan: Wahai orang yang menghendaki kebaikan hadapkanlah (dirimu), dan wahai orang yang menghendaki keburukan kurangilah (keburukanmu)!”[22].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
NAMPANG DI PEMATANG SAWAH
ECTION DULU YACH...!!!
Selasa, 10 Agustus 2010
Amalan dan Keutamaan Bulan Sya’ban Sebelum Ramadhan
Mari kita sambut bulan Ramadhan yang penuh berkah mulai bulan Sya’ban ini. Kita persiapkan diri kita baik fisik dan rohani untuk bulan yang penuh karunia tersebut. Mempersiapkan rohani kita adalah dengan mulai mempelajari hal-hal penting yang perlu kita amalkan selama bulan tersebut. Kita buka kembali pelajaran fiqhus-syiyam kita, yaitu fikih berpuasa yang benar dan sesuai ajaran. Kita sadarkan diri dan kesadaran kita akan pentingnya bulan tersebut bagi agama dan keimanan kita.
Secara fisik, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan melatih diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah satu hikmah kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban ini. Dan di bulan Sya’ban ini juga ada malam nisfu sya’ban, yaitu malam pertengahan bulan Sya’ban. Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai amalan pada malam tersebut, namun malam itu bisa kita jadikan waktu pengingat kembali akan persiapan-persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh maghfirah. Berikut ini hadist-hadist seputar keutamaan bulan Sya’ban semoga bisa kita baca dan amalkan.
Anjuran Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban :
Dari Aisyah r.a. beliau berkata:”Rasulullah SAW berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban”. (h.r. Bukhari). Beliau juga bersabda:”Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.
Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW:’Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban?‘. Rasulullah SAW menjawab:”Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (h.r. Abu Dawud dan Nasa’i).
Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban :
Dari A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi). Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.
Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal (keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan keutamaan bulan Sya’ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keutamaan dibandingkan dengan malam-malam lainnya.
Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban?
Adalah dengan memperbanyak ibadah dan salat malam dan dengan puasa. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka’bah.
Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan amal-amal salih lainnya. Wallahu a’lam.
Keutamaan di Bulan Sya’ban :
Sya’ban adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan.
Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan. Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan.
Karena letaknya yang mendekati bulan Ramadhan, bulan Sya’ban memiliki berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan. Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda :
”Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rajab dan Ramadhan.
Karenanya, pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini, sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).
Dari sinilah umat Islam berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Sehingga terciptalah tradisi saling mengirim parcel di antara umat Islam.
Karena di kalangan umat Islam Nusantara, bulan Sya’ban dinamakan sebagai bulan Ruwah, maka tradisi saling kirim parcel makanan ini dinamakan sebagai Ruwahan. Tradisi ini menyimbolkan persaudaraan dan mempererat ikatan silaturrahim kepada sesama Muslim.
Nishfu Sya’ban
Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah. Keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nishfu Sya’ban. Secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban.
Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.
Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.
Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.
Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
Secara fisik, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan melatih diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah satu hikmah kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban ini. Dan di bulan Sya’ban ini juga ada malam nisfu sya’ban, yaitu malam pertengahan bulan Sya’ban. Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai amalan pada malam tersebut, namun malam itu bisa kita jadikan waktu pengingat kembali akan persiapan-persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh maghfirah. Berikut ini hadist-hadist seputar keutamaan bulan Sya’ban semoga bisa kita baca dan amalkan.
Anjuran Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban :
Dari Aisyah r.a. beliau berkata:”Rasulullah SAW berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban”. (h.r. Bukhari). Beliau juga bersabda:”Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.
Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW:’Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban?‘. Rasulullah SAW menjawab:”Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (h.r. Abu Dawud dan Nasa’i).
Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban :
Dari A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi). Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.
Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal (keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan keutamaan bulan Sya’ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keutamaan dibandingkan dengan malam-malam lainnya.
Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban?
Adalah dengan memperbanyak ibadah dan salat malam dan dengan puasa. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka’bah.
Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan amal-amal salih lainnya. Wallahu a’lam.
Keutamaan di Bulan Sya’ban :
Sya’ban adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan.
Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan. Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan.
Karena letaknya yang mendekati bulan Ramadhan, bulan Sya’ban memiliki berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan. Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda :
”Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rajab dan Ramadhan.
Karenanya, pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini, sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).
Dari sinilah umat Islam berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Sehingga terciptalah tradisi saling mengirim parcel di antara umat Islam.
Karena di kalangan umat Islam Nusantara, bulan Sya’ban dinamakan sebagai bulan Ruwah, maka tradisi saling kirim parcel makanan ini dinamakan sebagai Ruwahan. Tradisi ini menyimbolkan persaudaraan dan mempererat ikatan silaturrahim kepada sesama Muslim.
Nishfu Sya’ban
Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah. Keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nishfu Sya’ban. Secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban.
Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.
Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.
Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.
Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
Senin, 09 Agustus 2010
Mengatur dan Membelanjakan Harta
Agama Islam yang sempurna telah mengatur dan menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum muslimin untuk menyelenggarakan semua urusan dalam hidup mereka, untuk kemaslahatan dan kebaikan mereka dalam urusan dunia maupun agama.
Allah Ta’ala berfirman,
{وَنزلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ}
“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri” (QS an-Nahl:89).
Dan ketika sahabat yang mulia, Salman al-Farisy ditanya oleh seorang musyrik: Sungguhkah nabi kalian (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) adab buang air besar? Salman menjawab: “Benar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau ketika buang air kecil…[1].
Tidak terkecuali dalam hal ini, masalah yang berhubungan dengan mengatur dan membelanjakan rizki/penghasilan, semua telah diatur dalam al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.
Misalnya, tentang keutamaan menginfakkan harta untuk kebutuhan keluarga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ»
“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampaipun makanan yang kamu berikan kepada istrimu”[2].
Kewajiban Mengatur Pembelanjaan Harta
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”[3].
Hadits yang agung ini menunjukkan kewajiban mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk hal-hal yang baik dan diridhai oleh Allah, karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di dunia[4].
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian tiga perkara…(di antaranya) idho’atul maal (menyia-nyiakan harta)[5].
Arti “idho’atul maal” (menyia-nyiakan harta) adalah menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah Ta’ala, atau membelanjakannya secara boros dan berlebihan[6].
Antara Pemborosan dan Penghematan yang Berlebihan
Sebaik-baik cara mengatur pembelanjaan harta adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:
{وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا}
“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS al-Furqaan:67).
Artinya: mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan) hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan sebaik-baik perkara adalah yang moderat (pertengahan)[7].
Juga dalam firman-Nya,
{وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا}
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal” (QS al-Israa’:29).
Imam asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Arti ayat ini: larangan bagi manusia untuk menahan (hartanya secara berlebihan) sehingga mempersulit dirinya sendiri dan keluarganya, dan larangan berlebihan dalam berinfak (membelanjakan harta) sampai melebihi kebutuhan, sehingga menjadikannnya musrif (berlebih-lebihan/mubazir). Maka ayat ini (berisi) larangan dari sikap ifrath (melampaui batas) dan tafrith (terlalu longgar), yang ini melahirkan kesimpulan disyariatkannya bersikap moderat, yaitu (sikap) adil (seimbang) yang dianjurkan oleh Allah”[8].
Waspadai Fitnah (Kerusakan) Harta!
Perlu diwaspadai dalam hal yang berhubungan dengan pembelanjaan harta, fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta tersebut, sebagaimana yang telah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,
«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ»
“Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta”.[9]
Maksudnya: menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya,
{إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ}
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS at-Tagaabun:15)[10].
Kerusakan lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta adalah sifat tamak/rakus dan ambisi untuk mengejar dunia, karena secara tabiat asal nafsu manusia tidak akan pernah merasa puas/cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya, bagaimanapun berlimpahnya[11], kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau: “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga”[12].
Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apapun untuk tujuan tersebut. Sehingga tenaga dan pikirannya akan terus terkuras untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus siksaan besar bagi dirinya di dunia.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya[13].
Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan”[14].
Zuhud dalam Masalah Harta
Zuhud dalam harta dan dunia bukanlah dengan meninggalkannya, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Ta’ala. Akan tetapi zuhud dalam harta adalah dengan menggunakan harta tersebut sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala, tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada harta tersebut. Atau dengan kata lain, zuhud dalam harta adalah tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta yang dimiliki, dengan segera menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah Ta’ala.
Inilah arti zuhud yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya: Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)? Beliau berkata: “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata: Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi”[15].
Salah seorang ulama salaf berkata: “Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan (balasan kebaikan) di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai) maka kamu lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya diakhirat kelak) daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu”[16].
Jangan Lupa Menyisihkan Sebagian Harta untuk Sedekah
Allah Ta’ala berfirman,
{وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}
“Dan apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS Sabaa’:39).
Makna firman-Nya “Allah akan menggantinya” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat[17].
Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ»
“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya”[18].
Arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah Ta’ala jadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hal-hal yang akan merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah Ta’ala di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata”[19].
Maka keutamaan besar ini jangan sampai diabaikan oleh keluarga muslim ketika mereka mengatur pembelanjaan harta, dengan cara menyisihkan sebagian dari rizki yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka, untuk disedekahkan kepada fakir miskin.
Harta yang disisihkan untuk sedekah tidak mesti besar, meskipun kecil tapi jika dilakukan dengan ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya, maka akan bernilai besar di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian (selamatkanlah diri kalian) dari api nereka walaupun dengan (bersedekah dengan) separuh buah kurma”[20].
Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik (meskipun) kecil, walaupun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria”[21].
Dan lebih utama lagi jika sedekah tersebut dijadikan anggaran tetap dan amalan rutin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit”[22].
Nasehat dan Penutup
Kemudian yang menentukan cukup atau tidaknya anggaran belanja keluarga bukanlah dari banyaknya jumlah anggaran harta yang disediakan, karena berapa pun banyaknya harta yang disediakan untuk pengeluaran, nafsu manusia tidak akan pernah puas dan selalu memuntut lebih.
Oleh karena itu, yang menentukan dalam hal ini adalah justru sifat qana’ah (merasa cukup dan puas dengan rezki yang Allah berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)”[23].
Sifat qana’ah ini adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya”[24].
Arti “ridha kepada Allah sebagai Rabb” adalah ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[25].
Lebih daripada itu, orang yang memiliki sifat qana’ah dialah yang akan meraih kebaikan dan kemuliaan dalam hidupnya di dunia dan di akhirat nanti, meskipun harta yang dimilikinya tidak banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya”[26].
Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita semua sifat qana’ah dan semua sifat-sifat baik yang diridhai-Nya, serta memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Allah Ta’ala berfirman,
{وَنزلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ}
“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri” (QS an-Nahl:89).
Dan ketika sahabat yang mulia, Salman al-Farisy ditanya oleh seorang musyrik: Sungguhkah nabi kalian (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) adab buang air besar? Salman menjawab: “Benar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau ketika buang air kecil…[1].
Tidak terkecuali dalam hal ini, masalah yang berhubungan dengan mengatur dan membelanjakan rizki/penghasilan, semua telah diatur dalam al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.
Misalnya, tentang keutamaan menginfakkan harta untuk kebutuhan keluarga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ»
“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampaipun makanan yang kamu berikan kepada istrimu”[2].
Kewajiban Mengatur Pembelanjaan Harta
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”[3].
Hadits yang agung ini menunjukkan kewajiban mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk hal-hal yang baik dan diridhai oleh Allah, karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di dunia[4].
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian tiga perkara…(di antaranya) idho’atul maal (menyia-nyiakan harta)[5].
Arti “idho’atul maal” (menyia-nyiakan harta) adalah menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah Ta’ala, atau membelanjakannya secara boros dan berlebihan[6].
Antara Pemborosan dan Penghematan yang Berlebihan
Sebaik-baik cara mengatur pembelanjaan harta adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:
{وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا}
“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS al-Furqaan:67).
Artinya: mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan) hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan sebaik-baik perkara adalah yang moderat (pertengahan)[7].
Juga dalam firman-Nya,
{وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا}
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal” (QS al-Israa’:29).
Imam asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Arti ayat ini: larangan bagi manusia untuk menahan (hartanya secara berlebihan) sehingga mempersulit dirinya sendiri dan keluarganya, dan larangan berlebihan dalam berinfak (membelanjakan harta) sampai melebihi kebutuhan, sehingga menjadikannnya musrif (berlebih-lebihan/mubazir). Maka ayat ini (berisi) larangan dari sikap ifrath (melampaui batas) dan tafrith (terlalu longgar), yang ini melahirkan kesimpulan disyariatkannya bersikap moderat, yaitu (sikap) adil (seimbang) yang dianjurkan oleh Allah”[8].
Waspadai Fitnah (Kerusakan) Harta!
Perlu diwaspadai dalam hal yang berhubungan dengan pembelanjaan harta, fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta tersebut, sebagaimana yang telah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,
«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ»
“Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta”.[9]
Maksudnya: menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya,
{إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ}
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS at-Tagaabun:15)[10].
Kerusakan lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta adalah sifat tamak/rakus dan ambisi untuk mengejar dunia, karena secara tabiat asal nafsu manusia tidak akan pernah merasa puas/cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya, bagaimanapun berlimpahnya[11], kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau: “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga”[12].
Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apapun untuk tujuan tersebut. Sehingga tenaga dan pikirannya akan terus terkuras untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus siksaan besar bagi dirinya di dunia.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya[13].
Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan”[14].
Zuhud dalam Masalah Harta
Zuhud dalam harta dan dunia bukanlah dengan meninggalkannya, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Ta’ala. Akan tetapi zuhud dalam harta adalah dengan menggunakan harta tersebut sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala, tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada harta tersebut. Atau dengan kata lain, zuhud dalam harta adalah tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta yang dimiliki, dengan segera menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah Ta’ala.
Inilah arti zuhud yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya: Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)? Beliau berkata: “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata: Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi”[15].
Salah seorang ulama salaf berkata: “Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan (balasan kebaikan) di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai) maka kamu lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya diakhirat kelak) daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu”[16].
Jangan Lupa Menyisihkan Sebagian Harta untuk Sedekah
Allah Ta’ala berfirman,
{وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}
“Dan apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS Sabaa’:39).
Makna firman-Nya “Allah akan menggantinya” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat[17].
Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ»
“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya”[18].
Arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah Ta’ala jadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hal-hal yang akan merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah Ta’ala di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata”[19].
Maka keutamaan besar ini jangan sampai diabaikan oleh keluarga muslim ketika mereka mengatur pembelanjaan harta, dengan cara menyisihkan sebagian dari rizki yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka, untuk disedekahkan kepada fakir miskin.
Harta yang disisihkan untuk sedekah tidak mesti besar, meskipun kecil tapi jika dilakukan dengan ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya, maka akan bernilai besar di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian (selamatkanlah diri kalian) dari api nereka walaupun dengan (bersedekah dengan) separuh buah kurma”[20].
Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik (meskipun) kecil, walaupun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria”[21].
Dan lebih utama lagi jika sedekah tersebut dijadikan anggaran tetap dan amalan rutin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit”[22].
Nasehat dan Penutup
Kemudian yang menentukan cukup atau tidaknya anggaran belanja keluarga bukanlah dari banyaknya jumlah anggaran harta yang disediakan, karena berapa pun banyaknya harta yang disediakan untuk pengeluaran, nafsu manusia tidak akan pernah puas dan selalu memuntut lebih.
Oleh karena itu, yang menentukan dalam hal ini adalah justru sifat qana’ah (merasa cukup dan puas dengan rezki yang Allah berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)”[23].
Sifat qana’ah ini adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya”[24].
Arti “ridha kepada Allah sebagai Rabb” adalah ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[25].
Lebih daripada itu, orang yang memiliki sifat qana’ah dialah yang akan meraih kebaikan dan kemuliaan dalam hidupnya di dunia dan di akhirat nanti, meskipun harta yang dimilikinya tidak banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya”[26].
Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita semua sifat qana’ah dan semua sifat-sifat baik yang diridhai-Nya, serta memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
AMAL YAUMI SETIAP MUSLIM
"Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang beriman dan beramal saleh dan wasiat-mewasiati supaya kebenaran dan wasiat-mewasiati menetapi kesabaran"
BAGAIMANAKAH SEHARUSNYA SETIAP MUSLIM MENGISI WAKTU
Iman selalu bertambah dan baerkurang. Bertambah krn melaksanakan perintah Allah swt berkurang krn maksiat/melanggar larangan Allah swt. Dengan demikian Iman itu selalu dinamis tidak setatis. Hanya ada dua kemungkinan utk Iman apakah bertambah atau berkurang. Tidak ada kemungkinan yng ketiga. Oleh krn itu tiap muslim dan muslimah haruslah bijaksana dalam menggunakan waktu. Yang terpenting adl agar Iman selalu bertambah dijaga jangan sampai berkurang.
Perhatikan firman Allah swt. “Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang beriman dan beramal saleh dan wasiat-mewasiati supaya kebenaran dan wasiat-mewasiati menetapi kesabaran.”
“Maka apabila kamu telah selesai kerjakanlah dgn sunguh-sungguh yg lain dan kepada Rabbmu saja seharusnya kamu berharap.”
“Sesungguhnya dalam penciptaan banyak lasngit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang mterdapat tanda-tanda bagi ulul albab orang-orang yg mengingat Allah sambil berdiri duduk dan berbaring serta mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi “Ya Rabb kami tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa api neraka.”
Aisyah r.a. berkata Artinya “Bahwasannya Rosululloh SAW selalu berdzikir kepada Allah di tiap waktu.” .
Rasulullah saw. Bersabda Artinya “Sesungguhnya mataku terpejam tapi hatiku tidak pernah tidur.”
