NAMPANG DI PEMATANG SAWAH

NAMPANG DI PEMATANG SAWAH
ECTION DULU YACH...!!!

Kamis, 27 Januari 2011

Hakikat Kecantikan dan Ketampanan

Mengukur kecantikan/ketampanan seseorang menjadi relatif, tergantung siapa yang berkomentar dan dari sudut apa penilaian dilakukan, bisa karena ukuran tinggi badan, bentuk wajah, atau warna kulit seseorang. Sesungguhnya tak mungkin kita akan bersombong ria,dengan menghina orang lain (baik secara lisan atau di dalam hati) eh…kamu tuh jelek,hidungmu dataran rendah, mukamu berjerawat, badanmu semampai (semeterpun tak sampai alias pendek), gemuk, kulit hitam legam, matamu sipit,dll. karena kecantikan dan ketampanan lahiriah ini didapat gratis dariAllah swt. tanpa campur tangan orang yang bersangkutan, diberikan begitu saja,

"Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At- Tiin 95: 4).

Walaupun telah diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, kecantikan dan ketampanan ini hanyalah titipan, akan berarti bila disertai ketaqwaan.

"Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kalian, juga tidak penampilan kalian, tapi melihat hati dan amal perbuatan kalian. Taqwa itu di sini, taqwa itu di sini, taqwa itu di sini,beliau pun menunjuk dadanya." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kemuliaan manusia hanya dengan iman dan mengerjakan amal shaleh, sebagaimana diterangkan dalam Q.S.At –Tiin 95: 6.
Oleh karenanya, tampilan apa pun yang ikhwan/akhwat miliki tak usah berkecil hati. Betapa adilnya Allah yang mengukur kecantikan/ketampanan kita semata dari isi hati masing-masing.

Agar kecantikan/ketampanan yang ada di dalam seseorang terpancar keluar,diperlukan beberapa hal sebagai berikut:

Menjaga Lisan Dalam bahasa Indonesia dikenal sebuah pepatah, mulutmu adalah harimau. Maksudnya, apa-apa yang kita ucapkan dapat berdampak langsung mencelakakan si pembicara ke dalam kebinasaan akibat kata-kata yang diucapkannya itu. Menarik atau tidaknya seseorang, dapat terpancar dengan tutur kata yang santun, lemah lembut, menyejukkan, sapaan ramah, walau isi yang disampaikannya itu mungkin menyangkut hal yang sederhana sekali pun,apalagi bila ditambah dengan wawasan keilmuannyamumpuni/berbobot. Ia selalu hadir menempatkan dirinya menjadi pribadi yang tawadhu (rendahhati), apabila tahu ia katakan tahu, apabila tidak ia akan bertanya pada ahlinya.

1. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk dapat menjaga tutur kata,

"…Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah bertutur yang baik atau diam." ( DiriwayatkanAsy-Syaikhany dan IbnuMajah).

Rasulullah saw. menetapkan dua pilihan: bertutur kata yang mengandung unsur kebaikan atau diam, karena pada dasarnya semua perkataan itu tidak terlepas dari dua nilai, yaitu perkataan berunsur kebaikan dan perkataan berunsur keburukan. Tidak berkata-kata alias diam (tidakberkomentar) karena apabila berkomentar dipandang mengandung unsurkeburukan. Misalkan menahan diri dari mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakiti hati orang, meledek/menghina, mencaci maki,menghasut/provokasi, mengkritik orang dengan tidak arif, dll.

Hadits lain dalam riwayat Bukhari dan Muslim menerangkan, perkataanyang manis adalah salah satu bentuk shadaqah. Bahkan Al Qur’an menerangkan:

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baikdaripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan(perasaan penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Pengampun." (Q.S.Al-Baqarah 2: 262).

2. Perilaku yang Baik

"Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik perilakunya." (H.R. Bukhari).

At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Jabir, sesungguhnya Nabi berkata,

"Sesungguhnya orangyang paling aku senangi dan paling dekat kedudukannya denganku kelak pada hari kiamat adalah yang terbaik perilakunya di antara kalian."

Juga hadits yang lain,

"Sesungguhnya aku(Rasulullah saw.) diutus untuk menyempurnakan perilaku yang benar." (H.R.Ahmad).

Firman Allah swt.,

"Dan sesungguhnya kamu (Rasulullah saw.)benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Q.S. Al Qolam 68: 4).

Menurut Aisyah r.a., istri Rasul, perilaku Muhammad saw. adalah cerminan kandungan Al Qur’an. Misalkan kesabaran, jiwa pemaaf,keikhlasan dalam beramal, keberanian membela yang benar/hak,bijaksana, dll. Sangat banyak keterangan yang mengajak kita berperilaku cantik dan tampan dalam hal akhlak/perilaku, dengan cara berupaya mengamalkan firman-Nya. Kalau perilaku ini sudah terlatih (melalui riyadhoh/latihanmembiasakan diri sehingga menjadi kebutuhan), insya Allah menjadi sifat yang tertanam kuat di dalam jiwa. Dengan sendirinya akan melahirkan perbuatan amal shaleh yang dibiasakan, tanpa harus terpaksa.

Misalnya hati akan mudah tergerak untuk memberi tanpa harus lebih dahulu diberi oleh orang lain, kesabaran hatinya melahirkan sikap yang tanpa menyerah menghadapi komentar orang bodoh/jahil terhadapnya lalu mampu memaafkannya, dan bertindak bijaksana/hati-hati mengharuskan ia menimbang dahulu apa saja dengan pertimbangan kemaslahatan untuk dirinya, keluarganya, lingkungan,dan umat.

3. Mampu Mengendalikan Diri Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah saw.bersabda,

"Orangkuat itu bukan karena (kekuatannya) pada saat berkelahi. Tapi,sesungguhnya orang kuat itu adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat marah." (H.R. Bukhari, Muslim, danAbu Daud).

Boleh-boleh saja ikhwan/akhwat marah terhadap seseorang/pada suatu keadaan, asal dalam kemarahan itu ia tetap dapat menjaga lisan dan perbuatan, jangan terlalu memperturutkan hawa nafsu ingin marah tanpa kendali. Misalkan sambil mencaci-maki, memukul, sambil melempar barang, tidak mau memaafkan kesalahan orang yang membuat kita marah/dendam, marah sampai berhari-hari, memutuskan tali silaturahmi,dll.

Pada umumnya reaksi orang pada saat marah biasanya raut muka memerah,kedua matanya membelalak, urat leher tegang, hati tersulut emosi, dankata-kata tak terkontrol, sehingga membuat orangdi sekelilingnyatidak nyaman bila berdekatan dengannya.Upayakan penampilan ikhwan/akhwat tetap menarik walau dalam keadaan marah sekalipun. Caranya dengan melatih diri untukmenegur/memarahi orang dengan niat karena Allah, membenci pun karena Allah swt. Kita benci pada perbuatanya bukan pada orangnya, sehingga menjadi ibadah,bukan memperturutkan hawa nafsu syetan.

4. Memiliki Rasa Malu Dari Imran bin Hushain, ia berkata, Nabi saw.bersabda,

"Malu itu hanya bisa tercipta dari kebaikan." (H.R. Bukhari,Muslim dan Ahmad).

Rasa malu seseorang kepada Allah swt. dapat melahirkan suatu kebaikan. Misalkan ketika bertemu dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya lalu menundukkan pandangan/tidak menatap dengan syahwat,ketika bergaul ia mampu menahan kata-katanya untuk tidak membicarakan hal yang sia-sia,dll. semata-mata karena merasa malu kepada SWT. Orang tersebut malu bila menggunakan karunia/nikmat Allah swt. untukkemaksiatan, iasadar selalu diawasi oleh Nya.

Menjauhi Prasangka, Memata-Matai, Dengki, dan Saling Memusuhi Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw.berkata,

"Jauhilah oleh kalian berprasangka, sesungguhnya berprasangka itu sebohong-bohong perkataan. Dan janganlah kalian saling memata-matai,saling menduga-duga (kesalahan orang lain), saling mendengki, saling membenci, dan saling memusuhi. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allahyang bersaudara, sebagaimana telah Ia perintahkan. Orang Muslim itu adalah saudara orang Muslim lainnya, tidak menzaliminya, menghinakannya dan merendahkannya. Cukuplah kejahatanorang Muslim itu ketika ia merendahkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya diharamkan: Darahnya, hartanya, dankehormatannya."(H.R. Bukhari dan Muslim).

Kita dilarang: Mengorek/memata-matai aib/aurat/keburukan/sisi negatiforang untuk diberitahukan kepada yang lain (tajassus)atau untuk dirisendiri (tahassus). Hasad, berharap agar nikmatyang didapat oranglain secepatnya musnah, sama saja apakah harapan itu diikuti dengan usaha memusnahkannya atau tidak.

Tadabur yaitu saling menjauhi,berpaling, atau memusuhi. Haqr, menghina,merendahkan, dan menganggap remeh. Zhann, kecurigaan yang tanpa sebab, tanpadasar, yang tidak ada kesesuaian dengan kenyataan, tanpa melihatbukti-bukti. Walaupun demikian, ada zhann (prasangka) yang diperbolehkan, misalnya terhadap orang yang terang-terangan menunjukkan potensi untuk diragukan, zhann terhadap masalah yang terang-terang akan mencelakakan, zhann bahwa Allah itu Maha Adil, tidak pernah zalim pada hambanya. Memata-matai orang diperbolehkan untuk tujuan menjauhkan dari kerusakan karena pertimbangan kemaslahatan yang lebihbesar. Misalkan,apabila kita mengetahui ada orang yang berniat melakukan kejahatan pembunuhan atau pencurian, kita memata-matai mereka agar dapat menggagalkan rencana tersebut.

Berbahagialah ikhwan/akhwat bila kita dapat berpenampilan cantik/tampan luar-dalam, terutama bila hati kitadipenuhi dengansifat-sifat positif seperti di atas.

Wallahu A’lamBishshawab. Doa kita bersama:

"Allaahumma kamaa hassanta khalqii fahassinkhuluqii", Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku,maka perindah pulalah akhlakku. (H.R. Ahmad).


5. Makan dan minum secukupnya

Agar cantik dan tampan, akhwat dan ikhwan tidak boleh makan seenaknya/sesukanya dengan penuh kerakusan, tapi makan sebatas dapat menegakkan tulang-tulangnya untuk mendapatkan tenaga dalam menjalankan aktifitas sehari-hari dengan baik.

Ingatlah firman Allah swt.:

“Makan dan minumlah, janganlah berlebih-lebihan/melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al A'raaf 7: 31).

Kemudian dalam sebuah hadits diterangkan:

“Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi saw. sabdanya: “Orang-orang kafir makan dengan tujuh perut, dan orang mukmin makan dengan sebuah perut.” (H.R. Muslim).

Rasulullah saw. menghindari makan dan minum berlebih-lebihan. Beliau makan dan minum hanya pada saat perut terasa lapar dan mengisi perut dalam tiga bagian, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk bernafas. Akibat banyak makan biasanya mudah obesitas, mudah terkena penyakit, cenderung malas ibadah, malas bekerja. dll.

6. Berolah Raga

Supaya kecantikan/ketampanan yang telah Allah swt. anugerahkan pada kita dapat dijaga, upayakan kondisi fisik selalu bugar melalui olah raga sesuai minat/usia masing-masing. Aturlah waktunya disela-sela kesibukan yang ada. Dalam suatu hadits diterangkan:

“Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” (H.R. Muslim).

Dengan berolah raga insya Allah jasad kita dapat lebih terawat, sehingga kondisi tersebut dapat membantu ikhwan/akhwat melaksanakan tugas rutin sehari-hari dengan energik.