Allah swt. Mensifati orang-orang yg beriman dgn gambaran jelas dan terperinci seperti tercantum dalam surat Al-Furqon Artinya “Ibadurrahman itu orang-orang yg berjalan dimuka bumi dgn rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka mereka mengucapkan kata-kata keselamatan. Dan orang yg melalui malam hari degan sujud dan berdiri kepada Rabb mereka. Dan orang-orang yg berkata “Ya Rabb kami jauhkanlah adzab Jahannam dari kami sesungguhnya jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yg apabila membelanjakan mereka berlebih-lebihan dan tidak kikir dan adl di tengah-tengah antara yg demikian. Dan orang-orang yg tidak menyeru ilah yg lain beserta Allah dan tidak membunuh nafs yg diharamkan Allah kecuali dgn alas an yg benar dan tidak berzina barang siapa yg melakukan semua itu niscaya dia mendapat . akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yg bertaubat beriman dan mengerjakan amal sholih; mk mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dgn kebajikan. Dan adl Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yg bertaubat dan mengerjakan amal sholih mk sesungguhnya diabertaubat kepada Allah dgn taubat yg sebenar-benarnya. Dan orang-orang yg tidak memberikan persaksian palsu dan apabila mereka bertemu dgn mereka lalui saja dgn menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang apabila diberi peringatan dgn ayat-ayat Rabb mereka mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yg tuli dan buta. Dan orang-orang yg berkata “Ya Rabb kami anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yg bertaqwa.” Mereka itulah orang yg dibalasi dgn martabat yg tinggi krn kesabaran mereka dan mereka disambut dgn penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal didalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah “Rabbku tidak mengindahkan kamu melainkan kalau ada ibadatmu. padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak .”
“Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwa kamu berdiri kurang dari dua pertiga malam atau seperdua malam atau sepertiganya dan segolongan dari orang-orang yg bersamamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu utu maka Dia memberi keringanan kepadamu krn itu bacalah apa yg mudah dari Al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yg sakit dan orang-orang yg berjalan dimuka bumi mencari sebagian dari karunia Allah;dan oraang-orang yg lain lagi yg berperang di jalan Allah maka baacalah apa yg mudah dari Al-Qur’an dan dirikanlah shalat tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allahsuatu pinjaman yg baik. Dan kebaikan apa saja yg kalian perbuat utk dirimu niscaya kamu memperoleh nya di sisi Allah sebagai balasan yg paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampun kepada Allah;sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Rasulullah saw. Bersabda Artinya “Sebagian dari tanda baiknya keislaman seseorang dia meninggalkan apa-apa yg tidak bermanfaat.”
Juga dalam sabdanya yg lain tentang sifat orang yg beriman Artinya “Sekali-kali tidak akan kenyang seorang yg beriman dari berbuat kebaikan sehingga akhirnya jannah .”
Waktu adl hidup itu sendiri. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan hidup. Menyia-nyiakan hidup berarti melakukan dosa krn manusia hrs bertanggung jawab di hadapan Allah swt. Atas ni’mat yg dikaruniakan kepada manusia yg salah satunya adl ni’mat kehidupan.
Perhatikan beberapa ayat dibawah ini
“?Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang keni’matan .”
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat .”
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yg dibisikkan oleh nafsunya ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya yg satu duduk di sebelah kanan dan yg lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapanpun yg diucapkannya melainkan ada di dekatnya pengawas yg selalu hadir .”
“Kepunyaan Alllahlah segala apa yg ada dilangit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yg ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya niscaya Allah akan membuat perhitungan . Maka Allah mengampuni siapa yg dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yg dikehendaki-Nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Rasulullah saw. Bersabda “Tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari Qiyamat sebelum ditanya tentang umur dalam hal apa ia habiskan tentang ilmunya utk apa ia pergunakan tentang harta kekayaan dari mana dia dapatkan dan ke mana ia belanjakan tentang badannya dalam hal apa dirusakkan.” .
“Dari Abu Hurairah berkata Ketika Nabi saw. Membaca “Yauma idzin tuhadditsu akhbaaroha” beliau bersabda “Tahukah kamu apakah khabaar bumi itu ?” Para sahabat menjawab “Allah dan Rasul-Nya lbh mengetahui.” Nabi bersabda “Khabar bumi itu ialah menjadi saksi atas perbuatan hamba-hamba laki-laki dan perempuan sebagaimana yg terjadi di atasnya bumi berkata “Kamu telah berbuat ini dan itu. Maka itulah khabar beritanya.” .
MANUSIA ADALAH MAKHLUK ALLAH YANG MULTI DIMENSIONAL
Manusia adl makhluk Allah swt. Yang multi dimensional artinya memiliki banyak aspek. Pada dasarnya manusia terdiri dari tiga aspek yg berkaitan yaitu ; Aspek Ruh. Aspek Jasmani. Aspek lingkungan.
Bila dirincii lagi maka aspek Ruh terdiri dari tiga unsur Kemampuan utk mempercayai sesuatu. Kemampuan utk merasakan sesuatu keadaan. Kemampuan utk berfikir.
Aspek Lingkungan pada pokoknya terdiri dari tiga unsur Ekonomi/Maaliyah. Sosial/Ijtimaiyyah. Politik/Siyasiyah.
ASPEK-ASPEK PRIBADI MUSLIM
Untuk tujuan pembinaan praktis mk kita kembangkan tujuh aspek pribadi muslim dan muslimah yaitu Aspek keyakinan. Aspek mental. Aspek pemikiran. Aspek jasmaniyah. Aspek Maaliyah. Aspek Ijtima’iyah. Aspek Siyasiyah.
Aspek keyakina
Pengertian
Yang dimaksud dgn aspek keyakinan adl hal-hal yg berhubungan dgn kemampuan seseorang utk meyakini kebenaran Dienul Islam. Sasaran pembinaan Setiap muslim dan muslimah wajiblah memiliki keyakinan yg teguh mengenai kebenaran ajaran Islam.
Sarana pembinaan
Hendaknya tiap muslim dan muslimah membiasakan amalan-amalan sbb Membaca Al-Qur’an Karim minimal satu juz tiap hari dan maksimal sepuluh juz tiap hari. Tadabbur terhadap Al-Qur’an Karim yg ideal pagi lima ayat perhari dan sore lima ayat perhari. Tadabbur secara khusus mengenai ayat-ayat Al-Qur’an yg berhubungan dgn masalah keimanan. Tadabbur terhadap hadits dan siroh rasul dalam masalah keimanan. Tadabbur terhadap nasehat para Sahabat r.a. khususnya dalam masalah keimanan. Tadabbut terhadap nasehat para Alim Ulama ‘Salafu Sholih dalam masalah keimanan. Tadabbur terhadap ciptaan Allah swt. Di alam semesta. Tadabbur terhadap diri sendiri dgn segala tanda-tanda keagungan Allah swt. Yang ada pada tubuh manusia. Tadabbur terhadap segala karunia Allah yg telah diberikan kepada manusia. Selalu berusaha utk taat kepada Allah swt. Dan Rosulnya dalam segala hal. Selalu mengamalkan doa-doa dan wirid yg diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selalu berusaha dgn sekuat tenaga menghindari dosa-dosa besar maupun kecil maksiat laghwun dan lahwun. Selalu memohon kepada Allah swt. Agar dijauhkan dari segala keburukan dgn doa-doa ta’awwudz yg diajarkan Allah swt dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Aspek mental
Pengertian
Yang dimaksud dgn aspek mental adl kemampuan seseorang utk mengendalikan perasaannya dlmberbagai situasi.
Sasaran Pembinan
Setiap muslim dan muslimah wajiblah memiliki kemampuan mental yg tertinggi yaitu sabar dalam melaksanakan perintah Allah swt menjauhi larangan-Nya dan menerima Qodlo dan Qodar-Nya. Begitu juga bersyukur kepada Allah swt. Dengan hati lisan dan perbuatan atas karunia-karunia Allah yg telah diberikan kepadanya.
Sarana Pembinaan
Menguatkan iman kepada hari akhir dgn bertadabbur terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah mengenai remehnya kehidupan dunia kekekalan kehidupan akhirat dan kepastian bahwa tiap makhluk hidup akan mati. Juga tadabbur mengenai alam barzah dan alam akhirat melalui Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Hidup zuhud dan wara’. Menguatkan iman terhadap qodho’ dan qadar Allah dgn tadabbur ayat Al-Qur’an ataupun hadits Rasul yg berkenaan dgn masalah tersebut . Melaksanakan shalat fardu dgn berjama’ah. Ziarah kubur secara islami . Tadabbur terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah mengenai sabar dan syukur. Membaca siroh Rosul saw siroh para sahabat dan orang-orang sholih utk mengambil I’tibar tentang kekuatan mental mereka dalam menghadapi segala hal. Melaksanakan shiyam wajib dan sunnah. Melaksanakan shalat sunnah terutama qiyamul lail. Mengurus jenazah.
Aspek pemikiran.
Pengertian
Yang dimaksud dgn aspek p-0emikiran adl kemampuan seseorang utk mendekati masalah serta memecahkannya dgn menggunakan kegiatan berfikir.
Sasaran Pembinan
Setiap muslim dan muslimah wajiblah memiliki kemampuan berfikir yg memadai dgn memiliki ilmu-ilmu fardlu ‘ain dan fardu kifayah. Sehingga memiliki kemampuan utuk mendekati dan memecahkan masalah baik masalah pribadi keluarga masyarakat maupun negara.
Sarana Pembinaan
Selalu mempelajari Al-Qur’an Al-Hadits Nabawi As-Siroh An-Nabawiyyah dan Siroh Salafus-Solih. Membaca buku-buku tentang ilmu-ilmu dien yg hukumnya fardu ‘ain kemudian ilu-ilmu fardu kifayah. Membaca buku-buku tentang problema ummat Islam baik local regional nasional maupun internasional. Membaca buku-buku saintifik dan teknologi tepat guna. Selalu aktif dalam kegiatan diskusi-diskusi yg bersifat ilmiah. Aktif mengikuti seminar-seminar ilmiah. Latihan pidato dan mengajar. Aktif dalam kegiatan tulis menulis.
Aspek jasmaniyah.
Pengertian
Yang dimaksud aspek jasmaniah adl hal ihwal yg berhubungan dgn tubuh manusia.
Sasaran Pembinan
Setiap muslim dan muslimat wajiblah memiliki tubuh yg sehat dan kuat sehingga mampu melaksanakan tugas-tugas dalam rangka menegakkan Islam.
Sarana Pembinan Menjaga kebersihan diri keluarga dan lingkungan. Menjaga diri agar tidak jatuh sakit. Memakan makanan yg halal bergizi seimbang dan alami. Menghindar utk memakan dan minum yg haram dan syubhat. Menghindari makanan dan minuman yg bias melemahkan tubuh makanan & minuman dgn memakai bahan tambahan buatan yg lainnya. Berobat secara syar’I bila sakit. Mempelajari buku kedokteran menurut tuntunan Nabi saw. . Memiliki keahlian dan keterampilan dalam salah satu bidang olah raga. Berusaha meningkatkan kekuatan tubuh dan kesegaran jasmani. Mengadakan siyahah . Olah raga dgn frekuensi 2-3 kali perminggu dgn waktu 20-40 menit .
Aspek Maaliyah.
Pengertian
Yang dimaksud aspek maaliyah adl hal ihwal yg berhubungan dgn kemapuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan materiil yg pokok yaitu sandang pangan dan papan. Juga kebutuhan Ruhiyah yg pokok yaitu kebutuhan terhadap bimmbingan Islam ilmu pengetahuan dan teman hidup .
Sasaran Pembinan
Setiap muslim dan muslimah wajiblah memiliki harta sehingga dapat memenuhi kebutuhan baik jasmani rohani maupun social. Di samping itu setelah selesai melaksanakan tugas kewajibannya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya mk wajiblah utk mengeluarkan zakat sesuai dgn ketentuan syari’at Islam dan juga infaq fie sabilillah.
Sarana Pembinan
Wajib bekerja utk mencari rizki yg halal dgn cara yg halal. Menggunakan harta dgn cara yg halal dan hemat. Menghindari dari tabdzir isrof dan kemewahan. Menghindari sejauh-jauhnya dari riba. Menggalakkan infaq atau shadaqoh fi sabilillah. Menabung utk menghadapi kebutuhan mendadak. Mempellajari syari’at Islam yg berkaitan dgn masalah ekonomi. Menggalakkan kewiraswastaan dalam bidang ekonomi. Menggalakkan kerja sama dalam bidang ekonomi. Menggali potensi-potensi ekonomi.
Aspek Ijtima’iyah.
Pengertian
Yang dimaksud dgn aspek ijtima’iyyah adl hal ikhwal yg berhubungan dgn kemampuan seseorang utk berukhuwah Islamiyyah dgn sesama orang-orang beriman.
Sasaran Pembinan
Setiap muslim dan muslimah wajiblah utk minimal dirinya selamat dari sifat merugikan orang lain dalam pergaulan seperti kebencian kedengkian iri hati egoistis atau mementingkan diri sendiri dgn mengorbankan kepentingan orang lain. Sedangkan sasaran maksimal adl tertanamnya jiwa itsar .
Sarana Pembinaan
Berusaha menghindari pertikaian yg disebabkan krn perbedaan pemahaman antara sesama muslim. Mempelajari risalah-risalah tentang persaudaraan dalam Islam sepanjang ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selalu berusaha utk ta’aruf sesama orang beriman. Berusaha mengindari sejauh-jauhnya dari sikap ta’assub kepada pendapat para imam mujtahid dalam masalah yg masih diperselisihkan. Menjauhi debat kusir. Berusaha menjauhi sikap mudah mengkafirkan orang lain tanpa ada bukti nyata yg dibenarkan oleh syari’at Islam. Selalu wasiat-mewasiati dgn kesabaran kebenaran dan kasih saying . Memupuk keikhlasan dalam segala hal baik dalam melontarkan pendapat mengadakan suatu kegiatan atau meluruskan pendapat orang lain. Mengadakan perkumpulan-perkumpulan secara rutin . Mengunjungi teman sesama orang beriman yg sedang ditimpa musibah. Selalau mengadkan kegiatan-kegiatan yg dilakukan secara bersama-sama . Selalu mencari titik temu dgn pihak-pihak yg saling berselisih antara sesama orang beriman. Menanamkan jiwa cinta persatuan antara sesama orang-orang beriman. Berusaha utk bersepakat dalam masalah-masalah pokok Islam dan bertenggang rasa terhadap pendapat orang lain yg berbeda dalam masalah cabang-cabang dari Islam . Mempelajari fiqih menurut madzhab yg dipeluk oleh mayoritas di mana kita berada. Menghindari ta’assub kepada kelompok tertentu tanpa memperhatikan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menggalakkan semangat kembali pada Al-Qur’an hadits nabi dan siroh nabawiyah dalam semua masalah diiniyah.Menjaga hak orang lain terutama hak milik harta kehidupan kehormatan dien dan hak akal.
Aspek Siyasiyah.
Pengertian
Yang dimaksud dgn aspek siasiyah adl semua hal yg berhubungan dgn kemampuan seseorang utk mengatur orang lain baik keluarga kelompok masyarakat maupun negara dan badan-badan internasional.
Sasaran Pembinan
Agar tiap muslim dan muslimat mampu mengatur dan memimpin minimal keluarganya. Untuk selanjutnya mampu memimpin kelompok masyarakat negara maupun badan-badan internasional.
Sarana Pembina
Ilmu-ilmu tentang kepemimpinan dalam Islam. Mempelajari ilmu management dan administrasi. Mengenali manusia dgn segala kelebihan dan kekurangannya . Mengamati kegiatan-kegiatan social ekonomi politik dan budaya masyarakat. Aktif dalam berorganisasi. Berupaya memiliki sifat-sifat pemimpin yg ideal menurut Islam. Menggalakkan musyawarah dalam menyelesaikan masalah-masalah bersama. Menanamkan rasa tanggung jawab terhadap bawahan krn pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Tentang bagaimana ia memimpin anggotanya.
BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
Semua sarana-sarana pembinaan tersebut diatas hendaknya diupayakan utk menjadi kegiatan rutin bias berupa kegiatan harian mingguan bulanan atau tahunan. Semua kegiatan-kegiatan yg disebutkan di atas bukanlah terbatas seperti apa yg tercantum krn ia lbh merupakan contoh-contoh saja dari pada pembatasan. Dalam pelaksanaannya tentu saja tidak kaku namun selalu mengingat situasi kondisi ruang waktu dan biaya.
PENUTUP
Bila kegiatan-kegiatan tersebut diatas dilaksanakan dgn berdasarkan ajaran Islam dan bertujuan mencari ridlo Allah SWT semata mk Insya Allah seseorang akan meningkat setapak demi setapak sehingga menjadi orang mukmin yg seimbang dari segala aspeknya sehingga mampu mengemban amanat Allah SWT dalam QS. Asyy-Syuro 13 At-Taubah 105 Al-Muzammil 5 Al-Ankabut 1-2 Al-Baqoroh 214 Ali Imron 142.
“Dia mensyariatkan bagi kamu sekalian dien itu yg ia juga Dia wasiatkan kepada Nuh Islam itu juga telah kami wahyukan kepadamu Muhammad Islam itu pula telah kami wasiatkan kepada Ibrohim Musa dan Isa tegakkanlah olehmu sekalian Dien itu dan janganlah kamu sekalian bercerai-berai dalam .”
“Dan katakanlah “Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasu-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Yang mengetahui akan yg ghoib dan yg nyata lalu diberitakan-Nya kepada kamu yg telah kamu kerjakan.”
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yg berat.”
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan “Kami telah beriman.” sedang mereka tidak diuji lagi ?”
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah padahal belum dating kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelummu ? Mereka ditimpa oleh mala petaka dan kesengsaraan serta digoncangkan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya “Kapankah datangnya pertolongan Allah ? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yg berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yg sabar . “
Rasulullah saw. Bersabda Artinya “Sesungguhnya tiadalah seseorang akan mampu menegakkan dienullah kecuali barang siapa yg meliputi Islam dari segala aspeknya.”
BAGAIMANAKAH SEHARUSNYA SETIAP MUSLIM MENGISI WAKTU
Iman selalu bertambah dan baerkurang. Bertambah krn melaksanakan perintah Allah swt berkurang krn maksiat/melanggar larangan Allah swt. Dengan demikian Iman itu selalu dinamis tidak setatis. Hanya ada dua kemungkinan utk Iman apakah bertambah atau berkurang. Tidak ada kemungkinan yng ketiga. Oleh krn itu tiap muslim dan muslimah haruslah bijaksana dalam menggunakan waktu. Yang terpenting adl agar Iman selalu bertambah dijaga jangan sampai berkurang.
Perhatikan firman Allah swt. “Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang beriman dan beramal saleh dan wasiat-mewasiati supaya kebenaran dan wasiat-mewasiati menetapi kesabaran.”
“Maka apabila kamu telah selesai kerjakanlah dgn sunguh-sungguh yg lain dan kepada Rabbmu saja seharusnya kamu berharap.”
“Sesungguhnya dalam penciptaan banyak lasngit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang mterdapat tanda-tanda bagi ulul albab orang-orang yg mengingat Allah sambil berdiri duduk dan berbaring serta mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi “Ya Rabb kami tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa api neraka.”
Aisyah r.a. berkata Artinya “Bahwasannya Rosululloh SAW selalu berdzikir kepada Allah di tiap waktu.” .
Rasulullah saw. Bersabda Artinya “Sesungguhnya mataku terpejam tapi hatiku tidak pernah tidur.”
Allah swt. Mensifati orang-orang yg beriman dgn gambaran jelas dan terperinci seperti tercantum dalam surat Al-Furqon Artinya “Ibadurrahman itu orang-orang yg berjalan dimuka bumi dgn rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka mereka mengucapkan kata-kata keselamatan. Dan orang yg melalui malam hari degan sujud dan berdiri kepada Rabb mereka. Dan orang-orang yg berkata “Ya Rabb kami jauhkanlah adzab Jahannam dari kami sesungguhnya jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yg apabila membelanjakan mereka berlebih-lebihan dan tidak kikir dan adl di tengah-tengah antara yg demikian. Dan orang-orang yg tidak menyeru ilah yg lain beserta Allah dan tidak membunuh nafs yg diharamkan Allah kecuali dgn alas an yg benar dan tidak berzina barang siapa yg melakukan semua itu niscaya dia mendapat . akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yg bertaubat beriman dan mengerjakan amal sholih; mk mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dgn kebajikan. Dan adl Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yg bertaubat dan mengerjakan amal sholih mk sesungguhnya diabertaubat kepada Allah dgn taubat yg sebenar-benarnya. Dan orang-orang yg tidak memberikan persaksian palsu dan apabila mereka bertemu dgn mereka lalui saja dgn menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang apabila diberi peringatan dgn ayat-ayat Rabb mereka mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yg tuli dan buta. Dan orang-orang yg berkata “Ya Rabb kami anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yg bertaqwa.” Mereka itulah orang yg dibalasi dgn martabat yg tinggi krn kesabaran mereka dan mereka disambut dgn penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal didalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah “Rabbku tidak mengindahkan kamu melainkan kalau ada ibadatmu. padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak .”
“Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwa kamu berdiri kurang dari dua pertiga malam atau seperdua malam atau sepertiganya dan segolongan dari orang-orang yg bersamamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu utu maka Dia memberi keringanan kepadamu krn itu bacalah apa yg mudah dari Al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yg sakit dan orang-orang yg berjalan dimuka bumi mencari sebagian dari karunia Allah;dan oraang-orang yg lain lagi yg berperang di jalan Allah maka baacalah apa yg mudah dari Al-Qur’an dan dirikanlah shalat tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allahsuatu pinjaman yg baik. Dan kebaikan apa saja yg kalian perbuat utk dirimu niscaya kamu memperoleh nya di sisi Allah sebagai balasan yg paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampun kepada Allah;sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Rasulullah saw. Bersabda Artinya “Sebagian dari tanda baiknya keislaman seseorang dia meninggalkan apa-apa yg tidak bermanfaat.”
Juga dalam sabdanya yg lain tentang sifat orang yg beriman Artinya “Sekali-kali tidak akan kenyang seorang yg beriman dari berbuat kebaikan sehingga akhirnya jannah .”
Waktu adl hidup itu sendiri. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan hidup. Menyia-nyiakan hidup berarti melakukan dosa krn manusia hrs bertanggung jawab di hadapan Allah swt. Atas ni’mat yg dikaruniakan kepada manusia yg salah satunya adl ni’mat kehidupan.
Perhatikan beberapa ayat dibawah ini
“?Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang keni’matan .”
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat .”
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yg dibisikkan oleh nafsunya ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya yg satu duduk di sebelah kanan dan yg lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapanpun yg diucapkannya melainkan ada di dekatnya pengawas yg selalu hadir .”
“Kepunyaan Alllahlah segala apa yg ada dilangit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yg ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya niscaya Allah akan membuat perhitungan . Maka Allah mengampuni siapa yg dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yg dikehendaki-Nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Rasulullah saw. Bersabda “Tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari Qiyamat sebelum ditanya tentang umur dalam hal apa ia habiskan tentang ilmunya utk apa ia pergunakan tentang harta kekayaan dari mana dia dapatkan dan ke mana ia belanjakan tentang badannya dalam hal apa dirusakkan.” .
“Dari Abu Hurairah berkata Ketika Nabi saw. Membaca “Yauma idzin tuhadditsu akhbaaroha” beliau bersabda “Tahukah kamu apakah khabaar bumi itu ?” Para sahabat menjawab “Allah dan Rasul-Nya lbh mengetahui.” Nabi bersabda “Khabar bumi itu ialah menjadi saksi atas perbuatan hamba-hamba laki-laki dan perempuan sebagaimana yg terjadi di atasnya bumi berkata “Kamu telah berbuat ini dan itu. Maka itulah khabar beritanya.” .
MANUSIA ADALAH MAKHLUK ALLAH YANG MULTI DIMENSIONAL
Manusia adl makhluk Allah swt. Yang multi dimensional artinya memiliki banyak aspek. Pada dasarnya manusia terdiri dari tiga aspek yg berkaitan yaitu ; Aspek Ruh. Aspek Jasmani. Aspek lingkungan.
Bila dirincii lagi maka aspek Ruh terdiri dari tiga unsur Kemampuan utk mempercayai sesuatu. Kemampuan utk merasakan sesuatu keadaan. Kemampuan utk berfikir.
Aspek Lingkungan pada pokoknya terdiri dari tiga unsur Ekonomi/Maaliyah. Sosial/Ijtimaiyyah. Politik/Siyasiyah.
ASPEK-ASPEK PRIBADI MUSLIM
Untuk tujuan pembinaan praktis mk kita kembangkan tujuh aspek pribadi muslim dan muslimah yaitu Aspek keyakinan. Aspek mental. Aspek pemikiran. Aspek jasmaniyah. Aspek Maaliyah. Aspek Ijtima’iyah. Aspek Siyasiyah.
Aspek keyakina
Pengertian
Yang dimaksud dgn aspek keyakinan adl hal-hal yg berhubungan dgn kemampuan seseorang utk meyakini kebenaran Dienul Islam. Sasaran pembinaan Setiap muslim dan muslimah wajiblah memiliki keyakinan yg teguh mengenai kebenaran ajaran Islam.
Sarana pembinaan
Hendaknya tiap muslim dan muslimah membiasakan amalan-amalan sbb Membaca Al-Qur’an Karim minimal satu juz tiap hari dan maksimal sepuluh juz tiap hari. Tadabbur terhadap Al-Qur’an Karim yg ideal pagi lima ayat perhari dan sore lima ayat perhari. Tadabbur secara khusus mengenai ayat-ayat Al-Qur’an yg berhubungan dgn masalah keimanan. Tadabbur terhadap hadits dan siroh rasul dalam masalah keimanan. Tadabbur terhadap nasehat para Sahabat r.a. khususnya dalam masalah keimanan. Tadabbut terhadap nasehat para Alim Ulama ‘Salafu Sholih dalam masalah keimanan. Tadabbur terhadap ciptaan Allah swt. Di alam semesta. Tadabbur terhadap diri sendiri dgn segala tanda-tanda keagungan Allah swt. Yang ada pada tubuh manusia. Tadabbur terhadap segala karunia Allah yg telah diberikan kepada manusia. Selalu berusaha utk taat kepada Allah swt. Dan Rosulnya dalam segala hal. Selalu mengamalkan doa-doa dan wirid yg diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selalu berusaha dgn sekuat tenaga menghindari dosa-dosa besar maupun kecil maksiat laghwun dan lahwun. Selalu memohon kepada Allah swt. Agar dijauhkan dari segala keburukan dgn doa-doa ta’awwudz yg diajarkan Allah swt dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Aspek mental
Pengertian
Yang dimaksud dgn aspek mental adl kemampuan seseorang utk mengendalikan perasaannya dlmberbagai situasi.
Sasaran Pembinan
Setiap muslim dan muslimah wajiblah memiliki kemampuan mental yg tertinggi yaitu sabar dalam melaksanakan perintah Allah swt menjauhi larangan-Nya dan menerima Qodlo dan Qodar-Nya. Begitu juga bersyukur kepada Allah swt. Dengan hati lisan dan perbuatan atas karunia-karunia Allah yg telah diberikan kepadanya.
Sarana Pembinaan
Menguatkan iman kepada hari akhir dgn bertadabbur terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah mengenai remehnya kehidupan dunia kekekalan kehidupan akhirat dan kepastian bahwa tiap makhluk hidup akan mati. Juga tadabbur mengenai alam barzah dan alam akhirat melalui Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Hidup zuhud dan wara’. Menguatkan iman terhadap qodho’ dan qadar Allah dgn tadabbur ayat Al-Qur’an ataupun hadits Rasul yg berkenaan dgn masalah tersebut . Melaksanakan shalat fardu dgn berjama’ah. Ziarah kubur secara islami . Tadabbur terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah mengenai sabar dan syukur. Membaca siroh Rosul saw siroh para sahabat dan orang-orang sholih utk mengambil I’tibar tentang kekuatan mental mereka dalam menghadapi segala hal. Melaksanakan shiyam wajib dan sunnah. Melaksanakan shalat sunnah terutama qiyamul lail. Mengurus jenazah.
Aspek pemikiran.
Pengertian
Yang dimaksud dgn aspek p-0emikiran adl kemampuan seseorang utk mendekati masalah serta memecahkannya dgn menggunakan kegiatan berfikir.
Sasaran Pembinan
Setiap muslim dan muslimah wajiblah memiliki kemampuan berfikir yg memadai dgn memiliki ilmu-ilmu fardlu ‘ain dan fardu kifayah. Sehingga memiliki kemampuan utuk mendekati dan memecahkan masalah baik masalah pribadi keluarga masyarakat maupun negara.
Sarana Pembinaan
Selalu mempelajari Al-Qur’an Al-Hadits Nabawi As-Siroh An-Nabawiyyah dan Siroh Salafus-Solih. Membaca buku-buku tentang ilmu-ilmu dien yg hukumnya fardu ‘ain kemudian ilu-ilmu fardu kifayah. Membaca buku-buku tentang problema ummat Islam baik local regional nasional maupun internasional. Membaca buku-buku saintifik dan teknologi tepat guna. Selalu aktif dalam kegiatan diskusi-diskusi yg bersifat ilmiah. Aktif mengikuti seminar-seminar ilmiah. Latihan pidato dan mengajar. Aktif dalam kegiatan tulis menulis.
Aspek jasmaniyah.
Pengertian
Yang dimaksud aspek jasmaniah adl hal ihwal yg berhubungan dgn tubuh manusia.
Sasaran Pembinan
Setiap muslim dan muslimat wajiblah memiliki tubuh yg sehat dan kuat sehingga mampu melaksanakan tugas-tugas dalam rangka menegakkan Islam.
Sarana Pembinan Menjaga kebersihan diri keluarga dan lingkungan. Menjaga diri agar tidak jatuh sakit. Memakan makanan yg halal bergizi seimbang dan alami. Menghindar utk memakan dan minum yg haram dan syubhat. Menghindari makanan dan minuman yg bias melemahkan tubuh makanan & minuman dgn memakai bahan tambahan buatan yg lainnya. Berobat secara syar’I bila sakit. Mempelajari buku kedokteran menurut tuntunan Nabi saw. . Memiliki keahlian dan keterampilan dalam salah satu bidang olah raga. Berusaha meningkatkan kekuatan tubuh dan kesegaran jasmani. Mengadakan siyahah . Olah raga dgn frekuensi 2-3 kali perminggu dgn waktu 20-40 menit .
Aspek Maaliyah.
Pengertian
Yang dimaksud aspek maaliyah adl hal ihwal yg berhubungan dgn kemapuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan materiil yg pokok yaitu sandang pangan dan papan. Juga kebutuhan Ruhiyah yg pokok yaitu kebutuhan terhadap bimmbingan Islam ilmu pengetahuan dan teman hidup .
Sasaran Pembinan
Setiap muslim dan muslimah wajiblah memiliki harta sehingga dapat memenuhi kebutuhan baik jasmani rohani maupun social. Di samping itu setelah selesai melaksanakan tugas kewajibannya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya mk wajiblah utk mengeluarkan zakat sesuai dgn ketentuan syari’at Islam dan juga infaq fie sabilillah.
Sarana Pembinan
Wajib bekerja utk mencari rizki yg halal dgn cara yg halal. Menggunakan harta dgn cara yg halal dan hemat. Menghindari dari tabdzir isrof dan kemewahan. Menghindari sejauh-jauhnya dari riba. Menggalakkan infaq atau shadaqoh fi sabilillah. Menabung utk menghadapi kebutuhan mendadak. Mempellajari syari’at Islam yg berkaitan dgn masalah ekonomi. Menggalakkan kewiraswastaan dalam bidang ekonomi. Menggalakkan kerja sama dalam bidang ekonomi. Menggali potensi-potensi ekonomi.
Aspek Ijtima’iyah.
Pengertian
Yang dimaksud dgn aspek ijtima’iyyah adl hal ikhwal yg berhubungan dgn kemampuan seseorang utk berukhuwah Islamiyyah dgn sesama orang-orang beriman.
Sasaran Pembinan
Setiap muslim dan muslimah wajiblah utk minimal dirinya selamat dari sifat merugikan orang lain dalam pergaulan seperti kebencian kedengkian iri hati egoistis atau mementingkan diri sendiri dgn mengorbankan kepentingan orang lain. Sedangkan sasaran maksimal adl tertanamnya jiwa itsar .
Sarana Pembinaan
Berusaha menghindari pertikaian yg disebabkan krn perbedaan pemahaman antara sesama muslim. Mempelajari risalah-risalah tentang persaudaraan dalam Islam sepanjang ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selalu berusaha utk ta’aruf sesama orang beriman. Berusaha mengindari sejauh-jauhnya dari sikap ta’assub kepada pendapat para imam mujtahid dalam masalah yg masih diperselisihkan. Menjauhi debat kusir. Berusaha menjauhi sikap mudah mengkafirkan orang lain tanpa ada bukti nyata yg dibenarkan oleh syari’at Islam. Selalu wasiat-mewasiati dgn kesabaran kebenaran dan kasih saying . Memupuk keikhlasan dalam segala hal baik dalam melontarkan pendapat mengadakan suatu kegiatan atau meluruskan pendapat orang lain. Mengadakan perkumpulan-perkumpulan secara rutin . Mengunjungi teman sesama orang beriman yg sedang ditimpa musibah. Selalau mengadkan kegiatan-kegiatan yg dilakukan secara bersama-sama . Selalu mencari titik temu dgn pihak-pihak yg saling berselisih antara sesama orang beriman. Menanamkan jiwa cinta persatuan antara sesama orang-orang beriman. Berusaha utk bersepakat dalam masalah-masalah pokok Islam dan bertenggang rasa terhadap pendapat orang lain yg berbeda dalam masalah cabang-cabang dari Islam . Mempelajari fiqih menurut madzhab yg dipeluk oleh mayoritas di mana kita berada. Menghindari ta’assub kepada kelompok tertentu tanpa memperhatikan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menggalakkan semangat kembali pada Al-Qur’an hadits nabi dan siroh nabawiyah dalam semua masalah diiniyah.Menjaga hak orang lain terutama hak milik harta kehidupan kehormatan dien dan hak akal.
Aspek Siyasiyah.
Pengertian
Yang dimaksud dgn aspek siasiyah adl semua hal yg berhubungan dgn kemampuan seseorang utk mengatur orang lain baik keluarga kelompok masyarakat maupun negara dan badan-badan internasional.
Sasaran Pembinan
Agar tiap muslim dan muslimat mampu mengatur dan memimpin minimal keluarganya. Untuk selanjutnya mampu memimpin kelompok masyarakat negara maupun badan-badan internasional.
Sarana Pembina
Ilmu-ilmu tentang kepemimpinan dalam Islam. Mempelajari ilmu management dan administrasi. Mengenali manusia dgn segala kelebihan dan kekurangannya . Mengamati kegiatan-kegiatan social ekonomi politik dan budaya masyarakat. Aktif dalam berorganisasi. Berupaya memiliki sifat-sifat pemimpin yg ideal menurut Islam. Menggalakkan musyawarah dalam menyelesaikan masalah-masalah bersama. Menanamkan rasa tanggung jawab terhadap bawahan krn pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Tentang bagaimana ia memimpin anggotanya.
BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
Semua sarana-sarana pembinaan tersebut diatas hendaknya diupayakan utk menjadi kegiatan rutin bias berupa kegiatan harian mingguan bulanan atau tahunan. Semua kegiatan-kegiatan yg disebutkan di atas bukanlah terbatas seperti apa yg tercantum krn ia lbh merupakan contoh-contoh saja dari pada pembatasan. Dalam pelaksanaannya tentu saja tidak kaku namun selalu mengingat situasi kondisi ruang waktu dan biaya.
PENUTUP
Bila kegiatan-kegiatan tersebut diatas dilaksanakan dgn berdasarkan ajaran Islam dan bertujuan mencari ridlo Allah SWT semata mk Insya Allah seseorang akan meningkat setapak demi setapak sehingga menjadi orang mukmin yg seimbang dari segala aspeknya sehingga mampu mengemban amanat Allah SWT dalam QS. Asyy-Syuro 13 At-Taubah 105 Al-Muzammil 5 Al-Ankabut 1-2 Al-Baqoroh 214 Ali Imron 142.