7. Menjaga kebersihan

Yang perlu dijaga kebersihannya adalah seluruh anggota badan dan pakaian. Hadits Bukhari menerangkan:

“ Mandilah pada hari Jumat dan keramaslah meskipun kau tidak dalam keadaan junub dan pakailah wewangian” Perbedaan wewangian antara ikhwan dan akhwat ada, yaitu: Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Parfum pria adalah yang tercium aromanya dan tidak tampak warnanya dan parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya.” (H.R. Tirmidzi dan An-Nasai).

Ikhwan/akhwat hendaknya dapat menjaga penampilan diri dari bau keringat yang tidak sedap.

Juga dalam hadits Bukhari dan Muslim diterangkan kebersihan badan seseorang dengan menjaga lima perkara yang termasuk fitrah, yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memendekkan kumis.

Untuk kebersihan pakaian, Imam Ahmad dan Nasai meriwayatkan hadts dari Jabir r.a., ia berkata:

“Rasulullah saw. pernah mengunjungi aku. Ketika beliau melihat seorang laki-laki lewat dengan pakaian lusuh dan kumal, beliau bertutur: Rupanya ia tidak mempunyai sabun untuk mencuci pakaiannya itu.”

Pada hadits ini, Rasulullah saw. tidak menyukai seseorang yang bertemu dan berkumpul dengan orang lain memakai baju yang kotor dan lusuh selama ia mampu mencuci dan membersihkannya.

Rasulullah saw. mengajarkan kita bahwa pakaian seorang muslim harus selalu rapi dam bersih, sehingga penampilannya sedap di pandang mata. Tentu saja, pakaian tersebut tidak perlu yang selalu baru apalagi kebiasaan mengoleksi baju dengan jumlah berlebih-lebihan, yang terpenting adalah rapi dan bersih, karena pakaian yang menjadi rizki kita sesungguhnya apa-apa yang sampai tidak dapat terpakai lagi oleh diri masing-masing.

8. Menjaga kebersihan gigi dan mulut,

“Seandainya tidak memberatkan kepada umatku, pasti aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

9. Memelihara kebersihan rambut, Rasulullah saw. bersabda:

“Barang siapa yang memiliki rambut, maka hendaklah ia menghormatinya (memeliharanya).” (H.R. Abu Daud dan Abu Hurairah r.a.).

Menghormati rambut itu maksudnya membersihkan, menyisir, memberi wewangian (minyak rambut), dan memeliharanya dengan baik. Islam tidak menyukai orang yang membiarkan rambutnya berantakan/acak-acakan, kotor, dan bau.

10. Merapikan Diri

Firman Allah swt.:

“Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik-baik?” (Q.S. Al A'raf 7: 32).

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Qurthuby berkata:

“Imam Makhul meriwayatkan dari Aisyah r.a., ia bercerita: “Pernah sekelompok sahabat menunggu Rasulullah saw. di depan pintu. Ketika beliau hendak keluar menemui mereka, beliau bercermin di air yang ada di dalam bejana di dalam rumah. Setelah beliau merapikan rambut dan jenggotnya, aku (Aisyah) berkata: “Engkau lakukan ini, wahai Rasulullah?” “Ya, bila seseorang akan menjumpai saudaranya hendaklah ia merapikan dirinya. Karena sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan,” jawab Rasulullah saw.”

Setiap orang perlu memelihara kerapian dirinya, janganlah membiarkan diri dalam penampilan kusut dan kumal dengan dalih ingin zuhud. Rasulullah saw. sendiri menganjurkan untuk berpenampilan rapi, padahal beliau adalah orang yang paling tawadhu dan zuhud.

Maka, selama memperapi diri itu tidak berlebihan, Allah swt. menganjurkan,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkannya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik-baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) untuk orang-orang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (Q.S. Al A'raf 7: 31-32).

Namun wanita muslimah tidak boleh tabaruj. Allah swt. telah melarang tabaruj melalui Q.S. An-Nur 24 : 60 dan Q.S. Al Ahzab 33 : 59. Menurut Ibnu Katsir, tabaruj berarti wanita yang keluar rumah dan berjalan/memamerkan diri di hadapan laki-laki (tabaruj jahiliah). Menurut Bukhari, tabaruj adalah tindakan seorang wanita yang menampakkan kecantikannya kepada orang lain, dan menurut Muqatil tabaruj adalah wanita yang melepaskan jilbabnya, memperlihatkan kalung dan gelangnya.

Juga wanita muslimah yang benar selalu sadar dan ingat pada konsep sikap tawazun (pertengahan/keseimbangan) dalam segala hal, jangan sampai berdandan/merapikan diri berlebih-lebihan atau mengukur penampilan diri berdasarkan kekayaan materi.

“Celakalah hamba dinar dan dirham dan hamba sutera dan beludru. Jika ia diberi nikmat, ia senang dan bila tidak diberi ia benci.” (H.R. Bukhari).

Yang terakhir, agar penampilan ikhwan/akhwat dapat cantik dan tampan perlu dilengkapi dengan terpeliharanya unsur akal pikiran dengan ilmu. Memang, tidak semua orang punya kecerdasan dan kesempatan yang sama. Tetapi, ikhwan/akhwat harus selalu mencari dan meminta tambahan ilmu kepada Allah swt., sebagaimana diterangkan dalam firman Allah swt.,

“Dan Katakanlah, “Ya Rabbi, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (Q.S. Thaha 20: 114).

Dalam sebuah hadits, Aisyah r.a berkomentar:

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak malu-malu untuk bertanya dalam rangka tafaquh fiddin (mendalami masalah agama).” (H.R. Bukhari Muslim).

Oleh karena itu, yang perlu tetap diusahakan adalah memiliki kepedulian untuk selalu berusaha menambah/memahami/mengamalkan ilmu Islam sedikit demi sedikit, adanya proses mencari ilmu sampai akhir hayat, sebab hal tersebut akan menjadi landasan berfikir dan beramal seseorang. Begitu pula ilmu lainnya, kita pelajari sebagai sarana bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. Sehingga insya Allah, dengan terpadunya unsur hati, jasad/fisik, dan ilmu pada diri ikhwan dan akhwat, ketampanan dan kecantikan kita dapat membawa keselamatan dunia dan akhirat. Wallahu A'lam Bishshawab.

Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di kuburku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya di kananku, cahaya di kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya pada pendengaranku, cahaya pada penglihatanku, cahaya pada rambutku, cahaya pada kulitku, cahaya pada dagingku, cahaya pada darahku, cahaya pada tulang-tulangku. Wahai Tuhanku, besarkanlah bagiku cahaya dan berikanlah bagiku cahaya dan jadikanlah padaku cahaya dan tambahkanlah padaku cahaya, tambahkanlah padaku cahaya, tambahkanlah padaku cahaya. Aamiin.

Sabtu, 22 Januari 2011

HIDUP ITU CINTA, TANPA CINTA APALAH ARTINYA...???



Indahnya cinta disaat ada kebersamaan.
Indahnya cinta disaat ada kasih sayang.
Indahnya cinta disaat ada yang perhatian.
Indahnya cinta disaat ada kepercayaan.

Cinta datang tak diundang.
Cinta datang tanpa ada kabar.
Cinta datang secara tiba-tiba.
Cinta datang tanpa menegnal tempat dan waktu.

Keindahan cinta tida habisnya.
Keindahan tetaplah keindahan.
Namun terkadang keindahan itu kepedihan.
Terkadang keindahan itu racun.

Apalah artinya hidup ini jika tanpa cinta.
Apalah arti hidup ini jika tiada cinta.
Apalah artinya hidup ini jika semua tidak saling cinta.
Apalah artinya....


"TANPA CINTA HIDUP PUN HAMPA DAN TANPA CINTA BAGAI TAMAN TAK BERBUNGA, SEMOGA KITA HIDUP DENGAN CINTA"

Rabu, 19 Januari 2011

Al Qur’an dan Hadist : Dalil dan Referensi

  • "Bukan dari tulang ubun ia diciptakan karena berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja tak juga dari tulang kaki karena nista membuatnya diinjak dan diperbudak tapi dari tulang rusuk bagian kiri dekat ke hati untuk disayangi dekat ke tangan untuk dilindungi"
  • "Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat."
    (Al A'raf : 26)
  • "Katakanlah kepada orang wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampallan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedadanya. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
    (QS. An Nur : 30)
  • "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal lamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
    (QS. Ali Imran : 139)
  • “Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat 49)

“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26)

“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan” (Al Hadits)

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)

“Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)

“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)

“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)

“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain” (Al Hadits)

“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)

“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)

“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)

“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)

“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani)

“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)

“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)

“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)

“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

“Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)

“Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)


“Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kamis, 06 Januari 2011

BAHAYA LIDAH

Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya ada raqib atid.” (QS. Qaf: 18)

Raqib adalah malaikat yang selalu menyertainya dan atid maknanya yang hadir di sisinya.

Dari Sahl bin Sa’ad As-Saidi -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menjamin untukku bisa menjaga apa yang ada di antara dua janggutnya (janggut dan kumis) dan apa yang ada di antara kedua kakinya, maka aku menjamin surga untuknya.” (HR. Al-Bukhari no. 6474)

Yang berada di antara janggut dan kumis adalah lidah, dan yang berada di antara dua kaki adalah kemaluan.

Dan dalam hadits Muadz bin Jabal tatkala Nabi -alaihishshalatu wassalam- menyebutkan masalah Islam, rukun Islam, dan jihad di jalan Allah. Muadz berkata di akhir hadits:

ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رسولَ اللهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا، قُلْتُ: يَا رسولَ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ قَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟!

“Kemudian beliau bersabda, “Inginkah kuberitahukan kepadamu penegak dari semua amalan itu?” aku (Muadz) menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lidahnya seraya bersabda, “Tahanlah ini,” aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami betul-betul akan disiksa akibat ucapan kami?” beliau menjawab, “Kasihan kamu wahai Muadz, apakah ada yang menjerambabkan manusia di dalam neraka di atas wajah-wajah mereka kecuali buah dari ucapan lisan-lisan mereka?!” (HR. At-Tirmizi no. 2616 dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”)

Penjelasan ringkas:

Allah Ta’ala berfirman mengingatkan nikmat-Nya, “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua mata, satu lidah, dan dua bibir.” Maka lidah termasuk dari nikmat terbesar dari Allah kepada hamba yang dengannya mereka bisa mengungkapkan isi hati dan keinginan mereka.

Hanya saja nikmat yang besar ini bisa menjadi sesuatu yang akan membinasakan pemiliknya di dunia dan di akhirat. Dia bisa menjadi sebab terbesar masuknya seseorang ke dalam surga, tapi sebaliknya dia juga bisa menjadi sebab terbesar yang menggelincirkan seseorang ke dalam neraka. Karenanya tidak akan sempurna keislaman seseorang sampai dia meyakini bahwa semua ucapan yang keluar dari mulutnya akan dia pertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan dia tidak akan mendapatkan inti dari ajaran Islam selama dia tidak menjaga lisannya.

Janji

Memang lidah tak bertulang. Itulah satu bait dari sebuah lagu. Lidah amat mudah berkelit kemana ia suka. Lidah memang luwes. Saking luwesnya lidah mudah saja bergerak kesana kemari bergantung kepada si pemilik lidah. Dengan lidah kita bicara. Dengan lidah pula kita mengobral janji. Dengan lidah pula kita mengingkari janji. Dengan lidah kita menusuk hati. Lidah pula yang dapat membuat seseorang terluka. Lidah pula yang mampu menciptakan jurus-jurus fitnah, bohong dan segala keangkamurkaan. Namun, dengan lidah pula kita menebar kebaikkan. Banyak orang yang tertolong oleh lidah. Banyak orang terhapus kesedihan juga karena lidah. Segala problema hidup juga dapat diatasi oleh lidah pula. Karena lidah kita bisa menjadi mulia atau hina. Dengan lidah pula kita mendapatkan pahala, dan juga dosa. Mana yang kita pilih. Yah bergantung kepada tujuan hidup kita.