“Dia mensyariatkan bagi kamu sekalian dien itu yg ia juga Dia wasiatkan kepada Nuh Islam itu juga telah kami wahyukan kepadamu Muhammad Islam itu pula telah kami wasiatkan kepada Ibrohim Musa dan Isa tegakkanlah olehmu sekalian Dien itu dan janganlah kamu sekalian bercerai-berai dalam .”
“Dan katakanlah “Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasu-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Yang mengetahui akan yg ghoib dan yg nyata lalu diberitakan-Nya kepada kamu yg telah kamu kerjakan.”
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yg berat.”
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan “Kami telah beriman.” sedang mereka tidak diuji lagi ?”
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah padahal belum dating kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelummu ? Mereka ditimpa oleh mala petaka dan kesengsaraan serta digoncangkan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya “Kapankah datangnya pertolongan Allah ? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yg berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yg sabar . “
Rasulullah saw. Bersabda Artinya “Sesungguhnya tiadalah seseorang akan mampu menegakkan dienullah kecuali barang siapa yg meliputi Islam dari segala aspeknya.”
LARANGAN MENYIA_NYIAKAN HARTA
Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik,” (An-Nisaa’: 5).
Dari al-Mughirah bin Syu’bah r.a. dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian durhaka terhadap ibu bapak, mengubur hidup-hidup (membunuh) anak perempuan, menahan harta sendiri dan terus meminta kepada orang lain. Dan Allah membenci atas kamu tiga perkara: menceritakan seluruh perkara yang didengarnya yang tidak ia ketahui kebenarannya dan tidak juga menurut dugaan kuatnya, banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta,” (HR Bukhari [2408] dan Muslim [593] [12]).
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai tiga perkara atas kalian dan membenci tiga perkara. Allah ridha kalian hanya menyembah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain, berpegang dengan tali Allah dan tidak bercerai berai. Dan membenci qiil wa qaal (menyebarkan berita yang tidak jelas asal usulnya), banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta,” (HR Muslim [1715]).
Kandungan Bab:
1. Haram hukumnya menggunakan harta tidak menurut ketentuan yang dibenarkan syariat dan mengeluarkannya untuk sesuatu yang tidak menyukai kerusakan dan orang-orang yang berbuat kerusakan.
2. Barangsiapa menyia-nyiakan hartanya dapat mengakibatkan ia meminta-minta kepada orang lain sehingga ia menjadi orang yang tangannya berada di bawah (pengemis) dan hidup dalam keadaan hina dina. Hal itu juga berdasarkan firman Allah, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal,” (Al-Israa’: 29).
3. Dibenci yang dimaksud dalam hadits di atas adalah haram, sebagaimana disebutkan dalam ayat lain, “Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Rabb-mu,” (Al-Israa’: 38).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah membenci untuk kalian; menyebarkan berita yang tidak jelas, terlalu banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim [3236] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Ulama Salaf mengartikannya kata makruh dalam perkataan Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan maksud yang sebenarnya. Akan tetapi ahli ushul dari kalangan muta-akhirin menggunakan istilah makruh untuk sesuatu yang bukan haram hanya saja meninggalkannya lebih utama daripada mengerjakannya.
Mencampuradukkan dua istilah akan menimbulkan kekeliruan dan keracunan.
Dari al-Mughirah bin Syu’bah r.a. dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian durhaka terhadap ibu bapak, mengubur hidup-hidup (membunuh) anak perempuan, menahan harta sendiri dan terus meminta kepada orang lain. Dan Allah membenci atas kamu tiga perkara: menceritakan seluruh perkara yang didengarnya yang tidak ia ketahui kebenarannya dan tidak juga menurut dugaan kuatnya, banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta,” (HR Bukhari [2408] dan Muslim [593] [12]).
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai tiga perkara atas kalian dan membenci tiga perkara. Allah ridha kalian hanya menyembah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain, berpegang dengan tali Allah dan tidak bercerai berai. Dan membenci qiil wa qaal (menyebarkan berita yang tidak jelas asal usulnya), banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta,” (HR Muslim [1715]).
Kandungan Bab:
1. Haram hukumnya menggunakan harta tidak menurut ketentuan yang dibenarkan syariat dan mengeluarkannya untuk sesuatu yang tidak menyukai kerusakan dan orang-orang yang berbuat kerusakan.
2. Barangsiapa menyia-nyiakan hartanya dapat mengakibatkan ia meminta-minta kepada orang lain sehingga ia menjadi orang yang tangannya berada di bawah (pengemis) dan hidup dalam keadaan hina dina. Hal itu juga berdasarkan firman Allah, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal,” (Al-Israa’: 29).
3. Dibenci yang dimaksud dalam hadits di atas adalah haram, sebagaimana disebutkan dalam ayat lain, “Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Rabb-mu,” (Al-Israa’: 38).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah membenci untuk kalian; menyebarkan berita yang tidak jelas, terlalu banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim [3236] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Ulama Salaf mengartikannya kata makruh dalam perkataan Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan maksud yang sebenarnya. Akan tetapi ahli ushul dari kalangan muta-akhirin menggunakan istilah makruh untuk sesuatu yang bukan haram hanya saja meninggalkannya lebih utama daripada mengerjakannya.
Mencampuradukkan dua istilah akan menimbulkan kekeliruan dan keracunan.
AYAT-AYAT RUQYAH & PETUNJUKNYA
Defini Ruqyah
Makna ruqyah secara terminologi adalah al-‘udzah (sebuah perlindungan) yang digunakan untuk melindungi orang yang terkena penyakit, seperti panas karena disengat binatang, kesurupan, dan yang lainnya. (Lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits karya Ibnul Atsir rahimahullahu 3/254)
Secara terminologi, ruqyah terkadang disebut pula dengan ‘azimah. Al-Fairuz Abadi berkata: “Yang dimaksud ‘azimah-‘azimah adalah ruqyah-ruqyah. Sedangkan ruqyah yaitu ayat-ayat Al- Qur`an yang dibacakan terhadap orang-orang yang terkena berbagai penyakit dengan mengharap kesembuhan.” (Lihat Al-Qamus Al-Muhith pada materi).
Adapun makna ruqyah secara etimologi syariat adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. Terkadang doa atau bacaan itu disertai dengan sebuah tiupan dari mulut ke kedua telapak tangan atau anggota tubuh orang yang meruqyah atau yang diruqyah. (Lihat transkrip ceramah Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh yang berjudul Ar-Ruqa wa Ahkamuha oleh Salim Al-Jaza`iri, hal. 4)
Tentunya ruqyah yang paling utama adalah doa dan bacaan yang bersumber dari Al-Qur`an dan As- Sunnah. (Ibid, hal. 5)
(Sumber asysyariah)
Caranya:
Dengarkan MP3 RUQYAH SYARIAH hingga tamat menggunakan HEADPHONE dengan volume yang kuat.
Pejamkan mata dan jangan ikut bacaan ayat-ayat ini baik dimulut atau dihati.
Perhatikan setelah selesai :
* denyutan jantung makin kencang
* badan bergetar kencang
* ada benda bergerak-gerak bawah kulit
* mengantuk/menguap
* batuk
* gelisah
* panas di tengkuk
Jika ada mengalami kejadian di atas, kemungkinan besar ada jin yg menghuni tubuh anda. RUQYAH MP3 amat bagus diperdengarkan 3 kali sehari bagi mereka yg mengalami gangguan jin, karena fadhilat ayat-ayat tersebut amat mustajab bagi mengusir jin-jin jahat/sihir serta memagar diri kita.
Selain itu Orang yang sakit boleh juga baca banyak-banyak baca dalam hati tak ditentukan masa dan tempat zikir ‘THO HA’ (Surah Taha, ayat 1)
Kesannya selepas baca zikir itu adalah kita akan sendawa… Kira-kira jin-jin dalam badan itu sakit dan kepanasan..Dengan mendengar MP3 ruqyah ini, insya Allah mampu menyembuhkan penyakit, diantaranya:
* Jiwa gelisah/khayalan
* Pembatal Sihir
* Pagar Rumah (Pengusir Jin & Syaitan)
* Ketenangan Rumah tangga
* Anak-anak menagis tengah malam
* Penghambat kasih sayang antara anak/ibubapa
* Pendarahan berpanjangan bagi wanita (istihadah)
* Menguatkan ingatan dan hafalan dalam pembelajaran.
Cara Menggunakan MP3 Ruqyah:
* Bagi kesehatan diri dan keluarga, putar mp3 ini didalam rumah atau tempat usaha 3 kali sehari atau putar dari malam sampai pagi (auto repeat).
* Bagi penderita sakit gangguan jin, dilarang memutarnya di dalam kereta.
Bagi anak-anak yang menangis diwaktu malam, anda perlu memutarnya dengan keras, insyaAllah jin/syaitan akan lari dari mengganggu anak-anak anda.
* Untuk histeria, sihir, dan lambat jodoh, sediakan 3 botol besar air mineral,buka penutupnya dan putar mp3 ruqyah ini 3 round sebelah air tadi (kira-kira 1jam 20minit). Air tadi dibuat minum seteguk untuk 3x sehari dan lakukan hari berikutnya sehingga air tadi habis.Tiap-tiap lepas sholat perlu baca Ayat qursy 3 kali dan al insyirah 3 kali secara istiqomah. Kemudian malam besoknya, mp3 ruqyah ini hendaklah diputar dari malam sampai pagi selama sebulan.
* Bagi memulihkan rumah/tempat usaha yang bermasalah,cuma putar 3 kali sehari untuk 3 hari berturut-turut.
* Jika kita sering mengalami masalah malas dan badan terasa berat, perdengarkan mp3 ruqyah ini 3 kali sehari, insyaAllah kita akan rajin dan kembali bersemangat.
*BAGI UNTUK MENDAPATKAN KESEMBUHAN YANG MAKSIMUM BILA MENDENGARKAN MP3 RUQYAH INI, SILAHKAN
PEJAMKAN MATA DAN DENGARKAN HINGGA TAMAT TANPA MENGIKUTI BACAANNYA DIMULUT ATAUPUN DIHATI*
No & Nama Urutan Surah:
1 Al-Fatihah 1 Seluruhnya
2 Al-Baqarah 1 1-5
3 Al-Baqarah 1 102
4 Al-Baqarah 2 163-164
5 Al-Baqarah (Ayatul Kursi) 3 255
6 Al-Baqarah 3 285-286
7 Ali-Imran 3 18-19
8 Al-’Araf 8 54-56
9 Al-’Araf 9 117-122
10 Yunus 11 81-82
11 Toha 16 69
12 Al-Mukminun 18 115-118
13 As-Soffaat 23 1-10
14 Al-Ahqaaf 26 29-32
15 Ar-Rahman 27 33-36
16 Al-Hasyr 28 21-24
17 Al-Jin 29 1-9
18 Al-Ikhlas 30 Seluruhnya
19 Al-Falaq 30 Seluruhnya
20 An-Naas 30 Seluruhnya
Hanya ALLAH yang bisa menyembuhkan segala penyakit kita dan manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a untuk memohon kesembuhan kepada-NYA. Semoga ALLAH memberi kesembuhan pada kita semua.
AMIN
Makna ruqyah secara terminologi adalah al-‘udzah (sebuah perlindungan) yang digunakan untuk melindungi orang yang terkena penyakit, seperti panas karena disengat binatang, kesurupan, dan yang lainnya. (Lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits karya Ibnul Atsir rahimahullahu 3/254)
Secara terminologi, ruqyah terkadang disebut pula dengan ‘azimah. Al-Fairuz Abadi berkata: “Yang dimaksud ‘azimah-‘azimah adalah ruqyah-ruqyah. Sedangkan ruqyah yaitu ayat-ayat Al- Qur`an yang dibacakan terhadap orang-orang yang terkena berbagai penyakit dengan mengharap kesembuhan.” (Lihat Al-Qamus Al-Muhith pada materi).
Adapun makna ruqyah secara etimologi syariat adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. Terkadang doa atau bacaan itu disertai dengan sebuah tiupan dari mulut ke kedua telapak tangan atau anggota tubuh orang yang meruqyah atau yang diruqyah. (Lihat transkrip ceramah Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh yang berjudul Ar-Ruqa wa Ahkamuha oleh Salim Al-Jaza`iri, hal. 4)
Tentunya ruqyah yang paling utama adalah doa dan bacaan yang bersumber dari Al-Qur`an dan As- Sunnah. (Ibid, hal. 5)
(Sumber asysyariah)
Caranya:
Dengarkan MP3 RUQYAH SYARIAH hingga tamat menggunakan HEADPHONE dengan volume yang kuat.
Pejamkan mata dan jangan ikut bacaan ayat-ayat ini baik dimulut atau dihati.
Perhatikan setelah selesai :
* denyutan jantung makin kencang
* badan bergetar kencang
* ada benda bergerak-gerak bawah kulit
* mengantuk/menguap
* batuk
* gelisah
* panas di tengkuk
Jika ada mengalami kejadian di atas, kemungkinan besar ada jin yg menghuni tubuh anda. RUQYAH MP3 amat bagus diperdengarkan 3 kali sehari bagi mereka yg mengalami gangguan jin, karena fadhilat ayat-ayat tersebut amat mustajab bagi mengusir jin-jin jahat/sihir serta memagar diri kita.
Selain itu Orang yang sakit boleh juga baca banyak-banyak baca dalam hati tak ditentukan masa dan tempat zikir ‘THO HA’ (Surah Taha, ayat 1)
Kesannya selepas baca zikir itu adalah kita akan sendawa… Kira-kira jin-jin dalam badan itu sakit dan kepanasan..Dengan mendengar MP3 ruqyah ini, insya Allah mampu menyembuhkan penyakit, diantaranya:
* Jiwa gelisah/khayalan
* Pembatal Sihir
* Pagar Rumah (Pengusir Jin & Syaitan)
* Ketenangan Rumah tangga
* Anak-anak menagis tengah malam
* Penghambat kasih sayang antara anak/ibubapa
* Pendarahan berpanjangan bagi wanita (istihadah)
* Menguatkan ingatan dan hafalan dalam pembelajaran.
Cara Menggunakan MP3 Ruqyah:
* Bagi kesehatan diri dan keluarga, putar mp3 ini didalam rumah atau tempat usaha 3 kali sehari atau putar dari malam sampai pagi (auto repeat).
* Bagi penderita sakit gangguan jin, dilarang memutarnya di dalam kereta.
Bagi anak-anak yang menangis diwaktu malam, anda perlu memutarnya dengan keras, insyaAllah jin/syaitan akan lari dari mengganggu anak-anak anda.
* Untuk histeria, sihir, dan lambat jodoh, sediakan 3 botol besar air mineral,buka penutupnya dan putar mp3 ruqyah ini 3 round sebelah air tadi (kira-kira 1jam 20minit). Air tadi dibuat minum seteguk untuk 3x sehari dan lakukan hari berikutnya sehingga air tadi habis.Tiap-tiap lepas sholat perlu baca Ayat qursy 3 kali dan al insyirah 3 kali secara istiqomah. Kemudian malam besoknya, mp3 ruqyah ini hendaklah diputar dari malam sampai pagi selama sebulan.
* Bagi memulihkan rumah/tempat usaha yang bermasalah,cuma putar 3 kali sehari untuk 3 hari berturut-turut.
* Jika kita sering mengalami masalah malas dan badan terasa berat, perdengarkan mp3 ruqyah ini 3 kali sehari, insyaAllah kita akan rajin dan kembali bersemangat.
*BAGI UNTUK MENDAPATKAN KESEMBUHAN YANG MAKSIMUM BILA MENDENGARKAN MP3 RUQYAH INI, SILAHKAN
PEJAMKAN MATA DAN DENGARKAN HINGGA TAMAT TANPA MENGIKUTI BACAANNYA DIMULUT ATAUPUN DIHATI*
No & Nama Urutan Surah:
1 Al-Fatihah 1 Seluruhnya
2 Al-Baqarah 1 1-5
3 Al-Baqarah 1 102
4 Al-Baqarah 2 163-164
5 Al-Baqarah (Ayatul Kursi) 3 255
6 Al-Baqarah 3 285-286
7 Ali-Imran 3 18-19
8 Al-’Araf 8 54-56
9 Al-’Araf 9 117-122
10 Yunus 11 81-82
11 Toha 16 69
12 Al-Mukminun 18 115-118
13 As-Soffaat 23 1-10
14 Al-Ahqaaf 26 29-32
15 Ar-Rahman 27 33-36
16 Al-Hasyr 28 21-24
17 Al-Jin 29 1-9
18 Al-Ikhlas 30 Seluruhnya
19 Al-Falaq 30 Seluruhnya
20 An-Naas 30 Seluruhnya
Hanya ALLAH yang bisa menyembuhkan segala penyakit kita dan manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a untuk memohon kesembuhan kepada-NYA. Semoga ALLAH memberi kesembuhan pada kita semua.
AMIN
Benarkah? Nabi Isa akan Turun di Akhir Zaman
Hari kiamat akan semakin dekat tak mungkin semakin menjauh. Artikel ini akan menjawab apakah Nabi Isa A.S akan datang saat akhir zaman?
Pertanyaannya adalah Apakah Nabi Isa Telah Tiada?
Mengenai masalah ini, marilah kita simak bersama firman Allah Ta'ala berikut.
“Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” (QS. An Nisa': 157-159)
Allah Ta'ala juga berfirman,
“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku.” (QS. Ali Imran: 55)
Dalam ayat di atas diceritakan oleh Allah bahwa Nabi 'Isa tidaklah dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Orang Yahudi mengklaim telah membunuhnya dan hal ini pun dibenarkan oleh orang Nashrani. Namun yang sebenarnya dibunuh adalah orang yang diserupakan dengannya. Sedangkan Isa sendiri diangkat oleh Allah ke langit.