Banyak orang berjanji. Ketika seseorang ingin menduduki kursi kekuasaan mereka menebar janji. Ketika seseorang jatuh cinta juga saling mengikat janji. Janji sehidup semati. Aku yang hidup, engkau yang mati, barangkali. Ketika seseorang menjabat juga mengangkat janji. Pokoknya janji seolah-olah menjadi denyut nadi sebuah kehidupan. Tapi, yang menjadi masalah adakah kita ingat janji kita? Jika ingat, adakah kita ingin menunaikannya? Ah yang penting menebar janji, jika nanti tercapai cita-cita urusan lainlah. Yang penting, sekarang janji dulu. Soalnya tanpa janji sulit menjaring dukungan. Kata seorang polititus amatir. Yang penting sekarang membentuk opini publik, untuk melicinkan jalan. Banyak janji yang ditebar, ketika pemilu. Janji padamu negeri. Janji memberi duit. Janji memberi jabatan. Janji mensejahterakan rakyat. Dan banyak janji dan janji. Tebar janji, masalah dipenuhi atau tidak urusan nantilah.

Dalam Hadist yang terkenal, salah satu tanda-tanda orang munafik adalah jika ia berjanji ia mengingkari. Ada beberapa golongan manusia di dunia. Yang pertama adalah mereka yang beriman kepada Allah. Golongan pertama ini dalam setiap tindak tanduk atau perilaku, ucapan dan hatinya selalu berpedoman kepada petunjuk Allah swt. Mereka sangat takut bahkan teramat sangat takut kepada Allah, sehingga ketika disebut asma Allah gemetarlah mereka. Merekalah orang-orang yang beruntung. Sebagian golongan lainnya adalah mengakui dalam hati dan juga dalam pengucapannya tentang ketauhidan Allah tetapi dalam tindak tanduknya mereka berbuat kerusakan. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Sebagain golongan manusia tidak beriman baik di hati, ucapan maupun perilakunya. Mereka itulah orang kafir. Ketiga golongan tersebut dapat dengan mudah dilihat oleh siapapun. Akan tetapi ada sebagian manusia yang dalam setiap ucapan dan tindak tanduknya menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang beriman, tetapi dalam hatinya mereka tidak mengakuinya. Merekalah orang-orang yang munafik. Orang-orang yang termasuk golongan ini sulit ditengarai sercara nyata. Maka untuk mendeteksi orang-orang munafik Nabi memberikan tiga tanda yaitu, a) jika ia berjanji ia menginkari, b) jika ia diberi amanah ia berkhianat, dan c) jika ia bicara ia bohong.

Jadi jauh-jauh hari Nabi Muhammad s.a.w. mengingatkan kita agar hati-hati terhadap janji. Kita jangan mudah menebar janji. Telah menjadi kebiasaan kita ketika diminta datang, kita sering mengatakan ya sebagai basa basi. Mengapa basa basi, karena kita sebenarnya tidak berniat datang. Jika kebiasaan ini kita budayakan, maka kita bisa jadi akan mengingkari janji-janji yang lain. Jika ingkar janji sudah menjadi budaya seseorang, kelompok atau suatu kaum maka inilah salah satu tanda-tanda munafik. Kebiasaan menebar janji sering ditampilkan oleh para politisi, akademisi, semi akademisi dll. Mereka menebar janji jika menang nanti akan meningkatkan kesejahteraan, akan memajukan institusi, akan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan golongan dan individu, dan sejumlah janji lainnya. Jika menang mereka lupakan janji itu. Jika ditagih janjinya macam-macamlah alasannya. Bahkan ada yang mengatakan kan itu janji politik. Janji waktu kampanye. Sekarang lainlah masalahnya. Atau akan berkata: “Tidak mudah menjaji pemimpin” Ya memang tidfak mudah. Makanya tidak semua orang mampu menjadi pemimpin yang handal. Mereka lupa janji mereka. Bahkan mungkin mereka hanya mencari keuntungan pribadi atau kelompok mereka saja tanpa memperhatikan semua yang dipimpinnya. Kondisi ini, saya pikir terjadi di semua institusi.

Marilah, kita instropeksi diri apakah tanda-tanda kemunafikan dalam diri kita. Jika ada mari kita sama-sama menghilangkannya. Mari kita kurangi basa-basi, yang mungkin akan membuat kita mengingkari janji. Yang mungkin membuat kita beda antara apa yang tersirat di hati dan apa yang kita ucapkan dan kerjakan. Allah menyindir kita dengan halus: Ketika mereka ditimpa musibah mereka berkata ya Allah selamatkanlah kami ada bahaya ini, niscaya kami akan beribadah lebih baik dari sebelumnya. Ketika bahaya itu sirna maka mereka lupa seolah-olah mereka tidak pernah berdoa kepada-Ku (Allah). Lidah memang tak bertulang, tapi lidah mampu kita kendalikan. Dengan apa? Ya dengan hati yang bersih bebas dari kemunafikkan.

Mohon koreksi jika pendapat ini salah atau kurang benar.

ORANG YANG TERBAIK

Manusia selalu dihadapkan kepada kompetisi. Sejak ia masih dalam bentuk sperma ia sudah berkompetisi. Dari jutaan sperma yang dipancarkan hanya satu yang mampu membuahi sel telur. Dapat dinyatakan bahwa yang mampu membuahi sel telur adalah spermatozoa terbaik. Ya, memang dapat dinyatakan begitu, sebab ia telah melewati berbagai rintangan dan hambatan, dari berjalan menuju tempat pembuatan sampai menembus dinding sel telur. Kemana spermatozoa yang lain? Apakah ia iri? Tidak! Kemudian setelah terjadi pembuahan, tidak semua hasil pembuahan itu lahir dengan selamat. Sebagian gugur sebelum lahir. Hanya yang terbaik kondisinya yang akan selamat lahir ke dunia. Nah, dalam sehari-harinya, kita selalu dihadapkan kepada kompetisi untuk menentukan siapakah yang terbaik. Anda tentu tahu lomba-lomba tentang berbagai hal adalah untuk menentukan siapa yang terbaik. Ada terbaik sebagai putri dunia, ada yang terbaik dalam mamamia, ada yang terbaik dalam dunia sepakbola, ada yang terbaik dalam ipteks dll. Untuk menentukan siapa yang terbaik tentunya diperlukan kriteria-kriteria.

Di dalam agama Islam juga ada kriteria yang harus dipenuhi oleh umat Islam agar mereka termasuk orang-orang yang terbaik. Dalam suatu hadist, ada seseorang bertanya kepada rasulullah:”Ya Rasulullah, siapakah orang yang terbaik menurut Rasul? Kira-kira demikianlah pertanyaannya. Rasulullah menjawab bahwa orang yang terbaik adalah: 1) orang yang terbaik dalam Al Qur’annya, 2) orang yang terbaik dalam pemahaman agamanya, 3) orang terbaik adalh orang yang paling taqwa, 4) orang yang paling bertanggungjawab dalam menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah mungkar, 5) orang yang paling baik dalam menjalin tali silaturahmi. Jadi, menurut hadist ini bahwa dalam Islam untuk menjadi orang yang terbaik dunia dan akherat ada lima kriteria.

1) Orang yang terbaik Al Qur’annya

Ini merupakan kriteria pertama untuk menjadi orang yang terbaik. Kita semua tahu tidak semua orang Islam yang secara rutin membaca, mempelajari, memahami dan mempraktekkan apa yang terdapat dalam Al Qur’an. Mungkin hanya sebagian kecil saja diantara umat Islam ini. Apalagi menghafal Al Qur’an. Mungkin lebih sedikit lagi. Hafal Al Qur’an bukan hanya hafal, tetapi ia hafal dan tahu arti dan makna apa yang terkandung di dalamnya. Hafal tanpa tahu arti dan maknanya saya pikir tidak banyak artinya. Kita tahu bahwa orang-orang Arab yang hafal Al Qur’an tentu saja paham akan arti dan makna karena memang itu merupakan bahasa mereka sehari-hari.

Orang yang terbaik Al Qur’an juga orang yang menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Dalam setiap aktivitasnya, mereka menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman. Jika tidak dibolehkan oleh Al Qur’an, maka mereka tidak melakukankan, sebaliknya mereka sangat antusias untuk melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah melalui Al Qur’an.

2) Orang yang terbaik dalam pemahaman agama Islam

Ini merupakan kriteria kedua. Untuk dapat menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup maka kita harus memahami Al Qur’an. Al Qur’an merupakan pedoman umum, sehingga dalam memahami apa yang terkandung dalam Al Qur’an, kita memerlukan pedoman lain yang merupakan jabaran dari Al Qur’an. Itulah sunah Rasulullah, yang merupakan perkataan dan perbuatan Rasul. Rasulullah telah menjabarkan Al Qur’an dalam praktek sehari-hari. Itulah sebabnya kita harus memahami hadist, dan menjadikannya pedoman hidup setelah Al Qur’an. Untuk meningkatkan pemahaman terhadap agama Islam, kita sekarang ini tidak akan banyak mengalami kesulitan. Sebab, sekarang banyak buku yang membahas Islam. Tinggal kita mau tidak mempelajari dan memahami isinya. Memang, tentu saja kita harus hati-hati dalam memilih buku-buku tersebut.

Setelah memahami agama secara benar, maka kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dengan hanya mengharap ridho Allah. Adalah tidak ada artinya sama sekali, jika pemahaman akan agama itu tidak dipraktekkan. Betapa banyak diantara kita yang tahu bahwa korupsi itu dilarang, sogok menyogok itu dilarang, tetapi masih banyak orang yang korupsi dan sogok-menyogok misalnya. Mereka membungkusnya dalam bungkus pendapat yang seolah-olah benar untuk melegalkan tindakan mereka. Banyak yang tahu bahwa praktek pekerja sek komersial itu dilarang, tetapi banyak pula yang membolehkan PSK dilokalisasi dengan alasan bahwa agar tidak mengganggu masyarakat lebih luas. Pendapat ini seolah-olah benar, tetapi sebenarnya salah besar.

3) orang terbaik adalh orang yang paling taqwa

Dalam setiap lomba tentu ada kriteria atau indikator untuk menentukan yang terbaik. Dalam agama Islam, hanya ada satu indikator utama yang menjadi kriteria dalam penentuan orang yang terbaik di dunia dan di akherat kelak, yaitu tingkat ketaqwaan. Tingkat ketaqwaan seseorang sulit diketahui oleh manusia, karena hal ini merupakan masalah gaib. Menurut hemat saya, hanya Allah yang dapat menentukan siapa yang paling taqwa diantara kita. Nah, orang yang terbaik adalah orang yang paling taqwa. Meskipun kita manusia tidak bisa menilai tingkat ketaqwaan kita dan orang lain, ada variabel-variabel yang dapat kita jadikan pedoman untuk mencapai taqwa. Semuanya telah dijabarkan baik dalam Al Qur’an maupun hadist. Tinggal niat kita untuk memahami dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah kita berusaha sebaik-baiknya, maka penilaiannya mari kita serahkan kepada Allah.

4) orang yang paling bertanggungjawab dalam menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah mungkar

Hanya orang-orang yang berani yang mampu melakukan hal ini. Menyuruh kepada perbuatan yang ma’ruf, suatu tugas yang amat berat. Betapa beratnya lidah kita untuk mengajak kepada diri sendiri dan orang lain untuk menyuruh kepada kebaikan. Bukan saja orang biasa, para pemimpinpun juga seringkali merasa sulit untuk melakukannya. Sebab menyuruh kepada kebaikan pasti akan banyak hambatan yang sangat besar. Lebih berat lagi adalah mencegah yang mungkar. Ada beberapa tingkatan mencegah yaitu dengan tangan, perkataan atau diam yang merupakan selemah-lemahnya iman.

5) menjalin tali silaturahmi

Kriteria terakhir orang yang terbaik adalah orang yang paling baik dalam menjalin tali silaturahmi. Menjalin tali silaturahmi itu tidak mudah, karena ia memerlukan pikiran, tenaga, waktu dan bahkan mungkin dana. Akan tetapi, kebaikan yang telah kita lakukan berupa menjalin tali silaturahmi ini akan berbuah manis. Betapa banyak contoh untuk hal ini. Orang yang mempunyai tali silaturahmi yang baik mereka lebih mudah mendapatkan akses informasi misalnya tentang pekerjaan. Dengan tali silaturahmi ini tidak sedikit orang yang dapat rezeki yang tak terduga.

Semoga kita mampu menjadi orang yang terbaik itu, amien.

PERINTAH ALLAH BAGI SETIAP MUSLIM UNTUK MENUNTUT ILMU (BELAJAR)

Wajib bagi setiap muslim menuntut ilmu. Ya, kita semua wajib menuntut ilmu agar kita selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat. Inilah salah satu ilmu itu. Tertarik uraiannya, mari baca tulisan Prof. Riyanto. Tulisan ini disampaikan pada kuliah subuh di masjid Darussalam tanggal 25 Agustus 2010 Semoga bermanfaat. Kita wajib menuntut ilmu baik yang terkandung dalam Al Qur’an, Al Hadist maupun yang tersebar di alam semesta ini. Beberapa keutamaan membaca Al Qur`an sebagai berikut (http://ceramahkultum.blogspot.com/) :

1. Manusia yang terbaik.
Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : “Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.” H.R. Bukhari.

2. Dikumpulkan bersama para Malaikat.
Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda : “Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran.” Muttafaqun `Alaihi.

3. Sebagai syafa`at di Hari Kiamat.
Dari Abu Umamah Al Bahili t berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : “Bacalah Al Qur`an !, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya).” H.R. Muslim.

4. Kenikmatan tiada tara
Dari Ibnu `Umar t, dari Nabi bersabda : “Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam.” Muttafaqun `Alaihi.

5. Ladang pahala.
Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata, Rasulullah e : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan “Alif lam mim” itu satu huruf, tetapi “Alif” itu satu huruf, “Lam” itu satu huruf dan “Mim” itu satu huruf.” H.R. At Tirmidzi dan berkata : “Hadits hasan shahih”.

6. Kedua orang tuanya mendapatkan mahkota surga
Dari Muadz bin Anas t, bahwa Rasulullah e bersabda : “Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. ” H.R. Abu Daud.

Lirik song: Jo Bhi Kasmein; movie: RAAZ

RAAZ Movie - Jo Bhi Kasmein

Song By UDIT NARAYAN AND ALKA YAGNIK

--MALE--
Jo bhi kasmein khaayi thi humne
Waada kiya tha jo milke
Tune hi jeevan mein laaya tha mere savera
Kya tumhe yaad hai - 3
Din voh bade haseen the
Raatein bhi khushnaseeb thi
Tune hi jeevan mein laaya tha mere savera
Kya tumhe yaad hai - 3
Jaage jaage rehte the, khoye khoye rehte the
Karte the pyaar ki baatein
Kabhi tanhaai mein, kabhi purvaai mein
Hoti thi roz mulaaqaatein
Teri in baahon mein, teri panaahon mein
Maine har lamha guzaara
Tere is chehre ko, chaand sunehre ko
Maine to jigar mein utaara
Kitne tere kareeb tha
Main to tera naseeb tha
Honton pe rehta tha har waqt bas naam tera
Kya tumhe yaad hai

--FEMALE--
Haan mujhe yaad hai - 2
Aa aa aa aa, aa aa aa aa aa aa
..........................................
Aa aa aa aa aa, aa aa aa
Din ke ujaalon mein, khwaabon khayaalon mein
Maine tujhe pal pal dekha
Meri zindagaani tu, meri kahaani tu
Tu hai mere haathon ki rekha
Maine tujhe chaaha to, apna banaaya to
Tune mujhe dil mein basaaya
Pyaar ke rangon se, baheki umangon se
Tune mera sapna sajaaya
Tere labon ko choomke
Baahon mein teri jhoomke
Maine basaaya tha aankhon mein tere basera
Kya tumhe yaad hai

--MALE--
Haan mujhe yaad hai - 2

--FEMALE--
Jo bhi kasmein khaayi thi humne

--MALE--
Waada kiya tha jo milke

--FEMALE--
Tune hi jeevan mein laaya tha mere savera

--MALE--
Kya tumhe yaad hai

--FEMALE--
Haan mujhe yaad hai

--MALE--
Haan mujhe yaad hai

Selasa, 04 Januari 2011

Hukum Asalnya Poligami

Pertanyaan:
Apakah hukum asal di dalam perkawinan itu poligami ataukah monogami?

Jawaban:
Hukum asal perkawinan itu adalah poligami (menikah lebih dari satu isteri) bagi lelaki yang mampu dan tidak ada rasa kekhawatiran akan terjerumus kepada perbuatan zhalim. (Yang demikian itu diperbolehkan) karena mengandung banyak maslahat di dalam memelihara kesucian kehormatan, kesucian kehormatan wanita-wanita yang dinikahi itu sendiri dan berbuat ihsan kepada mereka dan memperbanyak keturunan yang dengannya umat Islam akan menjadi banyak dan makin banyak pula orang yang menyembah Allah -subhanahu wata’ala- semata. Dalil poligami itu adalah firman Allah:

”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seoarang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (An-Nisa: 3).

Rasulullah -sholallaahu’alaihi wasallam- pun mengawini lebih dari satu isteri, dan Allah-subhanahu wata’ala- telah berfirman:

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.”(Al-Ahzab: 21).

Rasulullah -sholallaahu ‘alaihi wasallam- pun bersabda setelah ada beberapa orang shahabat yang mengatakan:
“Aku akan selalu shalat malam dan tidak akan tidur”.

Yang satu lagu berkata:
“Aku akan terus berpuasa dan tidak akan berbuka”.

Yang satu lagi berkata:
“Aku tidak akan mengawini wanita”.

Tatkala ucapan mereka sampai kepada Nabi -sholallaahu’alaihi wasallam-, beliau langsung berkhutbah di hadapan para sahabatnya, seraya memuji kepada Allah, kemudian beliau bersabda:

”Kaliankah tadi yang mengatakan “begini dan begitu?!” Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepadaNya. Sekali pun begitu, aku puasa dan aku juga berbuka, aku shalat malam tapi akupun tidur, dan aku mengawini wanita. Barangsiapa yang tidak suka kepada sunnahku ini, maka ia bukan dari (umat)ku.” (Riwayat Imam al-Bukhari).

Ini adalah ungkapan luar biasa dari Rasulullah -sholallaahu’alaihi wasallam- mencakup satu isteri dan lebih.

Wabillahittaufiq.

Selasa, 28 Desember 2010

KEBIMBANGAN

Dia, cinta yang pertama
Tiada mudah kulupakan
Dia, berhati mulia
Cintanya aku dambakan

Mereka teman yang setia
Sama mengharapkan diriku
Tak mungkin kalau keduanya
Karena hati cuma satu

Tiada dapat kubedakan
Satu di antara dua
Kalau harus ‘ku memilih
Sungguh aku tak kuasa

Haruskah aku menghancurkan
Luhurnya nilai sebuah persahabatan
Haruskah aku memisahkan
Dua insan yang ikhlas di dalam berteman
Daripada mereka harus terpecah
Lebih baik aku mengalah

Bimbang, aku jadi bimbang
Tiada dapat memutuskan
Goncang, jiwa jadi goncang
Lenyaplah kebahagiaan

‘Pabila satu yang kupilih
Pasti yang lain menderita
‘Pabila tiada yang kupilih
Pasti mereka tak ‘kan rela

Tuhan, pada-Mu oh Tuhan
Semua ini kuserahkan
Apa yang harus kutempuh,
Engkau Maha Memutuskan

Jumat, 24 Desember 2010

OH MY BELOVED

"OH MY BELOVED"

Oh beloved, when I meet you. I'll tell you.
How dearly I love you, my beloved.
How will I survive those nights and those days.
How will I survive the loneliness without you.
A painful solitude me.

The days and nights I think of you, my beloved.
In my eyes I will hold you.
In my heart, I will hide you.
Someday I'll tell you, what I'm going through.
I'll tear out my heart for you to see, my beloved.

Oh yang tercinta, ketika aku bertemu kamu. Aku akan memberitahumu.
Bagaimana mahalnya aku mencintaimu, kekasihku.
Bagaimana ku bertahan hidup setiap dan setiap hari.
Bagaimana ku bertahan hidup kesepian mu.
Sebuah kesendirian menyakitkanku.

Setiap hari dan setiap malam ku teringat padamu, kekasihku.
Di mataku, kamu akan terus ada.
Dalam hatiku, ku akan menyembunyikanmu.
Suatu hari nanti aku akan memberitahumu, apa yang ku alami.
Aku akan merobek hatiku buatmu untuk kamu lihat, kekasihku.

Jumat, 10 Desember 2010

DIALOG MENDIDIK DAN BERMUTU

Seorang laki laki bernama Abdullah (hamba Allah) bertemu dengan seorang laki laki lainnya yang bernama Abd Al-Nabi (Hamba Nabi). Dalam hatinya Abdullah mengingkari nama rekannya ini, dan ia berkata : “Bagaimana mungkin seseorang menjadi hamba selain hamba Allah”? lalu ia bertanya kepada Abd Al-Nabi: “ apakah engkau menyembah kepada selain Allah?

Abd Al-Nabi:
tidak, saya tidak menyembah dan tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah saja, dan saya seorang muslim.

Abdullah:
jadi nama apakah ini yang serupa dengan nama nama yang dipakai oleh orang orang Kristen seperti Abd Al-Masih (hamba Yesus)? Hal itu tidaklah aneh bagi mereka, sebab mereka menyembah Yesus. Orang yang mendengar nama anda terlintas dalam benaknya bahwa anda menyembah Nabi, dan itu bukanlah aqidah seorang muslim terhadap Nabinya; akan tetapi kewajiban seorang muslim adalah hanya menyembah kepada Allah saja, dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul Allah.

Abd Al-Nabi:
Tetapi Nabi Muhammad adalah sebaik baiknya manusia dan penghulu para Rosul, dan kami diberi nama ini karena mengharapkan berkah dan supaya lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan kehormatan dan kedudukan Beliau disisi Nya, dan meminta Syafa`at kepada Beliau. Jangan heran, karena saaudaraku juga namanya Abd Al- Husain dan bapakku namanya Abd Al-Rosul. Memberikan nama seperti ini ada semenjak dahulu dan sudah tersebar pada banyak orang , jadi janganlah engkau terlalu ektrims dalam masalah ini, karena ini urusan yang gampang dan sepele, dan Agama itu mudah.

Abdullah:
Ini adalah suatu kemungkaran lain yang lebih besar daripada kemungkaran yang pertama, yaitu meminta kepada selain Allah sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh siapa pun kecuali oleh Allah, baik yang diminta itu seorang Nabi Muhammad saw sendiri, atau orang sholeh yang kedudukannya lebih rendah dari Beliau, seperti Husain atau lainnya. Perbuatan ini bertentangan dengan Tauhid yang diperintahkan kepada kita, dan juga bertentangan dengan kandungan : Laa Ilaha illallah. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada anda, agar tampak jelas betapa besar masalah ini dan juga menjelaskan bahwa ini bukanlah masalah sepele seperti yang anda sangka, dan dampak negative yang timbul dari pemakaian ini dan sejenisnya. Saya tidak mempunyai tujuan atau maksud lain kecuali untuk menegakkan kebenaran dan mengikutinya, menerangkan kebathilan dan menjauhinya, serta amar ma`ruf nahi mungkar. Hanya kepada Allah sajalah kita berserah diri dan meminta pertolongan, tiada daya dan upaya kecuali datangnya hanya dari Allah, tapi sebelumnya saya ingatkan anda dengan fiman Alllah:

”Sesungguhnya jawaban orang orang mu`min , bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rosul Nya, agar Rosul mengadili diantara mereka maka mereka menjawab “kami dengar dan kami patuh”. ( An Nur :51)

Dan firman Allah lainnya :

“Maka jika kamu sekalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rosul, jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (An nisa :59)
Abdullah: Anda mengatakan bahwa anda mengesakan Allah dan bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah. Bisakah anda menjelaskan maknanya kepadaku?