Syaikh As Sa'di ketika menjelaskan surat Ali Imran ayat 55, beliau mengatakan, “Allah mengangkat hamba dan Rasul-Nya yaitu 'Isa 'alaihis salam kepada-Nya. Kemudian Allah menyerupakan 'Isa dengan yang lainnya. Kemudian orang yang diserupakan dengan Nabi 'Isa ditangkap, dibunuh dan disalib. Mereka pun terjerumus dalam dosa karena niat mereka adalah membunuh utusan Allah.”1
Nabi 'Isa belumlah mati sebagaimana hal ini dikuatkan lagi dengan ayat-ayat dan hadits yang menceritakan bahwa beliau akan turun di akhir zaman sebagaimana nanti akan kami sebutkan.
Ringkasnya, Isa bin Maryam belum mati. Namun beliau diangkat ke langit dan akan turun di akhir zaman sebagai tanda datangnya kiamat kubro (kiamat besar).
Siapakah yang Diserupakan dengan Nabi Isa?
Yang sebenarnya diserupakan dengan Nabi Isa adalah murid beliau yang masih berusia muda dan setia padanya. Bukti dari hal ini adalah sebuah cerita yang dibawakan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma.2 Beliau mengatakan,
“Ketika Allah ingin mengangkat Isa -'alaihis salam- ke langit, beliau pun keluar menuju para sahabatnya dan ketika itu dalam rumah terdapat 12 orang sahabat al Hawariyyun. Beliau keluar menuju mereka dan kepala beliau terus meneteskan air. Lalu Isa mengatakan, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang mengkufuriku sebanyak 12 kali setelah ia beriman padaku.” Kemudian Isa berkata lagi, “Ada di antara kalian yang akan diserupakan denganku.
Ia akan dibunuh karena kedudukanku. Dia pun akan menjadi teman dekatku.” Kemudian di antara para sahabat beliau tadi yang masih muda berdiri, lantas Isa mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa kembali lagi pada mereka, pemuda tadi pun berdiri kembali. Isa pun mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa datang lagi ketiga kalinya dan pemuda tadi masih tetap berdiri dan ia mengatakan, “Aku, wahai Isa.” “Betulkah engkau yang ingin diserupakan denganku?” ujar Nabi Isa. Kemudian pemuda tadi diserupakan dengan Nabi Isa. Isa pun diangkat melalui lobang tembok di rumah tersebut menuju langit.
Kemudian datanglah rombongan orang Yahudi. Kemudian mereka membawa pemuda yang diserupakan dengan Nabi Isa tadi. Mereka membunuhnya dan mensalibnya. Sebagian mereka pun mengkufuri Isa sebanyak 12 kali setelah sebelumnya mereka beriman padanya. Mereka pun terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama mengatakan, “Allah berada di tengah-tengah kita sesuai kehendak-Nya kemudian Dia naik ke langit.” Mereka inilah Ya'qubiyah. Kelompok kedua mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada anak Allah sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Mereka inilah Nasthuriyah. Kelompok ketiga mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada hamba Allah dan Rasul-Nya sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Merekalah kaum muslimin.
Kelompok pertama dan kedua yang kafir akan mengalahkan kelompok ketika yang muslim. Kelompok yang muslim itu pun sirna, sampai Allah mengutus Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.”
Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih sampai Ibnu 'Abbas. An Nasa-i meriwayatkan hadits ini dari Abu Kuraib dan dari Abu Mu'awiyah serta semisalnya.3
Dari riwayat ini ada beberapa faedah yang dapat kita petik:
1. Setelah Isa diangkat ke langit, ada sebagian murid Isa (al Hawariyyun) yang beriman dan sebagian lainnya kufur pada beliau.
2. Nabi Isa tidak mati dan tidak disalib, namun beliau diangkat ke langit. Yang mati dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan beliau.
3. Yang dibunuh dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa, yaitu murid beliau yang setia pada beliau dan bukan murid Isa yang pengkhianat. Namun yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin bahwa yang diserupakan dengan Isa adalah muridnya yang pengkhianat. Kami tidak mengetahui manakah dalil yang menunjukkan hal ini. Riwayat di atas jelas-jelas berkata lain.
4. Murid-murid Isa terpecah menjadi tiga golongan. Satu golongan beriman yaitu meyakini bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Sedangkan dua golongan lain kufur. Sebagian meyakini bahwa Isa adalah Allah. Dan sebagian lainnya meyakini bahwa Isa adalah anak Allah. Yang menang ketika itu adalah dua golongan yang kafir sedangkan golongan yang beriman musnah sampai diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Al Qur'an Berbicara Tentang Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman
Ayat pertama : Allah Ta'ala berfirman,
“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat.” (QS. Az Zukhruf: 61)
Para ulama berselisih pendapat mengenai makna dhomir (kata ganti) haa' dalam kalimat (وَإِنَّهُ). Sebagian ulama mengatakan bahwa kata ganti haa' di situ adalah 'Isa bin Maryam. Sehingga makna kalimat, “Sesungguhnya 'Isa di antara tanda datangnya hari kiamat”. Karena turunnya kembali Isa ke dunia adalah tanda akan fananya dunia dan akan datangnya kehidupan akhirat.
Demikian penjelasan dari Ibnu Jarir Ath Thobari4. Kemudian setelah itu Ibnu Jarir membawakan beberapa perkataan ulama pakar tafsir tentang tafsiran ayat di atas.
Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salam.
Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut yaitu di antara tanda datangnya hari kiamat adalah turunnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat.
Qotadah mengatakan tentang maksud ayat tersebut adalah turunnya Isa bin Maryam merupakan di antara tanda hari kiamat.
As Sudi, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid mengatakan perkataan yang serupa.5
Ayat kedua : Firman Allah Ta'ala,
“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa': 159)
Mengenai ayat di atas terdapat dua tafsiran di kalangan pakar tafsir.
Tafsiran pertama: “... kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya”, yang dimaksud sebelum kematiannya adalah sebelum kematian Isa. Maksudnya adalah sebagaimana penjelasan Ibnu Jarir Ath Thobari, “Mereka seluruhnya akan membenarkan Nabi Isa ketika ia turun ke dunia untuk membunuh Dajjal. Sehingga ketika itu agama hanya ada satu yaitu agama Islam yang lurus, agama Ibrahim.”6
Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah sebelum kematian Isa bin Maryam.
Abu Malik mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ketika Isa bin Maryam turun, yaitu tidak ada satu pun ahli kitab yang tersisa kecuali mereka akan beriman pada Nabi Isa.
Al Hasan mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah sebelum kematian Isa dan -demi Allah- Isa saat ini masih hidup, berada di sisi Allah. Ketika beliau turun lagi ke bumi, semua pasti akan mengimani beliau.
Qotadah mengatakan maksud ayat ini adalah sebelum kematian Isa dan jika beliau turun ke muka bumi, semua agama akan beriman pada beliau.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa ketika Isa bin Maryam turun lagi ke bumi, ia akan membunuh Dajjal. Lalu tidak akan tersisa lagi seorang pun Yahudi kecuali akan beriman padanya.
Ath Thobari mengatakan, “Jika Isa turun ke muka bumi, maka orang Yahudi akan beriman padanya.”
Tafsiran kedua: “... kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya”, yang dimaksud adalah sebelum kematian ahli kitab tersebut.
Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan, "Setiap orang yang didatangi maut (kematian), jiwanya tidak akan lepas sampai jelas padanya kebenaran dari kebatilan yang ada dalam agamanya."
Ibnu 'Abbas mengatakan tentang maksud ayat di atas bahwa tidaklah seorang Yahudi itu mati kecuali mereka akan beriman kepada Isa.
Ibnu 'Abbas juga mengatakan bahwa tidaklah seorang Yahudi itu mati kecuali ia akan bersaksi bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah, walaupun ia dalam keadaan diancam dengan pedang.
Mujahid mengatakan tentang maksud ayat di atas bahwa setiap ahli kitab akan beriman kepada Isa sebelum kematian ahli kitab tersebut.7
Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di menjelaskan bahwa menurut tafsiran ini, setiap ahli kitab yang akan didatangi maut (kematian), ia telah jelas kebenaran sebenarnya. Ia pun akan beriman pada Isa 'alaihis salam, akan tetapi iman ketika itu tidaklah manfaat karena itu hanyalah iman karena terpaksa. Maka maksud ayat ini adalah sebagai ancaman bagi ahli kitab bahwa mereka akan menyesal sebelum kematian mereka. Bagaimanakah lagi nasib mereka pada saat dibangkitkan pada hari kiamat nanti?!8
Di antara dua tafsiran di atas yang lebih tepat adalah tafsiran pertama. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
"Tidak ragu lagi bahwa pendapat (tafsiran pertama) itulah yang lebih tepat. Karena tafsiran ini adalah maksud dari konteks ayat sebelumnya yang membicarakan mengenai keyakinan Yahudi bahwa mereka telah membunuh Isa dan menyalibnya. Orang-orang Nashrani yang jahil pun membenarkan hal ini. Lalu Allah memberitahukan bahwa keadaan senyatanya adalah tidak demikian. Sesungguhnya yang dibunuh adalah yang diserupakan dengan Isa dan mereka tidak mengetahui hal ini. Allah mengabarkan bahwa Isa akan diangkat ke langit, beliau masih hidup dan akan turun sebelum hari kiamat sebagaimana diceritakan dalam banyak hadits (hadits mutawatir)."9
Ayat ketiga: Firman Allah Ta'ala,
"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. " (QS. Muhammad: 4)
Al Baghowi menjelaskan salah satu tafsiran ayat di atas, "Mereka mengalahkan orang-orang musyrik dengan membunuh dan memenjara mereka sampai seluruh agama yang ada memeluk Islam. Seluruh agama akhirnya milik Allah. Dan setelah itu tidak ada lagi jihad dan tidak ada lagi peperangan. Hal ini terjadi ketika turunnya Isa bin Maryam (di akhir zaman)."10
Hadits yang Berbicara Tentang Turunnya Isa bin Maryam
Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir, hadits yang membicarakan mengenai turunnya Nabi Isa di akhir zaman adalah hadits yang mutawatir (mutawatir makna) yaitu terdiri dari banyak hadits dan membicarakan satu maksud yaitu bahwa Nabi Isa akan turun menjelang hari kiamat.11
Dalam kesempatan yang lain, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Hadits-hadits tersebut (yang membicarakan turunnya Isa di akhir zaman, pen) adalah hadits yang mutawatir dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari riwayat Abu Hurairah, Ibnu Mas'ud, Utsman bin Abil 'Ash, Abu Umamah, An Nawas bin Sam'an, Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash, Mujammi' bin Jariyah, Abu Sarihah, dan Hudzaifah bin Usaid.”12
Di antara bukti dari hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu dari Abu Hurairah, beliau bersabda,
“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti)13, harta semakin banyak dan semakin berkah sampai seseorang tidak ada yang menerima harta itu lagi (sebagai sedekah, pen), dan sujud seseorang lebih disukai daripada dunia dan seisinya.” Abu Hurairah lalu mengatakan, “Bacalah jika kalian suka:
“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa': 159)”14
Dari Jabir bin 'Abdillah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang memperjuangkan kebenaran dan meraih kemenangan hingga hari kiamat.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengatakan, “Kemudia Isa bin Maryam turun ke muka bumi. Lalu pemimpin mereka-mereka tadi mengatakan pada Isa, “Jadilah imam shalat bersama kami.” “Tidak. Sesungguhnya di antara kalian sudah menjadi pemimpin bagi yang lain. Allah betul-betul telah memuliakan umat ini”, jawab Isa.”15
Dan masih banyak sekali hadits-hadits yang membicarakan mengenai hal ini, bahkan sampai derajat mutawatir (jalur yang sangat banyak). Insya Allah akan dipaparkan lagi ketika penjelasan ciri-ciri Isa bin Maryam dan misinya ketika turun kembali ke muka bumi.
Berita Turunnya Isa di Akhir Zaman Menjadi Konsensus Para Ulama
Di samping beberapa ayat Al Qur'an dan hadits membenarkan bahwa Isa bin Maryam akan turun di akhir zaman, turunnya beliau ke muka bumi juga didasari pada ijma' (konsensus atau kesepakatan) ulama. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah orang yang “nyleneh” perkataannya dan tidak perlu dianggap.
As Safarini mengatakan, “Umat Islam telah sepakat bahwa Isa betul-betul akan turun kembali dan tidak ada satu pun yang menyelisihi pendapat ini. Yang mengingkari hal ini hanyalah para filosof dan kelompok yang menyimpang. Mereka-mereka ini sebenarnya tidak perlu dianggap perkataannya. Para ulama telah menyepakati hal ini dan mereka yakini bahwa Isa akan berhukum dengan syariat Muhammad dan bukan membawa ajaran baru yang berdiri sendiri ketika ia turun dari langit.”16
Setelah pemaparan berbagai dalil tadi, maka hal ini menunjukkan bahwa turunnya Nabi Isa ke muka bumi setelah sebelumnya diangkat ke langit adalah suatu keniscayaan. Sehingga orang-orang yang menafikan dan tidak meyakini hal ini sangat jauh dari kebenaran.
Semoga Allah memudahkan hal ini. Semoga Allah memberikan pemahaman dan keyakinan yang mantap untuk menyongsong hari kiamat yang semakin dekat menghampiri kita.
Pertanyaannya adalah Apakah Nabi Isa Telah Tiada?
Mengenai masalah ini, marilah kita simak bersama firman Allah Ta'ala berikut.
“Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” (QS. An Nisa': 157-159)
Allah Ta'ala juga berfirman,
“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku.” (QS. Ali Imran: 55)
Dalam ayat di atas diceritakan oleh Allah bahwa Nabi 'Isa tidaklah dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Orang Yahudi mengklaim telah membunuhnya dan hal ini pun dibenarkan oleh orang Nashrani. Namun yang sebenarnya dibunuh adalah orang yang diserupakan dengannya. Sedangkan Isa sendiri diangkat oleh Allah ke langit.
Syaikh As Sa'di ketika menjelaskan surat Ali Imran ayat 55, beliau mengatakan, “Allah mengangkat hamba dan Rasul-Nya yaitu 'Isa 'alaihis salam kepada-Nya. Kemudian Allah menyerupakan 'Isa dengan yang lainnya. Kemudian orang yang diserupakan dengan Nabi 'Isa ditangkap, dibunuh dan disalib. Mereka pun terjerumus dalam dosa karena niat mereka adalah membunuh utusan Allah.”1
Nabi 'Isa belumlah mati sebagaimana hal ini dikuatkan lagi dengan ayat-ayat dan hadits yang menceritakan bahwa beliau akan turun di akhir zaman sebagaimana nanti akan kami sebutkan.
Ringkasnya, Isa bin Maryam belum mati. Namun beliau diangkat ke langit dan akan turun di akhir zaman sebagai tanda datangnya kiamat kubro (kiamat besar).
Siapakah yang Diserupakan dengan Nabi Isa?
Yang sebenarnya diserupakan dengan Nabi Isa adalah murid beliau yang masih berusia muda dan setia padanya. Bukti dari hal ini adalah sebuah cerita yang dibawakan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma.2 Beliau mengatakan,
“Ketika Allah ingin mengangkat Isa -'alaihis salam- ke langit, beliau pun keluar menuju para sahabatnya dan ketika itu dalam rumah terdapat 12 orang sahabat al Hawariyyun. Beliau keluar menuju mereka dan kepala beliau terus meneteskan air. Lalu Isa mengatakan, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang mengkufuriku sebanyak 12 kali setelah ia beriman padaku.” Kemudian Isa berkata lagi, “Ada di antara kalian yang akan diserupakan denganku.
Ia akan dibunuh karena kedudukanku. Dia pun akan menjadi teman dekatku.” Kemudian di antara para sahabat beliau tadi yang masih muda berdiri, lantas Isa mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa kembali lagi pada mereka, pemuda tadi pun berdiri kembali. Isa pun mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa datang lagi ketiga kalinya dan pemuda tadi masih tetap berdiri dan ia mengatakan, “Aku, wahai Isa.” “Betulkah engkau yang ingin diserupakan denganku?” ujar Nabi Isa. Kemudian pemuda tadi diserupakan dengan Nabi Isa. Isa pun diangkat melalui lobang tembok di rumah tersebut menuju langit.
Kemudian datanglah rombongan orang Yahudi. Kemudian mereka membawa pemuda yang diserupakan dengan Nabi Isa tadi. Mereka membunuhnya dan mensalibnya. Sebagian mereka pun mengkufuri Isa sebanyak 12 kali setelah sebelumnya mereka beriman padanya. Mereka pun terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama mengatakan, “Allah berada di tengah-tengah kita sesuai kehendak-Nya kemudian Dia naik ke langit.” Mereka inilah Ya'qubiyah. Kelompok kedua mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada anak Allah sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Mereka inilah Nasthuriyah. Kelompok ketiga mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada hamba Allah dan Rasul-Nya sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Merekalah kaum muslimin.
Kelompok pertama dan kedua yang kafir akan mengalahkan kelompok ketika yang muslim. Kelompok yang muslim itu pun sirna, sampai Allah mengutus Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.”
Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih sampai Ibnu 'Abbas. An Nasa-i meriwayatkan hadits ini dari Abu Kuraib dan dari Abu Mu'awiyah serta semisalnya.3
Dari riwayat ini ada beberapa faedah yang dapat kita petik:
1. Setelah Isa diangkat ke langit, ada sebagian murid Isa (al Hawariyyun) yang beriman dan sebagian lainnya kufur pada beliau.
2. Nabi Isa tidak mati dan tidak disalib, namun beliau diangkat ke langit. Yang mati dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan beliau.
3. Yang dibunuh dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa, yaitu murid beliau yang setia pada beliau dan bukan murid Isa yang pengkhianat. Namun yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin bahwa yang diserupakan dengan Isa adalah muridnya yang pengkhianat. Kami tidak mengetahui manakah dalil yang menunjukkan hal ini. Riwayat di atas jelas-jelas berkata lain.