Abd Al-Nabi:
Tauhit itu adalah anda percaya Allah itu ada, Dia lah yang menciptaka langit dan bumi, Dia lah yang mengatur alam semesta, dan Dia lah yang menghidupkan dan mematikan. Yang maha mengetahui , dan Maha mengatur rizqi untuk makhluk Nya, dan Ia lah pemilik asmaul husna.

Abdullah:
Kalau hanya itu hakikat tauhid, pastilah Fir`aun dan kaumnya, Abu Jahal dan yang lainnya adalah orang orang yang mengesakan Allah; karena mereka mengetahui hal ini seperti kebanyakan orang orang musyrik. Fir`aun yang mengaku ngaku dirinya sebagai Tuhan, dalam lubuk hatinya mengaku dan percaya bahwa Allah itu ada, Dia lah yang mengatur alam semesta, dalilnya firman Allah :

“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman mereka dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini kebenarannya. (An Naml:14)

Pengakuan itu jelas ketika ia akan tenggelam. Akan tetapi Tauhid yang karenanya diutus para Rosul, diturunkan kitab kitab suci dan diperangi kaum Quraisy adalah Tauhid yang mengandung makna pengesaan Allah dalam ibadah. Ibadah adalah sebutan yang mencakup semua apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik itu berupa perkataan, perbuatan yang lahir maupun yang bathin. Kata Al-Ilah dalam kalimat Tahlil , artinya adalah Yang diibadahi/disembah, yang mana ibadah itu tidaklah dilakukan kecuali hanya untuk dan kepada Nya.

Abdullah:
Tahu kah anda mengapa para Rosul diutus, dan yang pertama kali adlah Nabi Nuh A.S?

Abd Al-Nabi:
Agar mengajak kaum musyrikin untuk menyembah Allah semata, dan meninggalkan segala sekutu bagi Nya.

Abdullah:
lalu apakah sebab terjadinya syirik pada kaum Nabi Nuh AS?

Abd Al-Nabi:
Saya tidak tahu

Abdullah:
Allah mengutus Nabi Nuh Ketika mereka mengkultuskan dan menyanjung orang orang sholeh, seperti: “Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya`uq, dan Nasr”.

Abd AL-Nabi:
maksud anda bahwa Wadd, Suwa dan yang lainnya adalah nama orang orang sholeh, dan bukan nama nama tirani kafir?

Abdullah:
Ya, mereka adalah orang orang sholeh dan oleh kaum nabi Nuh mereka dijadikan Tuhan, lalu diikuti oleh orang orang Arab.dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata:

“Berhala berhala yang dulu ada pada kaum Nabi Nuh kemudian menjadi berhalnya bangsa Arab, Wadd kepunyaan kabilah Kalb di daumah aljandal, dan suwa` dimiliki oleh kabilah Hudzail, adapun Yaghuts pertama kali dimiliki oleh kabilah Murad, kemudian menjadi milik kabilah Bani Ghuthaif, dan lainnya, mereka adalah nama nama orang sholeh dari kaum Nabi Nuh, setelah mereka mati, syaitan membisikkan kepada kaum mereka untuk membuat patung di majlis majlis dimana mereka biasa duduk, dan patung patung itu diberi nama mereka masing masing. Hal itu biasa mereka lakukan, dan pada waktu itu belum sempat disembah, sampai suatu ketika generasi itu binasa dan ilmu agama lenyap, dan akhirnya patung patung itu disembah” (H.R Bukhori).

Abd Al-Nabi:
Ini sungguh perkataan yang aneh!

Abdullah:
Maukah aku tunjukkan yang lebih aneh lagi? Anda mengetahui bahwasanya penutup segala nabi, nabi Muhammad saw telah diutus kepada kaum yang beristigfar, beribadah, melakukan thawaf, sai, melaksanakan haji, dan bersedekah, akan tetapi mereka menjadikan sebagian makhluk sebagai perantara antara mereka dengan Allah, mereka berkata: kami menginginkan agar mereka dapat mendekatkan kami kepada Allah, dan kami mengharapkan syafa`at mereka disisi-Nya, seperti para malaikat, nabi Isa dan orang sholeh lainnya, maka Allah mengutus nabi Muhammad saw untuk memperbaharui agama bapak mereka yaitu nabi Ibrohim. Beliau menyampaikan kepada mereka, bahwa pendekatan diri dan kepercayaan ini, merupakan hak yang khusus hanya milik Allah, tidak sedikitpun boleh untuk selain-Nya. Dia lah sang pencipta semata, tidak memiliki sekutu, tidak ada yang member rizqi kecuali Dia, tujuh lapis langit beserta isinya dan tujuh bumi beserta isinya adalah hamba-Nya, dibawah pengawasan dan pengaturan-Nya. Bahkan berhala yang mereka sembah pun mengakui, bahwa sesungguhnya mereka dibawah kepemilikan dan pengaturan Nya.

Abd Al-Anabi:
perkataan ini aneh dan berbahaya, apa ada dalilnya?

Abdullah:
Dalilnya banyak sekali, diantaranya firman Allah:

“Katakanlah: siapakah yang memberikan rizqi kepadamu dari langi dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan, mereka menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?” (Yunus: 31)

Dan ada lagi firman Allah:

“Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, iika kamu mengetahui”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan yang mempunyai `Arsy yang besar”`mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertaqwa”. Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Ia melindungi, tetapi tidak ada yang melindungi dari azab-Nya, jika kamu mengetahui. Mereka menjawab: “ kepunyaan Allah”. Katakanlah: “kalau demikian, maka dari jalan manakah kamu ditipu?”. ( Al-Mukminun: 84-89)

Pengakuan kaum musyrikin Quraisy bahwa Allah lah yang mengatur alam semesta atau yang dikenal dengan tauhid Rububiyah, tidak menjadikan mereka masuk islam, dan juga pengakuan mereka bahwa yang mereka tuju adalah para malaikat, para nabi, dan para wali, menginginkan syafa`at mereka dan mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan cara tersebut, justru perbuatan mereka itulah yang membuat darah dan harta mereka halal. Maka dari itu, wajib hukumnya berdo`a , nadzar, sembelihan dan minta tolong serta segala jenis ibadah hanya ditujukan kepada Allah.

Abd Al-Nabi:
Apabila tauhid itu bukan hanya sekedar mengakui adanya Allah, lalu apa makna tauhid itu?

Abdullah:
Tauhid yang oleh karenanya diutus para rosul, dan orang musyrik enggan mengakuinya adalah: Pengesaan Allah dalam bentuk Ibadah. Oleh karena itu, sesuatu dari jenis ibadah tidak boleh ditujukan kecuali untuk Allah semata, seperti do`a, sembelihan, puasa, dan lainnya. Tauhid inilah yang dimaksud dalam kalimat Laa ilaha illallah. Lalu nabi Muhammad diutus dengan membawa kalimat tauhid ini, bukan sekedar mengucapkannya saja, untuk menerapkan maknanya.

Abd Al-Nabi:
Seakan akan engkau mau mengatakan bahwa kaum musyrik lebih mengetahui makna laa ilaha illallah daripada kebanyakan kaum muslimin pada zaman kita sekarang ini.

Abdullah:
ya, inilah realita yang menyedihkan, orang orang kafir mengetahui bahwa maksud nabi saw dengan kalimat ini adalah mengesakan Allah dengan ibadah, dan mengingkari sesuatu yang ditujukan ibadah kepadanya selain Allah, serta berlepas diri darinya. Buktinya, tatkala nabi menyeru kepada mereka, ucapkanlah : laa ilaha illallah, mereka menjawab: mengapa ia menjadikan ilah ilah itu hanya ilah yang satu saja, sesungguhnya ini benar benar sesuatu yang sangat mengherankan. (Ash Shaad:5)

Mereka berkata demikian, meskipun meyakini bahwa Allah lah yang mengatur alam semesta ini.
Apabila orang kafir quraisy mengetahui makna hal itu, maka sangat mengherankan jika seorang yang telah mengaku seorang muslim, tapi tidak mengetahui makna kalimat tauhid. Bahkan ia mengira bahwa hal itu hanya sebatas mengucapkan huruf hurufnya saja tanpa harus meyakini maknanya dalam hati, dan orang yang pintar dari mereka mengira bahwa maknanya adalah: tidak ada yang menciptakan, tidak ada yang memberi rizqi , dan tidak ada yang mengatur segala urusan selain Allah. Maka tidak ada kebaikan sama sekali pada diri orang yang mengaku beragama Islam, sedangkan orang yang paling bodoh dari golongan kafir Quraisy saja memahami dan mengetahui akan makna Laa ilaha illallah, melebihi daripada mereka.

Abd Al-Nabi:
Akan tepapi saya tidak mempersekutukan Allah, bahkan saya bersaksi bahwasanya tidak ada yang menciptakan, memberi rizqi, mendatangkan manfaat dan menimpahkan bahaya kecuali hanya Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan bahwasanya Muhammad adalah nabi dan rosul Nya, dan juga meyakini bahwa Muhammad saw tidak memiliki kesanggupan untuk mendatangkan manfaat dan bahaya bagi dirinya sendiri, apalagi Ali, Husain, Abdul Qadir dan lainnya. Akan tetapi saya ini orang yang penuh dosa, dan mereka adlah orang orang sholeh yang memiliki kehormatan disisi Allah, jadi saya meminta kepada mereka agar memberiku syafa`at dengan kedudukan mereka disisi Allah.

Abdullah:
Aku jawab pertanyaan mu dengan apa yang telah aku sampaikan, yaitu: orang orang yang diperangi oleh rosulullah mengakui seperti yang engkau akui, mengakui bahwa berhala mereka tidak dapat mendatangkan manfaat dan bahaya, yang mereka inginkan hanyalah syafa`at dan kedudukan mereka , sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Al-qur`an.

Abd Al-Nabi:
Akan tetapi ayat itu turun untuk orang yang menyembah berhala, bagaimana mungkin anda mengatakan bahwa nabi nabi dan orang sholeh seperti berhala.

Abdullah:
Tadi sudah kita sepakati bahwa sebagian berhala ini diberi nama dengan nama nama para orang sholeh, sebagaimana yang telah terjadi pada umat nabi Nuh, dan orang orang kafir tidak pernah menginginkan dari mereka kecuali hanya syafaat disisi Allah, dikarenakan yang mereka sembah itu mempunyai kedudukan disisi Allah.

Allah berfirman:

“Dan orang orang yang mengambil pelindung selain Allah, mereka mengatakan kami tidaklah menyembah mereka, melainkan supaya mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat dekatnya. (Az zumar:3)

Adapun ucapan anda: bagaimana mungkin engkau jadikan para nabi dan wali sebagai patung? Kami katakan: sesungguhnya orang kafir, diantara mereka ada yang menyeru kepada para wali, sebagai mana Allah firmankan dalam salah satu ayat qur`an Nya yang mulia;

“Orang orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat kepada Allah dan mengharapkan rahmat Nya dan takut akan azab Nya, sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti”. (Al-Isra:57)

Dan diantara mereka ada yang menyeru kepada Isa dan ibuya, Allah berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman:”hai `Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”jadikanlah aku dan ibuku dua orang ilah selain Allah”. (Al maidah:40)

Diantara mereka ada yang menyeru para Malaikat,
Allah berfirman:

“Dan ingatlah hari yang waktu itu Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada Malaikat Nya, apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”. ( Saba`:40)

Cobalah renungkan ayat ayat ini, Allah telah mengkafirkan orang orang yang mendatangi berhala, dan Allah juga mengkafirkan orang orang yang mendatangi orang orang sholeh, para nabi, malaikat dan wali wali untuk menyembah mereka, kedua duanya sama, begitu jugaRosulullah saw memerangi mereka tanpa membedakan satu sama lainnya dalam hal itu.
Abd Al-Nabi: Namun mereka orang kafir menginginkan manfaat, sedangkan saya seorang muslim yang mendatangi mereka hanya untuk mengharapkan syafaat mereka disisi Allah.
Abdullah: Perkataanmu itu sama halnya dengan perkataan orang kafir, persis sekali, Allah berfirman:

“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan mudharat bagi mereka, dan mereka berkata: mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami disisi Allah”. (Yunus:18)

Abd Al-Nabi:
Akan tetapi saya tidak beribadah kecuali hanya untuk Allah, adapun berlindung dan berdo`a kepada mereka bukanlah termasuk ibadah.