4. Murid-murid Isa terpecah menjadi tiga golongan. Satu golongan beriman yaitu meyakini bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Sedangkan dua golongan lain kufur. Sebagian meyakini bahwa Isa adalah Allah. Dan sebagian lainnya meyakini bahwa Isa adalah anak Allah. Yang menang ketika itu adalah dua golongan yang kafir sedangkan golongan yang beriman musnah sampai diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Al Qur'an Berbicara Tentang Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman
Ayat pertama : Allah Ta'ala berfirman,
“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat.” (QS. Az Zukhruf: 61)
Para ulama berselisih pendapat mengenai makna dhomir (kata ganti) haa' dalam kalimat (وَإِنَّهُ). Sebagian ulama mengatakan bahwa kata ganti haa' di situ adalah 'Isa bin Maryam. Sehingga makna kalimat, “Sesungguhnya 'Isa di antara tanda datangnya hari kiamat”. Karena turunnya kembali Isa ke dunia adalah tanda akan fananya dunia dan akan datangnya kehidupan akhirat.
Demikian penjelasan dari Ibnu Jarir Ath Thobari4. Kemudian setelah itu Ibnu Jarir membawakan beberapa perkataan ulama pakar tafsir tentang tafsiran ayat di atas.
Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salam.
Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut yaitu di antara tanda datangnya hari kiamat adalah turunnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat.
Qotadah mengatakan tentang maksud ayat tersebut adalah turunnya Isa bin Maryam merupakan di antara tanda hari kiamat.
As Sudi, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid mengatakan perkataan yang serupa.5
Ayat kedua : Firman Allah Ta'ala,
“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa': 159)
Mengenai ayat di atas terdapat dua tafsiran di kalangan pakar tafsir.
Tafsiran pertama: “... kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya”, yang dimaksud sebelum kematiannya adalah sebelum kematian Isa. Maksudnya adalah sebagaimana penjelasan Ibnu Jarir Ath Thobari, “Mereka seluruhnya akan membenarkan Nabi Isa ketika ia turun ke dunia untuk membunuh Dajjal. Sehingga ketika itu agama hanya ada satu yaitu agama Islam yang lurus, agama Ibrahim.”6
Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah sebelum kematian Isa bin Maryam.
Abu Malik mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ketika Isa bin Maryam turun, yaitu tidak ada satu pun ahli kitab yang tersisa kecuali mereka akan beriman pada Nabi Isa.
Al Hasan mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah sebelum kematian Isa dan -demi Allah- Isa saat ini masih hidup, berada di sisi Allah. Ketika beliau turun lagi ke bumi, semua pasti akan mengimani beliau.
Qotadah mengatakan maksud ayat ini adalah sebelum kematian Isa dan jika beliau turun ke muka bumi, semua agama akan beriman pada beliau.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa ketika Isa bin Maryam turun lagi ke bumi, ia akan membunuh Dajjal. Lalu tidak akan tersisa lagi seorang pun Yahudi kecuali akan beriman padanya.
Ath Thobari mengatakan, “Jika Isa turun ke muka bumi, maka orang Yahudi akan beriman padanya.”
Tafsiran kedua: “... kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya”, yang dimaksud adalah sebelum kematian ahli kitab tersebut.
Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan, "Setiap orang yang didatangi maut (kematian), jiwanya tidak akan lepas sampai jelas padanya kebenaran dari kebatilan yang ada dalam agamanya."
Ibnu 'Abbas mengatakan tentang maksud ayat di atas bahwa tidaklah seorang Yahudi itu mati kecuali mereka akan beriman kepada Isa.
Ibnu 'Abbas juga mengatakan bahwa tidaklah seorang Yahudi itu mati kecuali ia akan bersaksi bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah, walaupun ia dalam keadaan diancam dengan pedang.
Mujahid mengatakan tentang maksud ayat di atas bahwa setiap ahli kitab akan beriman kepada Isa sebelum kematian ahli kitab tersebut.7
Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di menjelaskan bahwa menurut tafsiran ini, setiap ahli kitab yang akan didatangi maut (kematian), ia telah jelas kebenaran sebenarnya. Ia pun akan beriman pada Isa 'alaihis salam, akan tetapi iman ketika itu tidaklah manfaat karena itu hanyalah iman karena terpaksa. Maka maksud ayat ini adalah sebagai ancaman bagi ahli kitab bahwa mereka akan menyesal sebelum kematian mereka. Bagaimanakah lagi nasib mereka pada saat dibangkitkan pada hari kiamat nanti?!8
Di antara dua tafsiran di atas yang lebih tepat adalah tafsiran pertama. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
"Tidak ragu lagi bahwa pendapat (tafsiran pertama) itulah yang lebih tepat. Karena tafsiran ini adalah maksud dari konteks ayat sebelumnya yang membicarakan mengenai keyakinan Yahudi bahwa mereka telah membunuh Isa dan menyalibnya. Orang-orang Nashrani yang jahil pun membenarkan hal ini. Lalu Allah memberitahukan bahwa keadaan senyatanya adalah tidak demikian. Sesungguhnya yang dibunuh adalah yang diserupakan dengan Isa dan mereka tidak mengetahui hal ini. Allah mengabarkan bahwa Isa akan diangkat ke langit, beliau masih hidup dan akan turun sebelum hari kiamat sebagaimana diceritakan dalam banyak hadits (hadits mutawatir)."9
Ayat ketiga: Firman Allah Ta'ala,
"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. " (QS. Muhammad: 4)
Al Baghowi menjelaskan salah satu tafsiran ayat di atas, "Mereka mengalahkan orang-orang musyrik dengan membunuh dan memenjara mereka sampai seluruh agama yang ada memeluk Islam. Seluruh agama akhirnya milik Allah. Dan setelah itu tidak ada lagi jihad dan tidak ada lagi peperangan. Hal ini terjadi ketika turunnya Isa bin Maryam (di akhir zaman)."10
Hadits yang Berbicara Tentang Turunnya Isa bin Maryam
Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir, hadits yang membicarakan mengenai turunnya Nabi Isa di akhir zaman adalah hadits yang mutawatir (mutawatir makna) yaitu terdiri dari banyak hadits dan membicarakan satu maksud yaitu bahwa Nabi Isa akan turun menjelang hari kiamat.11
Dalam kesempatan yang lain, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Hadits-hadits tersebut (yang membicarakan turunnya Isa di akhir zaman, pen) adalah hadits yang mutawatir dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari riwayat Abu Hurairah, Ibnu Mas'ud, Utsman bin Abil 'Ash, Abu Umamah, An Nawas bin Sam'an, Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash, Mujammi' bin Jariyah, Abu Sarihah, dan Hudzaifah bin Usaid.”12
Di antara bukti dari hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu dari Abu Hurairah, beliau bersabda,
“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti)13, harta semakin banyak dan semakin berkah sampai seseorang tidak ada yang menerima harta itu lagi (sebagai sedekah, pen), dan sujud seseorang lebih disukai daripada dunia dan seisinya.” Abu Hurairah lalu mengatakan, “Bacalah jika kalian suka:
“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa': 159)”14
Dari Jabir bin 'Abdillah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang memperjuangkan kebenaran dan meraih kemenangan hingga hari kiamat.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengatakan, “Kemudia Isa bin Maryam turun ke muka bumi. Lalu pemimpin mereka-mereka tadi mengatakan pada Isa, “Jadilah imam shalat bersama kami.” “Tidak. Sesungguhnya di antara kalian sudah menjadi pemimpin bagi yang lain. Allah betul-betul telah memuliakan umat ini”, jawab Isa.”15
Dan masih banyak sekali hadits-hadits yang membicarakan mengenai hal ini, bahkan sampai derajat mutawatir (jalur yang sangat banyak). Insya Allah akan dipaparkan lagi ketika penjelasan ciri-ciri Isa bin Maryam dan misinya ketika turun kembali ke muka bumi.
Berita Turunnya Isa di Akhir Zaman Menjadi Konsensus Para Ulama
Di samping beberapa ayat Al Qur'an dan hadits membenarkan bahwa Isa bin Maryam akan turun di akhir zaman, turunnya beliau ke muka bumi juga didasari pada ijma' (konsensus atau kesepakatan) ulama. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah orang yang “nyleneh” perkataannya dan tidak perlu dianggap.
As Safarini mengatakan, “Umat Islam telah sepakat bahwa Isa betul-betul akan turun kembali dan tidak ada satu pun yang menyelisihi pendapat ini. Yang mengingkari hal ini hanyalah para filosof dan kelompok yang menyimpang. Mereka-mereka ini sebenarnya tidak perlu dianggap perkataannya. Para ulama telah menyepakati hal ini dan mereka yakini bahwa Isa akan berhukum dengan syariat Muhammad dan bukan membawa ajaran baru yang berdiri sendiri ketika ia turun dari langit.”16
Setelah pemaparan berbagai dalil tadi, maka hal ini menunjukkan bahwa turunnya Nabi Isa ke muka bumi setelah sebelumnya diangkat ke langit adalah suatu keniscayaan. Sehingga orang-orang yang menafikan dan tidak meyakini hal ini sangat jauh dari kebenaran.
Semoga Allah memudahkan hal ini. Semoga Allah memberikan pemahaman dan keyakinan yang mantap untuk menyongsong hari kiamat yang semakin dekat menghampiri kita.
MADU : Khasiatnya Menurut AL-Qur’an dan Hadist





Sejalan dengan perkembangan dunia yang semakin canggih, dunia pengobatan juga semakin maju dibandingkan dengan cara pengobatan dahulu. Meskipun pengobatan modern terus tumbuh dan berkembang. Namun pengobatan yang sudah tersirat dalam al-Qur’an dan hadis masih tetap mengambil tempat di dalam kehidupan masyarakat Islam.
Menurut Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Sabda Baginda :
Maksudnya : “Berobatlah, maka sesungguhnya Allah tidak meletakkan penyakit kecuali Allah menyediakan baginya obat, kecuali satu penyakit, yaitu tua” ( Hadis riwayat Abu Daud)
Beberapa penellitian telah dilakukan terutama kepada bahan dasar alamai dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Begitu juga dengan madu lebah karena dalam al-Quran sendiri telah menggariskan pelbagai pengajaran dan maklumat penjagaan diri terhadap berbagai macam penyakit, maupun kesehatan jasad atau rohani agar kita dapat mengerjakan segala perintah Allah dengan teratur.
Firman Allah dalam surah an-Nahl: (Surah An-NAhl: 69).
Tafsirnya: “Kemudian makanlah daripada setiap macam buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan. Daripada perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang memikirkan.”
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam juga ada berpesan agar seseorang itu berobat dengan madu dan al-Qur’an, Baginda bersabda:
Maksudnya: “Ambillah / pergunakanlah olehmu sekalian akan dua obat penyembuh iaitu madu dan al-Qur’an.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)
Didalam hadis tersebut ternyata madu mempunyai keistimewaan yang tersendiri dengan nilai-nilai utama dalam ilmu kesehatan, yang mempunyai zat-zat besi dan vitamin yang kuat. Di samping itu madu juga dianggap penting kerana memenuhi keperluan tubuh dan cepat memberi tenaga.
Mereka yang mengetahui akan khasiat madu akan menggunakannya secara rutin, hal ini bukan hanya teori tetapi telah dibuktikan dalam beberapa kajian yang telah dilakukan di mana jika diamalkan setiap hari akan mencegah berbagai macam penyakit dan memberi tenaga yang cukup.
Di samping itu madu juga seringkali digunakan untuk sampingan sarapan pagi agar tenaga segera siap digunakan dalam menjalankan kerja harian. Madu juga memiliki aroma enak yang meningkatkan selera, seperti Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengamalkannya. Diperkuatkan dengan hadis baginda yang berbunyi:
Maksudnya: “Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menjilat madu sebanyak tiga kali pagi pada setiap bulan, maka dia tidak akan terkena cubaan yang besar.”
Di samping itu dengan memakan madu juga dapat menyembuhkan batuk-batuk yang menganggu dan dapat mencegah kekejangan pada otot tubuh khususnya pada bagian kaki. Dalam pengobatan tradisional, madu telah dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka-luka terbakar pada kulit. Jika diusapkan madu akan dapat mengurangi rasa sakit yang menyengat dan mencegah pembentukan lepuh (mengelupas) dan cepat sekali menyembuhkan daerah yang terbakar. Di samping itu banyak lagi penyakit yang dapat disembukanh misalnya hidung tersumbat, anak yang suka kencing malam ( ngompol ) dan cocok untuk bayi yang baru lahir.
Dalam al-Qur’an, hadis-hadis yang disebutkan dan amalan pengobatan tradisional, madu mempunyai keistimewaannya tersendiri. Adalah menjadi suatu amalan yang baik menjadikan madu sebagai obat dan mencegah berbagai penyakit serta menjaga kesehatan.
BERCERMIN KEPADA NABI IBRAHIM DALAM MENJAMU TAMU
Saling berkunjung sesama kerabat, teman maupun sejawat merupakan kebiasaan yang tak bisa dihindari. Keinginan berkunjung dan dikunjungi selalu ada harapan. Demikianlah, suatu saat kita akan kedatangan tamu, baik diundang maupun tidak. Bahkan pada momen-momen tertentu, kedatangan tamu sangat gencar.
Islam mengajarkan bagi siapa saja yang menjadi tuan rumah, supaya menghormati tamu. Penghormatan itu tidak sebatas pada tutur kata yang halus untuk menyambutnya, akan tetapi, juga dengan perbuatan yang menyenangkan. Misalnya dengan memberikan jamuan, meski hanya sekedarnya.
Sikap memuliakan tamu, bukan hanya mencerminkan kemuliaan hati tuan rumah kepada tamu-tamunya. Memuliakan tamu, juga menjadi salah satu tanda tingkat keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Akhir. Dengan jamuan yang disuguhkan, ia berharap pahala dan balasan dari Allah pada hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya" [HR al-Bukhâri dan Muslim]
Imam Ahmad rahimahullah dan sejumlah ulama lainnya, seperti dikutip oleh Ibnu Katsîr rahimahullah, berpendapat wajibnya memberikan dhiyaafah (jamuan) kepada orang yang singgah (tamu). Hal ini berdasarkan ayat di atas dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. [Lihat Tafsir Ibni Katsîr, 7/420].
Saking besarnya hak tamu, ada tarhîb bagi orang yang tidak mengindahkan tamunya. kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
لاَ خَيْرَ فِيْمَنْ لَا يُضِيْفُ
"Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menjamu tamu". [HR Ahmad. Lihat ash-Shahîhah, no. 2434].
MENJAMU TAMU, MERUPAKAN SUNNAH NABI IBRAHIM
Memberi jamuan kepada tamu, merupakan kebiasaan sudah berkembang sejak lama, sebelum risalah Nabi Muhammad n diturunkan. Yang pertama kali melakukan perbuatan yang mulia ini, ialah Nabi Ibrâhiim Khalîlur Rahmân Alaihissalam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:
كان أول من ضيف الضيف ابراهيم
"Orang yang pertama kali memberi suguhan kepada tamu adalah Ibrâhîm. [Lihat ash-Shahîhah, 725].
Syaikh as-Sa'di rahimahullah menjelaskan, "Sesungguhnya memberi jamuan kepada tamu (dhiyâfah) termasuk sunnah (tradisi) Nabi Ibrâhîm yang Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan umatnya untuk mengikuti millah (ajaran) beliau. Di sini, Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan kisah ini (surat adz-Dzâriyât, Pen.) sebagai pujian dan sanjungan bagi beliau". [1]
Memang, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan umatnya, dititahkan untuk mengikuti ajaran-ajaran Nabi Ibrâhîm Alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrâhîm seorang yang hanif," dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb". [an-Nahl/16:123].
BAGAIMANA NABI IBRAAHIIM ALAIHISSALAM MENJAMU TAMU?
Berikut ini, pemaparan singkat yang dilakukan oleh Nabi Ibraahim Alaihissalam saat memuliakan para tamunya. Imam Ibnu Katsiir rahimahullah secara khusus mengatakan: "Ayat-ayat ini mengatur tata-cara menjamu tamu", dan mari kita perhatikan satu-persatu.
1. Menjawab ucapan salam dari tamu dengan jawaban yang lebih sempurna.
2. Nabi Ibrâhîm Alaihissalam tidak bertanya terlebih dahulu: "Apakah kalian mau hidangan dari kami?"
3. Nabi Ibrâhîm Alaihissalam bersegera menyuguhkan makanan kepada tamu.
Dikatakan oleh Syaikh as-Sa'di bahwa sebaik-baik kebajikan ialah yang disegerakan. Karena itu, Nabi Ibrâhîm Alaihissalam cepat-cepat menyuguhkan jamuan kepada para tamunya.
4. Menyuguhkan makanan terbaik yang beliau miliki, Yakni, daging anak sapi yang gemuk dan dibakar. Pada mulanya, daging tersebut tidak diperuntukkan untuk tamu. Akan tetapi, ketika ada tamu yang datang, maka apa yang sudah ada, beliau hidangkan kepada para tamu. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi penghormatan Nabi Ibrâhîm q kepada tamu-tamunya.
5. Menyediakan stok bahan di dalam rumah, sehingga beliau tidak perlu membeli di pasar atau di tetangga.
6. Nabi Ibrâhîm alahissallam mendekatkan jamuan kepada para tamu dengan meletakkan jamuan makanan di hadapan mereka. Tidak menaruhnya di tempat yang berjarak dan terpisah dari tamu, hingga harus meminta para tamunya untuk mendekati tempat tersebut, dengan memanggil, -misalnya- "kemarilah, wahai para tamu". Cara ini untuk lebih meringankan para tamu.
7. Nabi Ibrâhîm melayani tamu-tamunya sendiri. Tidak meminta bantuan orang lain, apalagi meminta tamu untuk membantunya, karena meminta bantuan kepada tamu termasuk perbuatan yang tidak etis.
8. Bertutur kata sopan dan lembut kepada tamu, terutama tatkala menyuguhkan jamuan. Dalam hal ini, Nabi Ibrâhîm menawarkannya dengan lembut: "Sudikah kalian menikmati makanan kami (silahkan kamu makan)?" Beliau Alaihissalam tidak menggunakan nada perintah, seperti: "Ayo, makan". Oleh karena itu, sebagai tuan rumah, seseorang harus memilih tutur kata simpatik lagi lembut, sesuai dengan situasinya.
Intinya, tuan rumah seharusnya memuliakan tamu, yaitu dengan memberikan perlakuan yang baik kepada tamunya. Allah menceritakan perihal mereka di rumah Nabi Ibrâhîm Alaihissalam dengan sifat mukramûn (memperoleh kemuliaan).