Abdullah:
Tapi saya Tanya, “apakah anda mengakui bahwa Allah telah mewajibkan untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah, dan inilah haq Allah yang wajib engkau penuhi? Allah berfirman: “padahal mereka tidak disuruh, kecuali hanya untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (Albayinah:5)

Abd Al-Nabi:
Memang, Allah telah mewajibkan hal itu kepadaku.

Abdullah:
Tolong jelaskan kepaddaku, hal yang telah Allah wajibkan kepadamu ini!

Abd Al-Nabi:
Saya tidak mengerti apa yang anda maksudkan pertanyaan ini, tolong jelaskan

Abdullah:
Dengarkan baik baik, saya akan jelaskan kepadamu, Allah berfirman:

“berdo`alah kepada Robb mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas”. (Al a`rof:55)

apakah berdo`a itu adalah beribadah kepada Allah atau bukan?

Abd Al-Nabi:
Benar, berdo`a itu adalah sumber ibadah, seperti dalam hadits:

”Do`a itu adalah ibadah”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Abdullah:
Sekali lagi anda mengakui bahwa berdo`a adalah ibadah kepada Allah, lantas anda berdo`a kepada Allah setiap hari, siang dan malam karena rasa takut (dari azab Nya) dan dengan harap agar keperluan anda terpenuhi, kemudian anda juga berdo`a kepada nabi, malaikat, dan wali waliyang berada dalam kuburannya untuk keperluan yang sama, apakah anda telah mempersekutukan Allah dalam ibadah ini?

Abd Al-Nabi:
ya, aku telah mempersekutukan Allah, dan ini adalah perkataan yang benar dan jelas.

Abdullah:
ini contoh yang lain,apabila andamengetahui firman allah:

“Maka sholatlah bequrbanlah untuk Rabb mu”. (Alkautsar:2)

Lalu menaati Allah dengan berqurban untuk Nya, apakah qurbanmu merupakan ibadah kepada Nya atau bukan?

Abd Al-Nabi:
Ya, itu merupakan suatu ibadah.

Abdullah:
jika anda menyembelihnya untuk seorang makhluk, seperti nabi, jin, atau lainnya beserta Allah, apakah anda menyekutukan Allah dalam ibadah ini?

Abd Al-Nabi:
Ya, itu merupakan suatu kesyirikan dan hal itu tak diragukan lagi kesyirikannya.

Abdullah:
Saya telah memberimu contoh dengan hal do`a dan qurban, karena do`a adalah jenis ibadah ucapan yang paling dikuatkan dan qurban merupakan jenis ibadah perbuatan yang paling dikukuhkan. Ibadah itu bukan hanya sebatas dua jenis itu saja, tetapi lebih umum lagi, termasuk didalamnya : Nadzar, sumpah, minta pelindungan dan pertolongan, dan lainnya. Namun orang orang musyrik yang diturunkan Alqur`an kepada mereka, apakah mereka dulu beribadah kepada malaikat, orng sholeh atau kepada lainnya?.

Abd Al-Nabi:
Ya, mereka melakukan itu.

Abdullah:
Apakah mereka melakukan hal itu dalam perkara do`a saja? Kalau tidak demikian, maka mereka telah mengakui bahwa mereka adalah hamba Allah, berada dibawah kekuasaan Nya, dan mengakui bahwa Allah lah yang mengatur segala urusan, namun mereka berdo`a dan berlindung kepada semua itu; karena kehormatan dan syafaat, hal ini nyata sekali.

Abd Al-Nabi:
Wahai Abdullah, apakah anda mengingkari syafaat Rosulullah saw dan berlepas diri dari padanya?

Abdullah:
Tidak, saya tidak mengingkarinya,juga tidak berlepas diri dari padanya, bahkan Beliau – aku tebus beliau dengan ibu dan bapakku- adalah yang memberi syafaat dan yang diberi izin untuk memberi syafaat saw, saya mengharapkan syafaatnya namun demikian syafaat itu milik Allah, seperti firman Nya:

“Hanya milik Allah lah syafaat itu semuanya”(Az zumar:44).

Dan syafaat itu tidaklah berlaku kecuali atas kehendak dan izin Allah, sebagai man fiman Nya:

“Siapakah yang dapat memberikan syafaat disisi Allah tanpa izin Nya”. (Al baqoroh:255)

Juga tidak bisa diberikan kepada seseoang kecuali atas izin Allah, Allah berfirman:

“Dan mereka tidak dapat memberikan syafaat melainkan kepada orang orang yang diridhoi oleh Allah”. (Al Anbiya:28)

Dan Allah tidaklah meridhoi kecuali untuk hamba hamba Nya yang menjalankan dan mengamalkan tauhid secara benar, sebagai man firman Allah:

“ Barang siapa yang mencari Agama lain Agama Islam, maka sekali kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan di akhirat kelak termasuk orang orang yang merugi”. (Al Imron:85)

Apabila syafaat itu semua milik Allah, dan tidak diberikan kecuali atas izin dari Nya, juga nabi Muhammad saw atau yang lainnya tak akan bisa memberikan syafaat, sehingga Allah mengizinkannya, dan Allah tidak akan memberikan syafaat dan juga tak akan memberikan izin nabi dalam syafaat Nya, kecuali hanya diperuntukkan bagi pelaku Tauhid. Dengan demikian, jelas sudah bahwa syafaat itu hanya milik Allah mutlak seluruhnya, maka dari itu aku akan memintanya kepada Allah, dan aku katakan:

“Ya Allah, janganlah Engkau haramkan atas kami untuk mendapatkan syafaat Mu, Ya Allah izinkanlah Beliau (nabi saw) memberikan syafaat padaku”.

Abd Al-Nabi:
Kita telah sepakat, bahwasanya tidak boleh meminta sesuatu kepada orang yang tidak memilikinya. Adapun nabi Muhammad saw, Allah telah memberinya syafaat, oleh karena itu ia telah memiliknya, maka aku dapat meminta kepada Beliau apa yang beliau miliki, hal itu bukan syirik.

Abdullah:
“Ya, ini perkataan yang benar kalau sekiranya Allah tidak melarangmu, Allah berfirman:

“Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun disamping Allah”. (Aljin:18)

Meminta syafa`at sama halnya dengan berdo`a, dan yang memberikan syafa`at kepada Nabi saw adalah Allah dan Dia juga lah yang melarangmu untuk meminta syafa`at kepada siapa pun selain kepada Nya. Syafa`at juga diberikan kepada selain Nabi saw. Dalam suatu riwayat yang shahih disebutkan, bahwa para malaikat memberikan syafa`at, anak anak kecil yang meninggal dunia sebelum akil baligh, dan para wali juga memberikan syafa`at. Apakah anda akan mengatakan: sesungguhnya Allah telah memberikan syafa`at kepada mereka, lantas aku akan meminta kepada mereka. Jika anda mengatakan hal itu, maka anda kembali beribadah kepada orang shaleh, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al qur`an, dan jika anda katakana: tidak, maka perkataan anda yaitu: (Allah telah memberinya syafa`at dan aku meminta kepadanya bagian apa yang telah diberikan kepadanya) tidaklah benar.

Abd Al-Nabi:
“Tapi saya tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Dan berlindung kepada orang shaleh yang telah mati bukanlah syirik”

Abdullah:
“Apakah anda meyakini bahwa Allah mengharamkan syirik, dan dosanya lebih besar dari pada zina dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik?”

Abd Al-Nabi:
“Ya, saya mengakui itu, dan jelas sekali dalam firman Allah.”

Abdullah:
“Sekarang anda telah menafikan syirik yang telah Allah haramkan dari dirimu, bisakah anda menjelaskan kepadaku, mempersekutukan Allah yang anda belum terjatuh kedalamnya, dan anda telah menafikannya dari diri anda?”

Abd Al-Nabi:
“Syirik itu adalah menyembah kepada patung, menghadap, meminta dan takut kepadanya”

Abdullah:
“Apa maksudnya beribadah kepada patung? Apakah anda mengira bahwa orang orang kafir Quraisy meyakini bahwa kayu kayuan dan batu batu yang mereka pahat menjadi patung dapat menciptakan, memberi rizqi, dan mengatur urusan orang yang berdo`a kepadanya? Mereka sama sekali tidaklah meyakini hal itu, seperti yang telah saya sampaikan kepadamu”

Abd Al-Nabi:

“Saya juga tidak meyakini hal itu, akan tetapi orang yang mendatangi kayu, batu, bangunan diatas kubur, atau hal lainnya, menyerunya dan menyembelih untuknya, dia berkata: “hal ini akan mendekatkan kami kepada Allah sedekat dekatnya, dan Allah akan menjauhkan kami dari bahaya karena keberkahannya. Inilah yang saya maksud menyembah patung.”

Abdullah:
“Anda benar, Akan tetapi inilah perbuatan kalian pada bebatuan, bangunan bangunan, dan kubah yang ada diatas kubur, atau lainnya. Juga anda katakan: syirik adalah beribadah kepada patung, apa maksudmu dikhususkan kepada orang yang melakukan hal itu saja? Adapun bersandar diri kepada orang shaleh yang telah tiada, dan berdo`a kepadanya tidak dikategorikan syirik”

Abd Al-Nabi:
“Ya, inilah yang saya maksudkan.”

Abdullah:
“Jadi, dimana posisi anda dari ayat ayat yang telah saya sampaikan tentang haramnya bersandar kepada Nabi, dan orang orang shaleh serta bergantung kepada para malaikat dan lainnya, dan tentang kufurnya orang yang melakukan hal tersebut? Seperti yang telah saya sampaikan dan tunjukkan dalil dalilnya kepada anda.”

Abd Al-Nabi:
“Akan tetapi orang yang berdo`a kepada Nabi, malaikat dan orang orang shaleh tidaklah menjadikan dirinya kafir, mereka menjadi kafir karena mengatakan sesungguhnya para malaikat itu adalah anak perempuan Allah, dan Al-Masih adalah anak Allah, sedangkan kita tidak mengatakan Abdul Qadir Al-zaelani anak Allah, dan juga tidak mengatakan Zaenab anak perempuan Allah.”

Abdullah:
“Menisbatkan anak kepada Allah adalah kekufuran tersendiri. Allah berfirman:

“katakanlah: “Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada Nya segala sesuatu. Dia Allah tidaklah melahirkan dan juga tidak diperanakkan”. (Al Ikhlas:1-3)

Kata kata Al Ahad (Yang Maha Esa) artinya: tiada tandingan bagi Nya, dan Ash shomad artinya Yang Dituju untuk dimintai segala kebutuhan. Siapa saja mengingkari hal ini, maka ia kafir, meskipun tidak pernah mengingkari surat Al Qur`an ini.
Allah berfirman:

“Allah sekali kali tidaklah mengambil anak,dan sekali kali tidak ada Ilah yang lain beserta Nya, kalau ada ilah yang lain Nya, masing masing Ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian Ilah Ilah itu akan mengalahkansebagian yang lainnya”.(Al Mukminun:91)

Jadi bedakanlah antara dua kekufuran itu. Dalil lain dalam hal ini, orang orang yang kafir karena berdo`a kepada berhala Lat, meskipun awalnya Lat adalah orang yang shaleh, namun mereka tidak menjadikannya sebagai anak Allah, begitupun halnya orang orang kafir yang menyembah Malaikat, tidaklah mereka menjadikan Malaikat sebagai anak Allah. Keempat mazhab menyebutkan pada bab bahasan (Hukum orang murtad), seorang Muslim apabila beranggapan bahwa Allah itu memiliki anak, maka ia murtad. Jika ia mempersekutukan Allah maka ia murtad pula, mereka membedakan antara dua hal ini.

Abd Al-Nabi:
“Akan tetapi Allah berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran dalam dirinya dan juga mereka bersedih hati”. (Yunus:62)

Abdullah:
“Kita meyakini hal itu, dan kita juga berpendapat demikian, akan tetapi ibadah tidak kita tujukan kepada mereka. Kita tidak boleh memperuntukkan ibadah dan permintaan kita kepada mereka, adapun kewajiban kita hanyalah mencintai mereka, mengikuti dan mengakui karomah mereka, tidak ada yang memungkiri karomah mereka kecuali ahli bid`ah. Agama Allah adalah penengah antara dua sisi, petunjuk diantara dua kesesatan, dan kebenaran antara dua kebathilan.

Abd Al-Nabi:
“Orang orang yang diturunkan atas mereka Al-qur`an, menolak untuk mengakui bahwa tiada tuhan yang haq selain Allah, mereka mendustai Nabi saw dan mengingkari adanya hari kebangkitan, mendustai Al-qur`an dan mengolok oloknya sebagai sihir, sedangkan kami mengimani Allah dan Nabi Nya,dan juga mengimani Al-qur`an, serta mengimani hari akhir, dan kami juga melaksanakan sholat, puasa, jadi bagaimana mungkin saudara menyamakan kami dengan mereka?”

Abdullah:
“Namun semua ulama sepakat, apabila seseorang mempercayai Nabi pada satu hal tapi mendustainya pada hal yang lainnya, maka dia itu kafir, bukan lagi bagian dari orang muslim. Begitu juga halnya apabila ia beriman kepada sebahagian Al-qur`an dan mengingkari sebahagian yang lainnya, seperti orang yang mengimani tauhid tapi mengingkari kewajiban sholat, atau mengimani tauhid dan juga melaksanakan sholat, tapi enggan berpuasa, atau ia mengimani itu semua, tapi ia mengingkari ibadah haji. Ketika pada zaman Nabi saw segelintir orang tidak mau tunduk untuk melaksanakan ibadah haji, maka Allah menurunkan ayat:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, (yaitu) bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta” (Ali Imron:97)

Apabila ia mengingkari adanya hari kebangkitan, maka kafir secara ijma`. Oleh karena itu Al-qur`an menjelaskan dengan terang, bahwa siapa sajaberiman dengan sebagian dan kafir dengan sebagian yang lain, maka dia benar benar telah kafir. Allah memerintahkan untuk mengambil ajaran Islam secara keseluruhan. Siapa saja mengambil sesuatu dan meninggalkan sesuatu yang lain dari isi Al-qur`an, maka sungguh ia telah kafir. Apakah anda mengaakui bahwa orang yang beriman dengan sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain adalah kafir?

Abd Al-Nabi:
“Ya, saya mengakui itu. Dan jelas sekali dalam firman ayat Al-qur`an yang mulia.

Abdullah:
“Jika anda yakin bahwa orang yang mempercayai Rosulullah saw dalam sesuatu hal dan mengingkari kewajiban sholat, atau mengakui kewajiban itu semuanya kecuali hari kebangkitan, maka ia telah kafir,darah danhartanya halal berdasarkan ijma` semua mazhab, dan Al-qur`an telah mengatakannya seperti yang telah saya utarakan tadi. Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tauhid itu kewajiban yang paling besar yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw, tauhid lebih agung dari sholat, zakat, dan haji, jadi bagaimana mungkin mengingkari salah satu dari perkara perkara ini menjadi kafir, meskipun dia melaksanakan seluruh yang di bawa oleh Nabi saw, lalu apabila ia mengingkari tauhid yang merupakan agama seluruh Nabi dia tidak menjadi kafir? Maha suci bagi Allah, betapa anehnya kebodohan ini.

Coba perhatikan shahabat shahabat Rosul saw tatkala mereka memerangi bani hanifah di Yamamah. Mereka yang diperangi itu sudah masuk Islam bersama Nabi saw, bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, dan mereka melaksanakan sholat dan mengumandangkan Adzan.

Abd Al-Nabi:
“Tapi mereka mengangkat Musailamah Al kadzab adalah seorang Nabi, sementara kami mengatakan: “Tidak ada Nabi setelah Nabi saw”.

Abdullah:
“Akan tetapi kalian mengangkat Ali, Abdul Qadir, atau yang lainnya dari kalangan Nabi dan malaikat kepada tingkatan penguasa langit dan bumi. Apabila mengangkat seseorang kepada tingkat kenabian saja menjadi kafir, harta dan darahnya menjadi halal, syahadat dan sholatnya pun tak bisa menolong mereka. Maka orang yang mengangkat seseorang makhluk setara dengan Allah lebih kafir lagi. Begitu juga orang orang yang dibakar oleh Ali dengan api, kesemuanya mengaku beragama islam, semuanya adalah pengikut Ali, dan belajar dari shahabat, akan tetapi mereka berkeyakinan kepada Ali seperti keyakinan kalian kepada abdul Qadir dan yang lainnya. Bagaimana para shahabat sepakat untuk membunuh dan mengkafirkan mereka? Apakah anda mengira bahwa para shahabat itu telah mengkafirkan seorang muslim? Atau anda mengira bahwa berkeyakinan kepada seorang sayyid dan semisalnya tidak membahayakan aqidah anda, dan berkeyakinan kepada Ali itu kafir?

Dikatakan juga: “Apabila orang orang yang terdahulu tidak dikafirkan kecuali karena mereka menggabungkan antara syirik dan pendustaan kepada Rosulullah saw dan Al-qur`an, dan juga mengingkari hari pembalasan dan lainnya, lantas apa maksud dari bab bahasan yang disebutkan oleh ulama setiap mazhab “bab hukum murtad”, yaitu orang Islam yang kafir setelah Islam, kemudian mereka menyebutkan banyak hal, setiap jenis dari hal itu bisa mengkafirkan, dan menjadikan halal darah dan harta mereka, sampai sampai mereka menyebutkan banyak hal hal sepele bagi yang mengerjakannya, seperti ucapan kebencian kepada Allah, diucapkan dengan lisan tanpa meyakininya dalam hati, ia mengucapkannya sambil bercanda dan main main, begitu juga seperti orang orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman Nya:

“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat ayat Nya dan Rosul Nya, kamu selalu berolok olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir setelah beriman” (At taubah:65-66)

Mereka yang dikatakan oleh Allah secara terang terangan kafir satelah beriman dalam ayat tersebut diatas, adalah orang orang yang bersama Rosul saw ketika perang Tabuk, mereka mengatakan suatu kalimat, dan disebutkan pula mereka mengatakannya sambil bercanda.
Dan dikatakan juga:

“Apa yang dikisahkan Allah tentang Bani Isro`il, dengan segala keislaman, ilmu pengetahuan dankeshalehan yang mereka miliki, mereka berkata kepada Nabi Musa: “Buatkanlah bagi kami sesembahan”, dan juga perkataan beberapa shahabat Nabi saw: “Jadikanlah untuk kami pohon untuk menggantungkan senjata kami (agar dapat berkahnya), maka Roslullah saw bersumpah bahwa ucapan ini sama dengan perkataan umat Nabi Musa: “Buatkanlah bagi kami sebuah sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberaapa sembahan” (Al A`raf:138)

Abd Al-nabi:
“Akan tetapi Bani Isro`il dan orang yang meminta kepada Nabi saw agar dibuatkan Dzatu anwath (pohon untuk menggantungkan senjata) tidak dikafirkan karena hal itu”

Abdullah:
“Jawabnya bahwa Bani Isro`il dan orang yang meminta kepada Nabi saw belum melakukannya, andai saja Bani Isro`il melakukan hal itu, pastilah mereka menjadi kafir, dan juga orang orang yang dilarang oleh Nabi saw jika mereka tidak mentaati beliau, dan membuat Dzatu anwath (pohon untuk menggantungkan senjata) setelah larangan Beliau, pastilah mereka menjadi kafir”

Abd Al-Nabi:
“Tapi saya mempunyai permasalahan yang lain, yaitu kisah Usamah Bin Zaid. Tatkala beliau membunuh orang yang mengucapkan: “Laa ilaha illallah”, Nabi Muhammad saw mengingkarinya, Beliau berkata: “wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan: “Laa ilaha illallah”? dan sabda Nabi saw yang lain: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan “Laa ilaha illallah”.

Bagaimanakah cara engkau memadukan antara apa yang engkau sampaikan dengan Hadits tadi? Tolong terangkan kepadaku, semoga Allah memberimu petunjuk.”

Abdullah:
“Kita tahu bahwa Nabi saw telah memerangi orang Yahudi, dan menjadikan mereka sebagai budak, sedangkan mereka mengatakan “Laa ilaha illallah”, begitu juga para shahabat memerangi Bani Hanifah, sedangkan mereka juga mengucapkan “Laa ilaha illallah”, dan Muhammad adalah utusan Allah, dan berpuasa, begitu juga halnya orang yang dibakar oleh Ali Bin Abi Tholib.
Anda mengakui, bahwa orang yang mengingkari hari kebangkitan adalah kafir, dan halal untuk dibunuh, meskipun ia mengucapkan “Laa ilaha illallah”. Juga mengakui bahwa siapa saja yang mengingkari salah satu rukun Islam maka ia kafir dan halal untuk dibunuh meskipun ia mengucapkan “Laa ilaha illallah”. Jadi bagaimana mungkin kalimat syahadat itu bermanfaat baginya jika ia dia mengingkari salah satu furu` (cabang) tauhid, yang merupakan pokok (sendi) agama para Rosul dan Nabi?, mungkin anda belum paham tentang makna hadits ini.

Adapun hadits Usamah, sesungguhnya ia membunuh seseorang yang mengaku masuk islam; karena Usamah mengira bahwa orang tersebut tidaklah mengucapkan Syahadat, kecuali karena ia khawatir terhadap darah dan hartanya. Seseorang yang mengaku Islam tidak boleh di apa apakan, sampai tampak jelas dari dirinya sesuatu yang bertentangan dengan hal itu. Allah berffirman:

“Hai orang orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) dijalan Allah, maka telitilah” (An nisa:94)

Artinya: Hati hatilah dalam menentukan. Ayat diatas menunjukan sikap menahan diri, dan berhati hati. Jika tampak jelas setelah itu, maka sesuatu yang bertentangan dengan Islam, harus dibunuh; karena Allah berfirman: “telitilah”. Seandainya dia tidak dibunuh jika mengucapkan shahadat, maka tidak ada artinya untuk bersikap hati hati.

Begitu juga dengan hadits yang lainnya, artinya sama seperti yang saya telah sebutkan, bahwa orang yang memperlihatkan tauhid dan keislamannya, maka harus dilindungi kecuali jika sudah jelas darinya sesuatu yang bertentangan dengan hal itu. Dalilnya adalah bahwa Rosulullah saw bersabda:

“Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa ilaha illallah?”

dan beliau bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan Laa ilaha illallah”, beliau juga bersabda tentang kaum Khawarij: “Dimanapun kau temui mereka, maka bunuhlah mereka”,

padahal mereka adalah orang yang paling banyak beribadah dan bertahlil, sampai sampai para shahabat merasa rendah diri saat melihat ibadah mereka, mereka pun belajar ilmu dari para shahabat, namun kalimat “Laa ilaha illallah” tidak bisa melindungi mereka dari pembunuhan yang diperintahkan oleh Nabi saw, begitu juga ibadah yang banyak, dan pengakuan sebagai seorang Muslim,tidak dapat menyelamatkan mereka dari fatwa Nabi, karena sesuatu yang bertentangan dengan syari`at tampak jelas dalam diri mereka.