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrâhîm (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaman," Ibrâhîm menjawab: "Salamun" (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka, dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrâhîm berkata: "Silahkan kamu makan". [adz-Dzâriyât/51:24-27].
Demikianlah yang diajarkan oleh Nabiyyullah Ibrâhîm Alaihissalam kepada umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau Alaihissalam pantas menjadi teladan bagi umat manusia. Allah memuji dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya Ibrâhîm adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar ternasuk orang-orang yang shalih". [an-Nahl/16:120-122]
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengikuti ajaran-ajaran Nabi Ibrâhîm Alaihissalam :
"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrâhîm seorang yang hanif," dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb". [an-Nahl/16:123].
TIDAK MEMAKSAKAN DIRI DALAM MEMBERI JAMUAN KEPADA TAMU
Menjadi tuan rumah, memang seharusnya memberikan istimewa pelayanan kepada tamunya. Tetapi, jamuan yang disuguhkan kepada tamu, tidak sepantasnya dilakukan di luar batas kemampuannya. Sehingga sebagai tuan rumah tidak merasa berat atau memaksakan diri. Hingga mengusahakan ragam hidangan yang mungkin saja anggota keluarga belum pernah menikmatinya. Atau menikmatinya hanya saat momen-momen tertentu saja dan tidak sering.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang seseorang melakukan perbuatan yang dapat merepotkan diri sendiri. Melalui pemberitaan dari salah seorang sahabat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang takalluf dalam masalah ini. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
لاَيَتَكّلَّفَنَّ أَحَدٌ لِضَيْفِهِ مَا لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ
"Janganlah seseorang memaksakan diri (untuk melayani) tamunya dengan sesuatu yang tidak ia sanggupi". [Riwayat Abu Nu'aim, al Khathiib dan ad-Dailami. Lihat juga ash-Shahîhah, no. 2440)]
Pengertian takalluf sederhananya mengandung unsur pemaksaan diri dan pengusahaan di luar batas kemampuan.
Imam al-Hâkim meriwayatkan dari A'masy dari Syaqîq, ia berkata: Saya dan temanku mendatangi Salmân Radhiyallahu 'anhu. Kemudian ia menyuguhkan roti dan garam kepada kami sembari berkata :
لَولاَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا عَنِ التَّكَلُّفِ لََتَكّلْتُ لَكُمْ
"Seandainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melarang kami untuk berbuat takalluf, niscaya saya akan mengusahakannya".
Dikatakan oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah, bahwasanya hadits-hadits di atas dikuatkan oleh makna umum hadits di bawah ini:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ نُهِينَا عَنْ التَّكَلُّفِ
Dari Anas Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah bersama 'Umar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: "Kami dilarang dari perbuatan yang memaksakan diri". [HR al-Bukhâri, no. 6749].[3]
AWAS KEDUSTAAN DALAM PENYAMBUTAN!
Dalam point ini, perlu kiranya disampaikan sebuah tanbîh (catatan) bagi para tuan rumah yang sedang menjamu tamu-tamunya. Terutama kaum ibu. Karena terkadang, muncul gejala kedustaan saat menjamu tamu.
Misalnya, manakala tamu menyaksikan berbagai menu dan makanan tersaji di meja, kemudian sang tamu berkomentar –misalnya- "wah repot amat nih," maka tuan rumah meresponnya dengan berkata: "wah tak repot," padahal, tuan rumah benar-benar mengalami kerepotan dalam mempersiapkan sajian tersebut, bahkan sampai harus pergi ke pasar membeli bahan-bahan makanan, kalang-kabut dalam mempersiapkannya, dan lain-lain.
Atau ketika menyaksikan tamu bergegas mohon pamit padahal belum lama duduk, tuan rumah (ada yang) berkata: "Wah, belum dibuatkan minuman, kok sudah mau pulang?" Perkataan atau ungkapan sejenis ini, jika hanya sebatas buah bibir saja, maka perkataan tersebut sudah termasuk dalam kategori berbuat dusta.
Memang betul, tidak semua tuan rumah melakukan sebagaimana perbuatan ini. Namun, lantaran berkembangnya gejala basa-basi di sebagian daerah, permasalahan ini perlu untuk diperhatikan. Wallahu a'lam.
Islam mengajarkan bagi siapa saja yang menjadi tuan rumah, supaya menghormati tamu. Penghormatan itu tidak sebatas pada tutur kata yang halus untuk menyambutnya, akan tetapi, juga dengan perbuatan yang menyenangkan. Misalnya dengan memberikan jamuan, meski hanya sekedarnya.
Sikap memuliakan tamu, bukan hanya mencerminkan kemuliaan hati tuan rumah kepada tamu-tamunya. Memuliakan tamu, juga menjadi salah satu tanda tingkat keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Akhir. Dengan jamuan yang disuguhkan, ia berharap pahala dan balasan dari Allah pada hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya" [HR al-Bukhâri dan Muslim]
Imam Ahmad rahimahullah dan sejumlah ulama lainnya, seperti dikutip oleh Ibnu Katsîr rahimahullah, berpendapat wajibnya memberikan dhiyaafah (jamuan) kepada orang yang singgah (tamu). Hal ini berdasarkan ayat di atas dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. [Lihat Tafsir Ibni Katsîr, 7/420].
Saking besarnya hak tamu, ada tarhîb bagi orang yang tidak mengindahkan tamunya. kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
لاَ خَيْرَ فِيْمَنْ لَا يُضِيْفُ
"Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menjamu tamu". [HR Ahmad. Lihat ash-Shahîhah, no. 2434].
MENJAMU TAMU, MERUPAKAN SUNNAH NABI IBRAHIM
Memberi jamuan kepada tamu, merupakan kebiasaan sudah berkembang sejak lama, sebelum risalah Nabi Muhammad n diturunkan. Yang pertama kali melakukan perbuatan yang mulia ini, ialah Nabi Ibrâhiim Khalîlur Rahmân Alaihissalam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:
كان أول من ضيف الضيف ابراهيم
"Orang yang pertama kali memberi suguhan kepada tamu adalah Ibrâhîm. [Lihat ash-Shahîhah, 725].
Syaikh as-Sa'di rahimahullah menjelaskan, "Sesungguhnya memberi jamuan kepada tamu (dhiyâfah) termasuk sunnah (tradisi) Nabi Ibrâhîm yang Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan umatnya untuk mengikuti millah (ajaran) beliau. Di sini, Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan kisah ini (surat adz-Dzâriyât, Pen.) sebagai pujian dan sanjungan bagi beliau". [1]
Memang, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan umatnya, dititahkan untuk mengikuti ajaran-ajaran Nabi Ibrâhîm Alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrâhîm seorang yang hanif," dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb". [an-Nahl/16:123].
BAGAIMANA NABI IBRAAHIIM ALAIHISSALAM MENJAMU TAMU?
Berikut ini, pemaparan singkat yang dilakukan oleh Nabi Ibraahim Alaihissalam saat memuliakan para tamunya. Imam Ibnu Katsiir rahimahullah secara khusus mengatakan: "Ayat-ayat ini mengatur tata-cara menjamu tamu", dan mari kita perhatikan satu-persatu.
1. Menjawab ucapan salam dari tamu dengan jawaban yang lebih sempurna.
2. Nabi Ibrâhîm Alaihissalam tidak bertanya terlebih dahulu: "Apakah kalian mau hidangan dari kami?"
3. Nabi Ibrâhîm Alaihissalam bersegera menyuguhkan makanan kepada tamu.
Dikatakan oleh Syaikh as-Sa'di bahwa sebaik-baik kebajikan ialah yang disegerakan. Karena itu, Nabi Ibrâhîm Alaihissalam cepat-cepat menyuguhkan jamuan kepada para tamunya.
4. Menyuguhkan makanan terbaik yang beliau miliki, Yakni, daging anak sapi yang gemuk dan dibakar. Pada mulanya, daging tersebut tidak diperuntukkan untuk tamu. Akan tetapi, ketika ada tamu yang datang, maka apa yang sudah ada, beliau hidangkan kepada para tamu. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi penghormatan Nabi Ibrâhîm q kepada tamu-tamunya.
5. Menyediakan stok bahan di dalam rumah, sehingga beliau tidak perlu membeli di pasar atau di tetangga.
6. Nabi Ibrâhîm alahissallam mendekatkan jamuan kepada para tamu dengan meletakkan jamuan makanan di hadapan mereka. Tidak menaruhnya di tempat yang berjarak dan terpisah dari tamu, hingga harus meminta para tamunya untuk mendekati tempat tersebut, dengan memanggil, -misalnya- "kemarilah, wahai para tamu". Cara ini untuk lebih meringankan para tamu.
7. Nabi Ibrâhîm melayani tamu-tamunya sendiri. Tidak meminta bantuan orang lain, apalagi meminta tamu untuk membantunya, karena meminta bantuan kepada tamu termasuk perbuatan yang tidak etis.
8. Bertutur kata sopan dan lembut kepada tamu, terutama tatkala menyuguhkan jamuan. Dalam hal ini, Nabi Ibrâhîm menawarkannya dengan lembut: "Sudikah kalian menikmati makanan kami (silahkan kamu makan)?" Beliau Alaihissalam tidak menggunakan nada perintah, seperti: "Ayo, makan". Oleh karena itu, sebagai tuan rumah, seseorang harus memilih tutur kata simpatik lagi lembut, sesuai dengan situasinya.
Intinya, tuan rumah seharusnya memuliakan tamu, yaitu dengan memberikan perlakuan yang baik kepada tamunya. Allah menceritakan perihal mereka di rumah Nabi Ibrâhîm Alaihissalam dengan sifat mukramûn (memperoleh kemuliaan).
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrâhîm (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaman," Ibrâhîm menjawab: "Salamun" (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka, dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrâhîm berkata: "Silahkan kamu makan". [adz-Dzâriyât/51:24-27].
Demikianlah yang diajarkan oleh Nabiyyullah Ibrâhîm Alaihissalam kepada umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau Alaihissalam pantas menjadi teladan bagi umat manusia. Allah memuji dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya Ibrâhîm adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar ternasuk orang-orang yang shalih". [an-Nahl/16:120-122]
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengikuti ajaran-ajaran Nabi Ibrâhîm Alaihissalam :
"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrâhîm seorang yang hanif," dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb". [an-Nahl/16:123].
TIDAK MEMAKSAKAN DIRI DALAM MEMBERI JAMUAN KEPADA TAMU
Menjadi tuan rumah, memang seharusnya memberikan istimewa pelayanan kepada tamunya. Tetapi, jamuan yang disuguhkan kepada tamu, tidak sepantasnya dilakukan di luar batas kemampuannya. Sehingga sebagai tuan rumah tidak merasa berat atau memaksakan diri. Hingga mengusahakan ragam hidangan yang mungkin saja anggota keluarga belum pernah menikmatinya. Atau menikmatinya hanya saat momen-momen tertentu saja dan tidak sering.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang seseorang melakukan perbuatan yang dapat merepotkan diri sendiri. Melalui pemberitaan dari salah seorang sahabat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang takalluf dalam masalah ini. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
لاَيَتَكّلَّفَنَّ أَحَدٌ لِضَيْفِهِ مَا لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ
"Janganlah seseorang memaksakan diri (untuk melayani) tamunya dengan sesuatu yang tidak ia sanggupi". [Riwayat Abu Nu'aim, al Khathiib dan ad-Dailami. Lihat juga ash-Shahîhah, no. 2440)]
Pengertian takalluf sederhananya mengandung unsur pemaksaan diri dan pengusahaan di luar batas kemampuan.
Imam al-Hâkim meriwayatkan dari A'masy dari Syaqîq, ia berkata: Saya dan temanku mendatangi Salmân Radhiyallahu 'anhu. Kemudian ia menyuguhkan roti dan garam kepada kami sembari berkata :
لَولاَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا عَنِ التَّكَلُّفِ لََتَكّلْتُ لَكُمْ
"Seandainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melarang kami untuk berbuat takalluf, niscaya saya akan mengusahakannya".
Dikatakan oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah, bahwasanya hadits-hadits di atas dikuatkan oleh makna umum hadits di bawah ini:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ نُهِينَا عَنْ التَّكَلُّفِ
Dari Anas Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah bersama 'Umar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: "Kami dilarang dari perbuatan yang memaksakan diri". [HR al-Bukhâri, no. 6749].[3]
AWAS KEDUSTAAN DALAM PENYAMBUTAN!
Dalam point ini, perlu kiranya disampaikan sebuah tanbîh (catatan) bagi para tuan rumah yang sedang menjamu tamu-tamunya. Terutama kaum ibu. Karena terkadang, muncul gejala kedustaan saat menjamu tamu.
Misalnya, manakala tamu menyaksikan berbagai menu dan makanan tersaji di meja, kemudian sang tamu berkomentar –misalnya- "wah repot amat nih," maka tuan rumah meresponnya dengan berkata: "wah tak repot," padahal, tuan rumah benar-benar mengalami kerepotan dalam mempersiapkan sajian tersebut, bahkan sampai harus pergi ke pasar membeli bahan-bahan makanan, kalang-kabut dalam mempersiapkannya, dan lain-lain.
Atau ketika menyaksikan tamu bergegas mohon pamit padahal belum lama duduk, tuan rumah (ada yang) berkata: "Wah, belum dibuatkan minuman, kok sudah mau pulang?" Perkataan atau ungkapan sejenis ini, jika hanya sebatas buah bibir saja, maka perkataan tersebut sudah termasuk dalam kategori berbuat dusta.
Memang betul, tidak semua tuan rumah melakukan sebagaimana perbuatan ini. Namun, lantaran berkembangnya gejala basa-basi di sebagian daerah, permasalahan ini perlu untuk diperhatikan. Wallahu a'lam.
Larangan Memberat-beratkan Diri dalam Menjamu Tamu
Diriwayatkan dari Syaqiq, ia berkata, "Aku dan temanku datang menemui Salman al-Farisi r.a. Beliau menghidangkan kepada kami roti dan garam. Ia berkata, 'Kalau bukan karena Rasulullah saw. melarang kami memberat-beratkan diri niscaya aku akan menjamu kalian berdua lebih banyak lagi.'
Temanku itu berkata, 'Alangkah nikmat kalau garam ini dicampur sayur!' Maka Salmna pun pergi membawa bejananya ke penjual sayur lalu menggadaikannya untuk mengambil sayur. Lalu ia pun membawa sayur itu dan dibubuhinya dengan garam. Ketika kami makan temanku itu berseru, 'Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kami qonaah menerima apa yang telah diizinkan kepada kami.' Maka Salman pun menimpalinya, 'Kalaulah kamu qona'ah menerima apa yang dirizkikan kepadamu tentunya bejanaku tidak akan tergadai di tangan penjual sayur'," (Hasan, HR al-Hakim [IV/123]).
Kandungan Bab:
1. Larangan memberat-beratkan diri dalam menjamu tamu dengan sesuatu yang tidak disanggupinya. Karena hal itu tidak akan terlepas dari dua hal, mendapat kesulitan atau riya'. Dan kedua-duanya buruk, wal iyadz billah.
2. Seorang tamu hendaklah menerima apa yang dihidangkan oleh tuan rumah, janganla ia menyusahkan tuan rumah.
3. Seorang tamu tidak boleh berlama-lama di rumah orang yang dikunjunginya sehingga memberatkannya. Dalilnya adalah hadits Abu Syuraih al-Ka'bi r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa berimana kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya, batas waktu jamuannya adalah satu hari satu malam. Kewajiban menjamu tamu adalah tiga hari. Adapun lebih dari itu adalah sedekah. Tidak halal baginya berlama-lama di rumah orang yang dikunjunginya sehingga menyusahkannya," (HR Bukhari [6135] dan Muslim [III/1353]).
Dalam riwayat Muslim berbunyi, "Tidak halal bagi seorang muslm bermukim di rumah saudaranya seagama sehingga membuatnya berdosa." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah bisa membuatnya berdosa?" Rasul menjawab, "Ia berlama-lama di rumahnya sehingga ia tidak memiliki apapun untuk dihidangkan."
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 3/108-109.
Temanku itu berkata, 'Alangkah nikmat kalau garam ini dicampur sayur!' Maka Salmna pun pergi membawa bejananya ke penjual sayur lalu menggadaikannya untuk mengambil sayur. Lalu ia pun membawa sayur itu dan dibubuhinya dengan garam. Ketika kami makan temanku itu berseru, 'Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kami qonaah menerima apa yang telah diizinkan kepada kami.' Maka Salman pun menimpalinya, 'Kalaulah kamu qona'ah menerima apa yang dirizkikan kepadamu tentunya bejanaku tidak akan tergadai di tangan penjual sayur'," (Hasan, HR al-Hakim [IV/123]).
Kandungan Bab:
1. Larangan memberat-beratkan diri dalam menjamu tamu dengan sesuatu yang tidak disanggupinya. Karena hal itu tidak akan terlepas dari dua hal, mendapat kesulitan atau riya'. Dan kedua-duanya buruk, wal iyadz billah.
2. Seorang tamu hendaklah menerima apa yang dihidangkan oleh tuan rumah, janganla ia menyusahkan tuan rumah.
3. Seorang tamu tidak boleh berlama-lama di rumah orang yang dikunjunginya sehingga memberatkannya. Dalilnya adalah hadits Abu Syuraih al-Ka'bi r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa berimana kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya, batas waktu jamuannya adalah satu hari satu malam. Kewajiban menjamu tamu adalah tiga hari. Adapun lebih dari itu adalah sedekah. Tidak halal baginya berlama-lama di rumah orang yang dikunjunginya sehingga menyusahkannya," (HR Bukhari [6135] dan Muslim [III/1353]).
Dalam riwayat Muslim berbunyi, "Tidak halal bagi seorang muslm bermukim di rumah saudaranya seagama sehingga membuatnya berdosa." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah bisa membuatnya berdosa?" Rasul menjawab, "Ia berlama-lama di rumahnya sehingga ia tidak memiliki apapun untuk dihidangkan."
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 3/108-109.
TINGGINYA HAK SEORANG TAMU DALAM SYARI’AT ISLAM
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Al Imam Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan: “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.”