Abd Al-Nabi:
“Apa komentarmu tentang Hadits Nabi saw yang shahih, bahwa pada hari kiamat nanti manusia akan meminta pertoolngan kepada Nabi Adam, kemudian kepada Nabi Nuh, kemudian kepada Nabi Ibrohim, kemudian kepada Nabi Musa, kemudian kepada Nabi Isa. Tetapi para Nabi itu tidak bisa memberikan pertolongan, sampai terakhir kepada Nabi Muhammad saw. Ini menunjukkan bahwa Istighotsah (minta tolong) kepada selain Allah bukan musyrik.

Abdullah:
“Anda keliru tentang hakikat masalah ini. Kita tidak mengingkari istighotsah kepada makhluk yang masih hidup dan hadir dihadapannya dalam hal halyang disanggupi. Sebagaimana firman Allah:

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan musuhnya” (Al qoshosh:15)

Sama seperti orang meminta tolong kepada temannya, baik dalam berperang atau lainnya dalam perkara perkara yang mampu dilakukannya. Kita mengingkari istighotsah dalam hal ibadah yang kalian lakukan pada kuburan para wali atau saat mereka tidak ada dihadapan kalian dalam perkara yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali hanya Allah. Adapun pada hari kiamat, manusia beristighotsah kepada para Nabi, agar para Nabi berdo`a kepada Allah supaya segera menghisab manusia, sehingga penduduk Jannah dapat beristirahat dari kesusahan situasi pada saat itu. Perbuatan seperti ini boleh dilakukan di dunia dan di akhirat, dengan cara anda mendatangi orang sholeh, duduk dihadapannya dan dia mendengar ucapan anda, lantas anda katakana kepadanya: “Do`akanlah aku kepada Allah”, sebagai mana shahabat Nabi saw meminta kepada beliau semasa Beliau masih hidup. Adapun setelah Beliau sudah wafat, sama sekali tidak boleh. Karena itu mereka tidak meminta kepada beliau pada kuburannya, bahkan para salaf mengingkari orang yang sengaja berdo`a kepada Allah pada kuburan beliau.

Abd Al-Nabi:
“Apa komentarmu tentang kisah Nabi Ibrohim, tatkala Ia dilempar kedalam api unggun, lalu jibril menghadangnya diatas udara seraya berkata: “Apakah kamu punya keperluan?” Ibrohim menjawab: “Adapun kepada kamu, tidak” Kalau seandainya ber-istighotsah kepada Jibril adalah syirik, tentu Jibril tidak akan menawarkannya kepada Ibrohim”

Abdullah:
“Ini adalah syubhat yang sama seperti syubhat yang pertama. Riwayat ini tidak shohih. Kalupun kita anggap shohih, maka sesungguhnya Jibril menawarkan kepada Ibrohim untuk memberikan manfaat kepadanya dengan hal hal yang dia sanggupi untuk melakukannya, hal ini seperti firman Allah:

“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat” (An najm:5)

Sekiranya Allah mengizinkan Jibril untuk mengambil api Nabi Ibrohim, dan benda benda yang ada disekitarnya baik itu berupa gunung, atau bumi, lantas melemparnya ke timur dan ke barat,maka hal itu mampu dilakukan oleh Jibril. Hal itu seperti orang kaya yang menawarkan bantuan kepada orang yang membutuhkannya, baik itu berupa harta atau hal lainnya, lantas orang itu menolaknya dan bersabar sampai Allah memberinya rizki, tanpa ada pertolongan dari siapapun. Jadi bagaimana mungkin hal ini dibandingkan dengan istighotsah dalam hal ibadah dan syirik yang anda lakukan pada saat ini?

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya orang orang terdahulu yang Nabi saw diutus ke tengah tengah mereka, tingkat kesyirikannya lebih ringan daripada masyarakat zaman kita sekarang ini, karena 3 hal:

Pertama: Mereka, orang terdahulu, tidak mempersekutukan Allah dengan yang lainnya kecuali dalam kondisi sejahtera. Adapun dalam kondisi kesusahan, mereka memurnikan agama itu kepada Allah, berdasarkan firman Allah:

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo`a kepada Allah dengan memurnikan agama Allah; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai darat, tiba tiba mereka (kembali) mempersekutukan Allah” (Al ankabut:65)

Orang musyrik yang diperangi oleh Rosulullah saw berdo`a kepada Allah dan kepada selain Nya pada saat kondisi sejahtera. Adapun pada saat kesusahan, mereka tidaklah berdo`a kecuali hanya kepada Allah dan mereka lupa kepada sayyid sayyid mereka. Adapun orang musyrik zaman sekarang, mereka menyeru selain Allah dalam kondisi sejahtera dan kesusahan, ia berkata: “wahai Rosulullah, wahai Husain, wahai Ali, dan lain lain”. Dimanakah orang yang dapat memahami hal itu?

Kedua: Orang orang musyrik yang terdahulu, mereka mengambil Tuhan lain beserta Allah, baik itu berupa malaikat maupun makhluk Allah yang mereka anggap suci. Sedangkan orang musyrik zaman kita sekarang ini mengambil Tuhan lain beserta Allah bukan hanya berupa malaikat maupun makhluk Allah yang dianggap suci, selain dari itu, mereka juga mengambil orang yang pasiq sebagai Tuhan selain Allah.

Ketiga: Semua orang musyrik pada zaman terdahulu, kemusyrikan mereka hanya sebatas kemusyrikan Uluhiyah saja, tidak sampai kepada kemusyrikan dalam bentuk Rububiyah, sedangkan orang musyrik pada zaman sekarang ini telah mencapai pada tingkatan kemusyrikan Rububiyah, misalnya mereka menganggap bahwa ala mini adalah yang mengatur semesta dalam hal menghidupkan, mematikan dan sebagainya.

Kiranya, saya akan mengakhiri pembicaraan saya ini dengan menyinggung satu permasalahan besar yang anda pahami dengan apa yang telah saya sebutkan tadi, yaitu: bahwasanya tidak ada perbedaan bahwa tauhid itu haruslah keyakinan hati, ucapan lidah dan melakukan dengan perbuatan anggota tubuh. Apabila salah satu dari hal itu rusak, maka seseorang itu tidak menjadi Muslim. Jika ia mengetahui tauhid, akan tetapi tidak mengamalkannya, maka ia kafir yang keras kepala, seperti Fir`aun dan Iblis.

Banyak sekali orang yang tergelincir dalam hal ini, mereka berkata: “ ini benar, akan tetapi kita tidak bisa melakukannya, penduduk Negeri atau penguasa Negeri ini melarang hal itu, kita harus setuju dan rela menjadi penjilat bagi mereka; karena takut akan kejahatan mereka. Orang yang rendah yang mengatakan hal ini tidak tahu bahwa mayoritas tokoh orang kafir mengetahui kebenaran ini, dan mereka sama sekali tidak meninggalkannya kecuali hanya adanya suatu alasan. Seperti fiman Allah:

“Mereka menukar ayat ayat Allah dengan harga yang sangat murah sekali, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah, sungguh amat buruk apa yang mereka lakukan itu” (At taubah:9)

Jika orang mengamalkan tauhid secara dhahirnya saja, akan tetapi tidak meyakini dan memahami dengan hatinya, maka ia termasuk orang yang munafik, dan lebih jahat dari pada orang kafir murni, firman Allah:

“sesungguhnya orang orang munafiqin itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali kali tidak akan mendapatkan penolong bagi mereka” (An nisa:145)

Namun demikian , anda harus memahami dua ayat dari Kitabullah:
Ayat pertama:

“Tidak usah kamu meminta maaf, sebab kamu telah kafir setelah beriman” (At taubah:66)

Apabila anda telah mengetahui bahwa orang orang yang ikut berperang bersama Nabi dalam memerangi Bangsa Rum telah menjadi kafir; disebabkan oleh ucapan mereka yang diucapkan secara main main dan bercanda, maka akan semakin jelas bagi anda bagaimana posisi orang yang mengucapkan kekufuran lantaran takut hartanya berkurang, atau lantaran posisinya sebagai ustadz dimasyarakat akan terganggu apabila ia memahami tauhid secara benar, maka sungguh ia telah membenarkan syaitan dengan janjinya:

“Syaitan menjanjikan (menakut nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu untuk berbuat kekikiran (kejahatan)” (Al baqoroh:268)

Dan merasa takut akan ancamannya:

“sesungguhnya syaitan itu menakut nakuti kamu dengan kawan kawannya” (Ali-Imron:175)

Ayat kedua:

“Barang siapa yang kafir setelah ia beriman kepada Allah (dia akan mendapatkan murka Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman, akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpahnya dan baginya azab yang besar” (An nahl:107)

Setelah semua ini, bukankah sudah saatnya bagi anda- semoga Allah memberikan hidayah Nya kepadamu, untuk bertaubat dan kembali kepada Allah, meninggalkan kondisi anda sekarang ini, perkaranya- seperti yang anda dengar- benar benar berbahaya, dan permasalahannya besar sekali, serta keadaannya sangat mengkhawatirkan.

Dan ingatlah beberapa kemungkaran yang banyak dilakukan oleh masyarakat umum:

1. janganlah mengikuti hawa nafsu, karena Allah telah mengingatkan lewat firman Nya:

“Maka pernahkah kamu melihat orangorang yang mengambil hawa nafsunya sebagai ilahnya?” (Al jatsiyah:23)

2. janganlah engkau fanatik terhadap golongan dan pendapat nenek moyangmu, tanpa memperdulikan kesalahan yang ada padanya, sehingga akan menghalangimu untuk mendapatkan hidayah dari Allah.

3. Janganlah kau meniru niru perilaku orang orang kafir, karena hal itu merupakan awal dari bencana yang tidak akan pernah kau sadari.

4. engkau bertawakal kepadaa selain Allah.

5. engkau taat kepada manusia dalam kemaksiatan.

6. Janganlah berburuk sangka terhadap Allah.

7. Janganlah engkau memakai benda sebagai jimat untuk menolak bala.

8. Janganlah engkau meminta berkah kepada makhluk Allah yang sudah mati.

9. Janganlah engkau merasa bernasib sial, sebab segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah.

10. Janganlah engkau mendatangi tukang sihir ataupun tukang tenung.

11. Janganlah bersumpah atas nama selain nama Allah.

12. Janganlah engkau mencaci maki cuaca, alam, hujan ataupun makhluk Allah lainnya.

13. Janganlah menjadikan kuburan sebagai masjid, sebagaimana yang dilakukan oleh orang orang Yahudi dan Nashrani.

14. Janganlah mempercayai hadits hadits yang diriwayatkan para pendusta dan dinisbatkan kepada Rosulullah saw.

15. Janganlah merayakan apa yang disebut sebut hari hari besar keagamaan, seperti: Maulid Nabi, Isra` dan mi`raj, malam pertengahan (nisyfu) bulan sya`ban, dan yang lainnya. Perayaan seperti itu merupakan hal hal yang baru, tidak ada dasar hukumnya dari Rosulullah saw, dan juga tidak pernah dilakukan oleh shahabat Rosul, yang kecintaan mereka terhadap Rosul sangat besar melebihi cinta kita kepada Rosulullah. Seandainya saja hal itu merupakan sebuah kebaikan tentulah mereka telah mendahului kita untuk melakukannya.

16. Janganlah menjadikan masalah masalah khilafiyah sebagai perdebatan yang akhirnya menyebabkan fitnah, dan jangan pula lemah dalam mempertahankan masalah yang sudah ditetapkan kebenarannya oleh Allah,serta jangan pula melemahkan hati untuk terus berusaha mengamalkan tauhid sesuai dengan fitroh dan kemurnian Islam yang dibawa oleh Nabi saw.