Pembaca yang mulia, semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang diridloi-Nya dan menjaga kita dari segala kejelekan. Tamu memiliki hak yang tinggi dalam syari’at agama Islam. Menyambut, memuliakan dan menjamunya merupakan syiar Islam yang harus dijaga. Demikianlah dakwah yang diemban oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menyempurnakan akhlaq dan adab umat manusia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq (umat manusia).”
Para pembaca, semoga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada kita semua, syi’ar ini merupakan bukti kesempurnaan dan rahmat Islam terhadap umat manusia. Sampai-sampai dikatakan oleh shahabat Abu Dzar Al Ghifari t (artinya):
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kita dalam keadaan tiada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara melainkan pasti telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ilmunya kepada kita. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (HR. Ath Thabrani, dalam Al Kabir 2/211)
Makna perkataan shahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu adalah bahwa seluruh perkara agama ini telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan sempurna sampai perkara yang sekecil-kecilnya. Apalagi perkara tamu, tentunya Islam merupakan agama yang terdepan dan paling sempurna dalam memuliakannya.
Anjuran Memuliakan Tamu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Al Imam Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan: “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.”
Dari hadits di atas terdapat beberapa kandungan yang mulia, diantaranya:
1. Memuliakan Tamu merupakan bentuk kewajiban
Di dalam hadits di atas memuliakan tamu merupakan sunnah (jalan/tuntunan) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, ia merupakan perintah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang sudah sepantasnya seorang muslim yang mengaku cinta kepadanya untuk menjalankannya. Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Dan segala apa yang diperintah Rasulullah maka kerjakanlah, dan segala yang dilarang darinya maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)
2. Penyempurna Iman
Allah subhanahu wata’ala memberitakan lewat lisan Rasul-Nya yang mulia, bahwa perkara memuliakan tamu berkaitan dengan kesempurnaan iman seseorang kepada Allah subhanahu wata’ala dan hari akhir yang keduanya merupakan bagian dari rukun iman yang enam yang wajib diyakini oleh setiap pribadi muslim. Sehingga salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang bisa diketahui dari sikapnya kepada tamunya. Semakin baik ia menyambut dan menjamu tamu semakin tinggi pula nilai keimanannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan sebaliknya, manakala ia kurang perhatian (meremehkan) terhadap tamunya, maka ini pertanda kurang sempurnanya nilai keimanannya kepada Allah subhanahu wata’ala.
Memuliakan Tamu adalah Akhlaq Para Nabi dan Orang-Orang Shalih
Para pembaca yang mulia, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menyebutkan kisah-kisah mulia di dalam Al Qur’an, yang demikian itu tidak lain sebagai pelajaran bagi kita semua. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)
Allah subhanahu wata’ala telah menyebutkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamunya. Ketika Allah subhanahu wata’ala hendak mengaruniakan kepadanya seorang anak yang ‘alim yang bernama Ishaq, Allah subhanahu wata’ala mengutus para Malaikat untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada beliau ‘alaihi salam. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Nabi Ibrahim (para Malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan salam, Nabi Ibrahim menjawab: salamun, (kalian) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi yang gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Nabi Ibrahim berkata: Silahkan kalian makan…” (Adz Dzariyat: 24-27)
Dari kisah yang mulia tersebut, kita bisa memetik beberapa pelajaran yang sangat berharga, di antaranya:
1. Menjamu dan memuliakan tamu merupakan millah (agama, petunjuk) Nabi Ibrahim ‘alaihi salam
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya diperintahkan untuk mengikuti millah-nya tersebut. Sebagaimana firman-Nya (artinya): “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam); Ikutilah millah Nabi Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat syirik.” (An Nahl: 123)
2. Bersegera dalam menyambut dan menjamu tamu
Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihi salam, dia bersegera untuk mendatangi keluarganya (فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ) dan mempersiapkan hidangan untuk menjamu tamunya tersebut, tanpa harus menawari dulu kepada tamunya.
3. Menjawab salam dengan yang terbaik
Dalam ayat di atas juga terdapat tuntunan dalam menjawab salam, yaitu dengan yang serupa atau yang lebih baik. sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan (salam) itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An Nisa’: 86)
4. Menghidangkan kepada tamu dengan hidangan yang paling baik
Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam ketika menghidangkan daging anak sapi yang gemuk (عِجْلٍ سَمِيْنٍ) kepada para tamunya. Dan dalam ayat yang lain di dalam surat Hud dengan lafazh (عِجْلٍ حَنِيْذٍ ), yakni daging anak sapi yang dipanggang. Makanan ini (daging anak sapi yang dipanggang) merupakan makanan yang sangat lezat dan paling baik pada waktu itu.
5. Meletakkan hidangan tersebut di dekat tamunya
Allah subhanahu wata’ala menyatakan فَقَرَّبَه إِلَيْهِمْ (Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mendekatkan hidangan itu kepada mereka). Tidaklah Nabi Ibrahim meletakkan hidangan tersebut jauh dari tempat para tamunya, dan tentunya hal ini lebih memudahkan bagi para tamu untuk menikmati hidangan tersebut.
6. Menyambut/mengajak bicara dengan bahasa yang sopan dan baik
Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mengatakan ketika menghidangkan makanannya:
أَلاَ تَأْكُلُوْنَ (Silahkan kalian makan) dan tidak mengatakan: كُلُوْا (makanlah). Menggunakan lafadz “Silahkan” atau yang semisalnya itu lebih sopan dan lebih baik pula daripada kalimat yang kedua.
Dan termasuk adab terhadap tamu adalah menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari hal-hal yang bisa memudharatkannya. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Nabi Luth ‘alaihi salam ketika datang kepada beliau para Malaikat yang menjelma sebagai tamu yang sangat tampan wajahnya. Kedatangan tamu-tamu tersebut mengundang fitnah terhadap kaum beliau ‘alaihi salam dan mereka hendak berbuat Liwath (homoseks) terhadapnya, karena kaum Nabi Luth ‘alaihi salam adalah kaum yang telah biasa melakukan kemungkaran ini (Liwath). Suatu kemungkaran yang tidak pernah dilakukan oleh seorang manusia pun di muka bumi ini sebelumnya.
Maka Nabi Luth ‘alaihi salam pun berupaya untuk menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari kekejian yang hendak dilakukan oleh kaumnya tersebut. Kisah ini bisa dilihat dalam surat Hud ayat 77-83 dan surat Al Hijr ayat 67-71.
Demikian pula praktek para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam menyambut dan menjamu tamu sangatlah patut dijadikan uswah (suri tauladan) bagi umat Islam.
Tahukah anda siapakah shahabat Anshar? Shahabat Anshar adalah para shahabat yang tinggal di negeri Madinah yang siap membela dakwah nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka pulalah orang-orang yang dijadikan Allah subhanahu wata’ala sebagai uswah dalam menyambut/menjamu tamu. Ketika para Muhajirin (para shahabat yang berhijrah/pindah dari Makkah dan yang lainnya menuju Madinah) telah sampai di kota Madinah, para shahabat Anshar berlomba-lomba untuk menyambut dan menjamu mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin daripada kebutuhan diri mereka sendiri, walaupun sebenarnya mereka sendiri pun sangat membutuhkannya. Sehingga kisah ini Allah subhanahu wata’ala abadikan di dalam Al Qur’an sebagai tanda kebersihan dan kejujuran iman para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan sekaligus sebagai uswah (suri tauladan) bagi generasi sesudahnya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“… Dan mereka lebih mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri sangat membutuhkannya.” (Al Hasyr: 9)
Sehingga benarlah apa yang dikatakan oleh Al Imam An Nawawi: “Menjamu dan memuliakan tamu adalah termasuk adab dalam Islam dan merupakan akhlaq para nabi dan orang-orang shalih.” (Syarh Shahih Muslim)
Beberapa Hal Penting yang Perlu Diperhatikan dalam Menjamu Tamu
Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah, agama Islam menganjurkan kepada pemeluknya agar menjamu tamunya sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya adalah:
1. Anjuran untuk menjamu tamu selama tiga hari, jamuan hari pertama lebih istimewa daripada hari sesudahnya
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ . قَالُوا: وَمَا جَائِزَتُهُ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: يَوْمٌ وَلَيْلَتُهُ وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَالِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya yaitu jaizah-nya.” Para shahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan jaizah itu, wahai Rasulullah?” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jaizah itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih istimewa dibanding hari yang setelahnya). Sedangkan penjamuan itu adalah tiga hari adapun selebihnya adalah shadaqah.” (HR. Al Bukhari no. 6135 dan Muslim no. 1726, hadits dari Abu Syuraih Al ‘Adawi, lihat Fathul Bari hadits no. 6135)
2. Menjamu tamu sesuai dengan kemampuan
Dari Sulaiman radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
نَهَانَا رَسُوْلُ اللهِ r أَنْ نَتَكَلَّفَ لِلضَّيْفِ مَا لَيْسَ عِنْدَنَا
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang kami memaksakan diri dalam menjamu tamu dengan sesuatu yang diluar kemampuan.” (HR. Al Bukhari, Ahmad, dan lainnya)
وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Al Imam Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan: “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.”
Pembaca yang mulia, semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang diridloi-Nya dan menjaga kita dari segala kejelekan. Tamu memiliki hak yang tinggi dalam syari’at agama Islam. Menyambut, memuliakan dan menjamunya merupakan syiar Islam yang harus dijaga. Demikianlah dakwah yang diemban oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menyempurnakan akhlaq dan adab umat manusia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq (umat manusia).”
Para pembaca, semoga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada kita semua, syi’ar ini merupakan bukti kesempurnaan dan rahmat Islam terhadap umat manusia. Sampai-sampai dikatakan oleh shahabat Abu Dzar Al Ghifari t (artinya):
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kita dalam keadaan tiada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara melainkan pasti telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ilmunya kepada kita. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (HR. Ath Thabrani, dalam Al Kabir 2/211)
Makna perkataan shahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu adalah bahwa seluruh perkara agama ini telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan sempurna sampai perkara yang sekecil-kecilnya. Apalagi perkara tamu, tentunya Islam merupakan agama yang terdepan dan paling sempurna dalam memuliakannya.
Anjuran Memuliakan Tamu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Al Imam Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan: “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.”
Dari hadits di atas terdapat beberapa kandungan yang mulia, diantaranya:
1. Memuliakan Tamu merupakan bentuk kewajiban
Di dalam hadits di atas memuliakan tamu merupakan sunnah (jalan/tuntunan) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, ia merupakan perintah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang sudah sepantasnya seorang muslim yang mengaku cinta kepadanya untuk menjalankannya. Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Dan segala apa yang diperintah Rasulullah maka kerjakanlah, dan segala yang dilarang darinya maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)
2. Penyempurna Iman
Allah subhanahu wata’ala memberitakan lewat lisan Rasul-Nya yang mulia, bahwa perkara memuliakan tamu berkaitan dengan kesempurnaan iman seseorang kepada Allah subhanahu wata’ala dan hari akhir yang keduanya merupakan bagian dari rukun iman yang enam yang wajib diyakini oleh setiap pribadi muslim. Sehingga salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang bisa diketahui dari sikapnya kepada tamunya. Semakin baik ia menyambut dan menjamu tamu semakin tinggi pula nilai keimanannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan sebaliknya, manakala ia kurang perhatian (meremehkan) terhadap tamunya, maka ini pertanda kurang sempurnanya nilai keimanannya kepada Allah subhanahu wata’ala.
Memuliakan Tamu adalah Akhlaq Para Nabi dan Orang-Orang Shalih
Para pembaca yang mulia, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menyebutkan kisah-kisah mulia di dalam Al Qur’an, yang demikian itu tidak lain sebagai pelajaran bagi kita semua. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)
Allah subhanahu wata’ala telah menyebutkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamunya. Ketika Allah subhanahu wata’ala hendak mengaruniakan kepadanya seorang anak yang ‘alim yang bernama Ishaq, Allah subhanahu wata’ala mengutus para Malaikat untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada beliau ‘alaihi salam. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Nabi Ibrahim (para Malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan salam, Nabi Ibrahim menjawab: salamun, (kalian) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi yang gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Nabi Ibrahim berkata: Silahkan kalian makan…” (Adz Dzariyat: 24-27)
Dari kisah yang mulia tersebut, kita bisa memetik beberapa pelajaran yang sangat berharga, di antaranya:
1. Menjamu dan memuliakan tamu merupakan millah (agama, petunjuk) Nabi Ibrahim ‘alaihi salam
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya diperintahkan untuk mengikuti millah-nya tersebut. Sebagaimana firman-Nya (artinya): “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam); Ikutilah millah Nabi Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat syirik.” (An Nahl: 123)
2. Bersegera dalam menyambut dan menjamu tamu
Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihi salam, dia bersegera untuk mendatangi keluarganya (فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ) dan mempersiapkan hidangan untuk menjamu tamunya tersebut, tanpa harus menawari dulu kepada tamunya.
3. Menjawab salam dengan yang terbaik
Dalam ayat di atas juga terdapat tuntunan dalam menjawab salam, yaitu dengan yang serupa atau yang lebih baik. sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan (salam) itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An Nisa’: 86)
4. Menghidangkan kepada tamu dengan hidangan yang paling baik
Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam ketika menghidangkan daging anak sapi yang gemuk (عِجْلٍ سَمِيْنٍ) kepada para tamunya. Dan dalam ayat yang lain di dalam surat Hud dengan lafazh (عِجْلٍ حَنِيْذٍ ), yakni daging anak sapi yang dipanggang. Makanan ini (daging anak sapi yang dipanggang) merupakan makanan yang sangat lezat dan paling baik pada waktu itu.
5. Meletakkan hidangan tersebut di dekat tamunya
Allah subhanahu wata’ala menyatakan فَقَرَّبَه إِلَيْهِمْ (Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mendekatkan hidangan itu kepada mereka). Tidaklah Nabi Ibrahim meletakkan hidangan tersebut jauh dari tempat para tamunya, dan tentunya hal ini lebih memudahkan bagi para tamu untuk menikmati hidangan tersebut.
6. Menyambut/mengajak bicara dengan bahasa yang sopan dan baik
Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mengatakan ketika menghidangkan makanannya:
أَلاَ تَأْكُلُوْنَ (Silahkan kalian makan) dan tidak mengatakan: كُلُوْا (makanlah). Menggunakan lafadz “Silahkan” atau yang semisalnya itu lebih sopan dan lebih baik pula daripada kalimat yang kedua.
Dan termasuk adab terhadap tamu adalah menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari hal-hal yang bisa memudharatkannya. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Nabi Luth ‘alaihi salam ketika datang kepada beliau para Malaikat yang menjelma sebagai tamu yang sangat tampan wajahnya. Kedatangan tamu-tamu tersebut mengundang fitnah terhadap kaum beliau ‘alaihi salam dan mereka hendak berbuat Liwath (homoseks) terhadapnya, karena kaum Nabi Luth ‘alaihi salam adalah kaum yang telah biasa melakukan kemungkaran ini (Liwath). Suatu kemungkaran yang tidak pernah dilakukan oleh seorang manusia pun di muka bumi ini sebelumnya.
Maka Nabi Luth ‘alaihi salam pun berupaya untuk menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari kekejian yang hendak dilakukan oleh kaumnya tersebut. Kisah ini bisa dilihat dalam surat Hud ayat 77-83 dan surat Al Hijr ayat 67-71.
Demikian pula praktek para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam menyambut dan menjamu tamu sangatlah patut dijadikan uswah (suri tauladan) bagi umat Islam.
Tahukah anda siapakah shahabat Anshar? Shahabat Anshar adalah para shahabat yang tinggal di negeri Madinah yang siap membela dakwah nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka pulalah orang-orang yang dijadikan Allah subhanahu wata’ala sebagai uswah dalam menyambut/menjamu tamu. Ketika para Muhajirin (para shahabat yang berhijrah/pindah dari Makkah dan yang lainnya menuju Madinah) telah sampai di kota Madinah, para shahabat Anshar berlomba-lomba untuk menyambut dan menjamu mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin daripada kebutuhan diri mereka sendiri, walaupun sebenarnya mereka sendiri pun sangat membutuhkannya. Sehingga kisah ini Allah subhanahu wata’ala abadikan di dalam Al Qur’an sebagai tanda kebersihan dan kejujuran iman para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan sekaligus sebagai uswah (suri tauladan) bagi generasi sesudahnya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“… Dan mereka lebih mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri sangat membutuhkannya.” (Al Hasyr: 9)
Sehingga benarlah apa yang dikatakan oleh Al Imam An Nawawi: “Menjamu dan memuliakan tamu adalah termasuk adab dalam Islam dan merupakan akhlaq para nabi dan orang-orang shalih.” (Syarh Shahih Muslim)
Beberapa Hal Penting yang Perlu Diperhatikan dalam Menjamu Tamu
Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah, agama Islam menganjurkan kepada pemeluknya agar menjamu tamunya sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya adalah:
1. Anjuran untuk menjamu tamu selama tiga hari, jamuan hari pertama lebih istimewa daripada hari sesudahnya
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ . قَالُوا: وَمَا جَائِزَتُهُ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: يَوْمٌ وَلَيْلَتُهُ وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَالِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya yaitu jaizah-nya.” Para shahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan jaizah itu, wahai Rasulullah?” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jaizah itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih istimewa dibanding hari yang setelahnya). Sedangkan penjamuan itu adalah tiga hari adapun selebihnya adalah shadaqah.” (HR. Al Bukhari no. 6135 dan Muslim no. 1726, hadits dari Abu Syuraih Al ‘Adawi, lihat Fathul Bari hadits no. 6135)
2. Menjamu tamu sesuai dengan kemampuan
Dari Sulaiman radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
نَهَانَا رَسُوْلُ اللهِ r أَنْ نَتَكَلَّفَ لِلضَّيْفِ مَا لَيْسَ عِنْدَنَا
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang kami memaksakan diri dalam menjamu tamu dengan sesuatu yang diluar kemampuan.” (HR. Al Bukhari, Ahmad, dan lainnya)
Langganan:
Postingan (Atom)